Feature

Solidaritas yang Menyentuh: Ketika Muhammadiyah Hadir sebagai Keluarga

32
×

Solidaritas yang Menyentuh: Ketika Muhammadiyah Hadir sebagai Keluarga

Sebarkan artikel ini
Di tengah Kejurprov Panahan 2025, Naura, atlet termuda dari Lumajang, mendapat kejutan: dikunjungi relawan MDMC Jatim dan Ketua PDNA Pacitan. Bukti solidaritas Muhammadiyah yang hangat dan nyata.
Aris Nurhadi, relawan MDMC Jatim, bersama anak perempuannya (kiri) dan Naura Dwi Ayuningtyas, di Pacitan, Senin (13/5/2025) (Tagar.co/Arif Hadiansyah)

Di tengah Kejurprov Panahan 2025, Naura, atlet termuda dari Lumajang, mendapat kejutan: dikunjungi relawan MDMC Jatim dan Ketua PDNA Pacitan. Bukti solidaritas Muhammadiyah yang hangat dan nyata.

Tagar.co – Di tengah gemuruh Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) Panahan Junior 2025 yang digelar di Komplek Lapangan Panahan Stadion Pacitan, Jawa Timur, 5–14 Mei, satu sosok mungil dari Lumajang menarik perhatian. Ia adalah Naura Dwi Ayuningtyas, siswi kelas 5 SD Kreatif Muhammadiyah Lumajang, sekaligus atlet termuda dalam kontingen panahan dari daerahnya.

Meski masih duduk di bangku sekolah dasar, semangat dan ketekunan Naura tak kalah dari para atlet remaja lainnya. Namun, jauh dari keluarga selama kompetisi bukan perkara mudah, terlebih bagi anak seusianya. Maka tak heran jika kunjungan dua organisasi besar Muhammadiyah menjadi momen yang begitu mengharukan baginya.

Baca juga: Naura, Atlet Termuda Lumajang yang Tampil Mandiri di Kejurprov Panahan

Senin (13/5/2025), pukul 10.00 WIB, perwakilan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Jawa Timur datang langsung menjenguk Naura di sekitar tempat tinggalnya sementara, tak jauh dari arena kejuaraan. Aris Nurhadi, salah satu relawan MDMC Jatim, hadir membawa dukungan moril dan kepedulian.

Baca Juga:  Rakerda Lazismu Bakorwil 3 Digelar di Situbondo

Tak berselang lama, pukul 16.30 WIB, giliran Ketua Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) Pacitan, Diajeng Diah, datang menyapa Naura di Pantai Pancer Dorr. Obrolan hangat pun terjadi di antara mereka, menegaskan bahwa kehadiran organisasi bukan sekadar formalitas, tetapi bentuk nyata dari kasih sayang dan solidaritas.

Ketua PDNA Pacitan Diajeng Diah bersama Naura Dwi Ayuningtyas di Pacitan, Senin (13/5/2025) (Tagar.co/Arif Hadiansyah)

Naura mengaku sangat tersentuh. Di tengah kondisi jauh dari orang tua, perhatian dari dua tokoh organisasi itu serasa menjadi pelukan yang menguatkan.

“Saya benar-benar senang. Mereka seperti orang tua sendiri. Hadir untuk menguatkan saya di saat seperti ini,” ujarnya dengan mata berbinar.

Menurut Aris Nurhadi, kehadiran pihaknya merupakan bagian dari tanggung jawab moral MDMC dalam merawat anggotanya.

“Kami ingin Naura tahu bahwa dia tidak sendirian. Kami di sini, satu keluarga besar yang selalu siap mendukung,” tegas Aris.

Hal serupa disampaikan Diajeng Diah. Ia bahkan menyatakan akan terus mendampingi Naura hingga hari pertandingan.

“Saya sudah bilang ke dia, insyaallah saya akan menemani dia saat pertandingan nanti. Ini bagian dari komitmen Nasyiah untuk hadir bukan hanya saat susah, tapi juga saat penting dalam hidup kader,” katanya.

Baca Juga:  Lomba Tahfiz MI Tempeh Lor, Siswa Hafalan sambil Menangis

Kunjungan MDMC dan PDNA menjadi bukti bahwa jaringan organisasi Muhammadiyah dan Nasyiatul Aisyiyah bukan hanya struktur birokratis, melainkan ruang pertumbuhan yang hangat, saling menjaga, dan menguatkan. Bagi Naura, perhatian tulus itu menjadi energi baru untuk terus melangkah.

Semangat seperti inilah yang membuat Muhammadiyah dan Nasyiatul Aisyiyah terus relevan: bukan hanya karena program kerja yang berjalan, tetapi karena kehadiran nyatanya dalam kehidupan para anggotanya—terutama saat sedang membutuhkan dukungan. (#)

Jurnalis Umi Fauzia Yuniarsih Penyunting Mohammad Nurfatoni