Feature

Menjaga Fitrah lewat Telinga, Mata, dan Hati

45
×

Menjaga Fitrah lewat Telinga, Mata, dan Hati

Sebarkan artikel ini
Suasana Pengajian Ahad Pagi Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kecamatan Menganti, di halaman Masjid Al-Islah Sidowungu, Menganti, Gresik, Jawa Timur, Ahad, 11 Mei 2025 (Tagar.co/Nadhirotul Mawaddah).

Manusia diciptakan dengan fitrah dan dibekali alat luar biasa: pendengaran, penglihatan, dan hati. Pengajian Ahad Pagi di Menganti Gresik mengajak jemaah menyadari dan mensyukuri semuanya.

Tagar.co – Udara pagi yang sejuk di halaman Masjid Al-Islah Sidowungu, Menganti, Gresik, Jawa Timur, Ahad (11/5/2025), menjadi saksi hadirnya ratusan warga Muhammadiyah dalam Pengajian Ahad Pagi. Namun, di tengah persiapan itu, sebuah perubahan mendadak terjadi.

Ir. Misbahul Huda, MBA., yang dijadwalkan menjadi pemateri, batal hadir lantaran ibundanya mendadak terkena serangan jantung. Di tengah situasi tersebut, Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kecamatan Menganti, Nur Syamsi, S.Ag., langsung mengambil alih peran sebagai penceramah.

Baca juga: Tiga Pesan Ketua PCM Menganti: Kurban, Masjid Ramah Anak, dan Sekolah Baru

“Ikhlas tidak, Bapak-Ibu?” sapanya ringan di hadapan jemaah.

Serentak, jawaban “ikhlas!” menggema, disambut senyuman hangat dari Nur Syamsi yang kemudian mengawali tausiah dengan tema reflektif: peningkatan kualitas diri manusia melalui pemahaman terhadap fitrah dan potensi yang telah Allah berikan.

Baca Juga:  Haedar Nashir Kritik Gaya Pemimpin Panggung

Fitrah Manusia: Agama dan Ilmu

“Allah menciptakan kita sebagai makhluk yang sempurna, yang memiliki fitrah, yaitu agama dan ilmu,” ujarnya membuka tausiyah.

Menurutnya, sekalipun seseorang mengaku ateis, pada dasarnya dalam dirinya tetap ada keyakinan akan keberadaan Tuhan. Fitrah inilah yang menjadi dasar dari penciptaan manusia, yang dibedakan dari makhluk lain karena dikaruniai akal.

Namun, akal saja tak cukup. “Akal itu kalah oleh keinginan karena manusia memiliki keinginan yang tidak terbatas,” jelasnya. Di sinilah letak pentingnya agama sebagai pengendali. “Agama adalah pelita. Selama kita mengikuti agama, insyaa Allah hidup akan enak.”

Untuk memperkuat argumennya, ia mengutip Surah Al-A’raf 172: qālu balā syahidnā, yang menurutnya menunjukkan bahwa semua manusia pada hakikatnya telah mengakui Tuhan sebelum dilahirkan.

“Bersyukurlah kita berada di lingkungan yang baik. Maka, akal yang kita miliki harus selalu disuluh dengan dīn (agama),” pesannya.

Nur Syamsi kemudian mengajak jemaah merenungkan perjalanan inovasi manusia—bahkan dari hal sederhana seperti kursi. Dari duduk di lantai, ke batu, hingga ke kursi kayu yang lebih ringan dan nyaman. Semua berangkat dari kebutuhan, lalu berpadu dengan akal dan kreativitas.

Baca Juga:  Pengimbasan Bimtek Digitalisasi PAUD di Menganti, Guru makin Adaptif Hadirkan Pembelajaran Inovatif

“Manusia itu luar biasa. Tapi agar tidak dikuasai oleh keinginan, perlu disinari oleh agama,” tegasnya lagi.

Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Kecamatan Menganti menyiapkan sayur gratis untuk para jemaah Pengajian Ahad Pagi di halaman Masjid Al-Islah Sidowungu, Menganti, Gresik, Jawa Timur, Ahad, 11 Mei 2025 (Tagar.co/Nadhirotul Mawaddah).

Tiga Alat Potensial: Telinga, Mata, dan Hati

Selain fitrah, Nur Syamsi menyampaikan bahwa manusia juga dibekali tiga alat potensial, sebagaimana dijelaskan dalam Surah Al-Mulk  23:

“Dialah Zat yang menciptakanmu dan menjadikan bagimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani. (Akan tetapi,) sedikit sekali kamu bersyukur.”

1. Pendengaran (As-Sam’u)

“Manusia diberi dua telinga agar lebih banyak mendengar daripada berbicara,” katanya. Menurutnya, agama mengajarkan pentingnya mendengar yang baik sebagai jendela ilmu.

2. Penglihatan (Al-Absar)

Dengan dua mata, manusia dapat mengamati fenomena alam dan sosial. “Orang yang mampu membaca fenomena sosial, insyaa Allah akan selamat,” tuturnya.

3. Hati (Al-Afidah)

Hati, lanjutnya, adalah pusat kesadaran moral dan spiritual. Menjaga hati berarti menjaga akal—dimulai dari memilih makanan halal dan menjauhi yang haram.

“Jika akal rusak, hati harus ditata. Dan itu hanya bisa dilakukan dengan zikir,” terangnya, sembari mengutip Surah Al-Ahzab ayat 41: yā ayyuhalladzīna āmanu, ẓkurullāha ẓikran katsīrā.

Dengan zikir, hati menjadi tenang, akal terjaga, dan fitrah tetap menyala. Kajian pagi itu pun ditutup dengan ajakan untuk senantiasa bersyukur atas anugerah pendengaran, penglihatan, dan hati yang menjadikan manusia makhluk paling istimewa. (#)

Baca Juga:  Ekoteologi Muhammadiyah: Haedar Nashir Ingatkan Bahaya Dua Kutub Ekstrem

Jurnalis Nadhirotul Mawaddah Penyunting Mohammad Nurfatoni