
Dua bocah MI Mutwo di Desa Campurejo, Gresik, menorehkan prestasi di J-Ismac VI. Lebih dari medali, mereka menunjukkan arti juara sejati: berani melangkah meski tubuh ingin menyerah.
Tagar.co – Pagi itu udara masih lembab ketika langkah kecil Abdullah Azman Najiyya menjejak halaman SMP Jauharul Maknuun Islamic Boarding School, Sidayu, Gresik, Jawa Timur.
Tubuhnya hangat, wajahnya sedikit pucat, namun matanya menyimpan nyala yang tak mudah redup. Di balik senyumnya, tersimpan perjuangan yang tidak semua orang tahu: semalaman ia bergelut dengan demam hingga 38 derajat Celsius.
Ahad itu (23/11/2025), Azmi—panggilan akrab Abdullah Azman Najiyya—siswa kelas 2 MI Muhammadiyah 2 (MI Mutwo) Campurejo, Panceng, Gresik, tidak datang di ajang J-Ismac VI untuk mengeluh. Ia hadir untuk bertarung, bukan melawan orang lain, melainkan melawan rasa sakit di tubuhnya sendiri.
Baca juga: Mimpi Kecil dari Campurejo: Ketika Azmi Mengayuh Harapan ke Jakarta
Ibundanya, Nurul Wakhidatul Ummah, Kepala SMP Muhammadiyah 13 (Hamas School), menahan kekhawatiran. “Saya cukup cemas karena semalam demam hingga 38 derajat, dan selama lomba masih 37. Tapi Azmi tetap ingin ikut. Bahkan minta ikut dua cabang sekaligus,” ujarnya lirih.
Awalnya Azmi hanya didaftarkan untuk lomba Matematika. Namun bocah itu menatap penuh harap, ingin juga berlomba di bidang IPA. Bukan soal gengsi atau piala, tapi soal ingin berjuang bersama teman-temannya yang mayoritas ikut IPA.
Pukul 07.00 WIB, Azmi memasuki ruang lomba Matematika. Dua jam penuh ia menaklukkan angka demi angka. Belum sempat beristirahat, ia melangkah ke ruang lomba IPA pukul 09.00–11.00 WIB.
Saat anak seusianya mungkin mulai lelah, Azmi kembali mengikuti final Matematika pukul 11.00–12.00 WIB. Waktu istirahat hanya sebentar; ia makan seadanya, menunaikan salat, lalu menyiapkan diri untuk final IPA pukul 13.00–14.00 WIB. Tubuh kecil itu terus berjalan, meski demam masih menyelimuti.

Di sisi lain, Rajendra Hamas Daryan, rekan sekelasnya, juga menunjukkan ketekunan luar biasa. Dengan semangat yang tak kalah kuat, ia berhasil menyumbangkan medali perak di cabang IPA untuk madrasah tercinta.
Ibunda Rajendra, dr. Annora Marsha Sunparta, merasa haru dan bangga. “Medali perak ini bukan sekadar prestasi, tapi hadiah manis dari kerja keras, doa, dan kesungguhan. Ini momen yang sangat berharga bagi kami sekeluarga,” ungkapnya.
“Hari itu, nama Hamas menggema dengan lembut namun penuh makna. Medali perak yang ia genggam bukan hanya benda berkilau, melainkan saksi bisu dari doa-doa panjang yang terucap di setiap sujud malam. Di balik senyum polosnya, saya melihat cahaya mimpi yang mulai menyala,” tambah dr. Annora.
Simbol Keteguhan
Ketika nama Azmi diumumkan sebagai peraih medali perak Matematika dan medali perunggu IPA, dan Hamas sebagai peraih perak IPA, haru pun pecah. Lebih dari sekadar kemenangan, itu adalah simbol keteguhan seorang anak yang memilih tidak menyerah pada sakitnya. Momen semakin bersejarah saat medali disematkan langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik, sebagai pengakuan atas perjuangan luar biasa ini.
Bagi MI Mutwo, tiga medali yang dibawa pulang bukan hanya tentang prestasi akademik. Mereka adalah kisah tentang keberanian, tekad yang lahir dari kesederhanaan, dan doa orang tua yang mengiringi langkah anak-anaknya.
Azmi dan Rajendra mengajarkan satu hal sederhana namun mendalam: juara sejati bukan hanya mereka yang berdiri di podium, tetapi mereka yang tetap melangkah ketika tubuh ingin menyerah. Dari ruang-ruang sederhana Desa Campurejo, dua bocah madrasah ini membuktikan bahwa mimpi bisa tumbuh di tengah demam, semangat bisa mengalahkan rasa sakit, dan kisah luar biasa lahir dari ketekunan yang tulus. (#)
Jurnalis Nurkhan Penyunting Mohammad Nurfatoni












