Feature

Aliansi BEM Surabaya Menyala Lagi, Dipimpin Anak Muhammadiyah

40
×

Aliansi BEM Surabaya Menyala Lagi, Dipimpin Anak Muhammadiyah

Sebarkan artikel ini
Peserta Kongres X Aliansi BEM Surabaya di Ubaya

Dalam Kongres X Aliansi BEM Surabaya di Ubaya, Nasrawi dari UM Surabaya terpilih sebagai Koordinator Umum. Gerakan mahasiswa Kota Pahlawan kembali bangkit dengan semangat kolektif dan arah baru perjuangan.

Tagar.co – Di tengah meredupnya gaung konsolidasi mahasiswa lintas kampus dalam beberapa tahun terakhir, secercah harapan kembali muncul dari Kota Pahlawan. Kamis, 24 Juli 2025, aula Universitas Surabaya (Ubaya) menjadi saksi bangkitnya semangat kolektif mahasiswa Surabaya lewat gelaran Kongres X Aliansi BEM Surabaya (ABS).

Forum itu tidak hanya merumuskan arah baru perjuangan mahasiswa, tetapi juga melahirkan kepemimpinan baru. Nasrawi, Presiden BEM Universitas Muhammadiyah Surabaya, resmi terpilih sebagai Koordinator Umum ABS. Sementara Francisco Xavier Senda, Presiden BEM Telkom University Surabaya, didaulat sebagai Sekretaris Jenderal.

Baca juga: Raja Ampat: Surga yang Dijual Murah demi Nafsu Serakah

Mengusung tema “Terbitnya Terang Baru: Revitalisasi Aliansi Penggerak Kota Pahlawan”, kongres ini menjadi titik balik penting bagi gerakan mahasiswa lintas kampus di Surabaya.

“Ketika kita bicara soal organisasi, maka tidak ada yang namanya hebat sendirian. Diperlukan gerakan bersama. Oleh karena itu, ABS adalah rumah kolektif yang akan membangkitkan kembali gairah kawan-kawan mahasiswa di Surabaya,” ujar Nasrawi di hadapan forum kongres.

Baca Juga:  Wajah Baru Kurikulum Umsura Menuju Kampus Berdampak
Nasrawi

Mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan itu juga mengingatkan pentingnya menjaga jati diri ABS agar tidak tercerabut dari akarnya sebagai aliansi independen dan berkarakter. Ia menolak pencampuradukkan identitas ABS dengan aliansi lain.

“Mari kita rawat aliansi ini layaknya rumah sendiri. Ketika sudah berbicara tentang ABS, maka jangan kita campuradukkan dengan aliansi lain, karena masing-masing punya wadah dan jalan perjuangannya sendiri,” tegasnya.

Tidak hanya simbolik, Nasrawi menekankan pentingnya gerakan mahasiswa yang lebih relevan dengan tantangan zaman. Edukasi, kolaborasi, dan advokasi strategis disebutnya sebagai bentuk baru dari perlawanan moral.

“Surabaya disebut Kota Pahlawan, maka sudah selayaknya kita melawan—melawan segala bentuk ketimpangan yang mencederai kemaslahatan publik dan hanya menguntungkan segelintir orang,” katanya lugas.

Meski hanya berlangsung sehari, kongres ini membawa angin segar. Bagi sebagian peserta, forum tersebut menjadi momen langka yang menyatukan suara-suara mahasiswa dari beragam kampus: negeri dan swasta, umum maupun keagamaan, semua duduk setara dalam semangat yang sama.

Kini, di bawah kepemimpinan wajah-wajah muda seperti Nasrawi dan Francisco, Aliansi BEM Surabaya diharapkan tidak hanya menjadi simbol persatuan, tetapi juga motor penggerak perubahan sosial yang nyata di tingkat lokal maupun nasional. Dengan struktur baru dan semangat yang menyala, gerakan mahasiswa Surabaya bersiap menapaki babak baru perjuangan. (#)

Baca Juga:  Umsura Lepas Lima Mahasiswa PPL Calon Guru di SDN Banyu Urip III Surabaya

Penyunting Mohammad Nurfatoni