
Menulis itu on dan off ada pada otak, tergantung pada mood penulis. Mau berhenti, menunda, atau meneruskan. Penulis harus memiliki energi positif untuk meng-on-kan terus sehingga tulisan itu jadi, bukan diangan-angan terus
Tagar.co – Aula Gedung Pusat Layanan Terpadu milik Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Gresik terasa dingin, suara hujan mengiringi pelatihan yang diikuti Cabang Aisyiyah kabupaten Gresik, Sabtu-Ahad (30/11-1/12/2024).
Ichwan Arif, S.S, M.Hum melanjutkan materinya, setelah diberi tugas pertama membuat tulisan hasil pemaparannya tentang cara menulis.
Menulis itu on dan off ada pada otak, tergantung pada mood penulis. “Melabeli diri kita sebagai penulis yang bisa memotivasi diri sendiri sebagai penulis Itu sangat penting,” jelas kata lulusan Fakultas Ilmu Budaya Unair ini.
Trus bagaimana sih kita bisa membuat tulisan atau artikel? Sambungnya, bukan sekadar artikel, tetapi artikel yang berbobot dengan berisikan informasi penting, sesuai fakta, mudah dimengerti, sekaligus menambah wawasan pembaca.
Menurutnya, membuat tulisan, harus memenuhi, pertama memilih topik. “Tanpa menentukan topik sejak awal, maka kamu akan kesulitan saat membuat artikel yang akan menentukan paragraf berikutnya, caranya tulis saja kemudian dibaca ulang. Jangan menulis baca, menulis baca, akhirnya dihapus dan tidak akan cepat selesai,” tegasnya.
Kedua, target pembaca.”Kamu bisa memprediksi kira-kira siapa saja orang yang mau membaca artikelmu, pikirkan juga informasi apa yang perlu ditulis,” katanya.
Ketiga, melakukan riset. SSebelum memulai membuat artikel lakukan riset mendalam terlebih dahulu. Keempat, memperkuat konsep artikel dengan memperkuat konsep dan memperkaya tulisan yg dibuat dengan mengutip berbagai sumber.
Kelima, buatlah menjadi spesifik. “Jika ada tulisan yang terlalu panjang dan bertele-tele cobalah buat dalam bentuk poin-poin penting sehingga pembaca lebih mudah memahaminya,” ujarnya.
Keenam, baca revisi ulangi langkah berikutnya. “Jangan lupa untuk membaca ulang artikel yang dibuat. Apabila ada kesalahan dalam penulisan, segera revisi agar tidak membingungkan pembaca,” tutupnya. (#)
Jurnalis Kusmiani. Penyunting Ichwan Arif












