Opini

Berbuat Baik Saja Tak Cukup

64
×

Berbuat Baik Saja Tak Cukup

Sebarkan artikel ini
Berbuat Baik Saja Tak Cukup
Ilustrasi

Berbuat baik saja tak cukup di tengah kehidupan yang korup. Mencegah kemungkaran menjadi lebih utama untuk menghindari negara hancur.

Oleh Nurudin, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang.

Tagar.co – Seorang guru pernah berkata kepada murid-muridnya. “Negeri ini tidak hancur karena tidak ada orang baik. Negeri ini hancur ketika orang baik memilih diam melihat kejahatan.”

Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi hari ini terasa semakin relevan.

Kita hidup di masa ketika banyak orang masih rajin berbagi kebaikan, membantu sesama, membuat konten motivasi, hingga menggalang donasi.

Semua itu penting dan mulia. Namun di saat yang sama, penyalahgunaan kekuasaan, korupsi, ketidakadilan, dan manipulasi hukum justru semakin terang-terangan terjadi. Bahkan dilakukan dengan berani dan tak ada rasa malu.

Di titik inilah amar makruf (menyuruh berbuat baik) saja tidak cukup. Berbuat baik memang wajib, tetapi kondisi bangsa hari ini menuntut sesuatu yang lebih besar. Yakni keberanian melakukan nahi mungkar (mencegah, melawan, melarang kejahatan).

Itu bisa dilakukan dengan mencegah kemungkaran, melawan ketidakadilan dan menolak penyalahgunaan kekuasaan. Sebab kalau kejahatan dibiarkan, maka kebaikan perlahan akan kehilangan makna.

Kejahatan Menjadi Kebiasaan

Indonesia sedang menghadapi masalah serius. Korupsi tidak lagi dilakukan diam-diam. Banyak kasus justru menunjukkan bagaimana kekuasaan dipakai untuk melindungi kepentingan pribadi dan kelompok.

Data Indonesia Corruption Watch (ICW) menunjukkan terdapat lebih dari 700 kasus korupsi yang ditangani aparat penegak hukum dengan potensi kerugian negara mencapai puluhan triliun rupiah. Itu baru yang terungkap, belum yang tersembunyi.

Baca Juga:  Harga Bensin Iran Paling Murah meski Perang‎

Kita juga melihat bagaimana hukum kadang terasa tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas. Orang kecil bisa cepat dihukum karena perkara sederhana.

Sementara mereka yang memiliki kuasa sering lolos dengan berbagai cara. Situasi seperti ini menciptakan rasa putus asa di tengah masyarakat. Anak muda mulai kehilangan kepercayaan terhadap sistem. Mereka akan melihat ketidakadilan setiap hari di layar ponsel mereka.

Masalahnya bukan hanya soal uang negara yang hilang. Dampaknya jauh lebih besar. Misalnya, korupsi membuat pendidikan memburuk, layanan kesehatan melemah, lapangan kerja menyempit, dan kemiskinan sulit diatasi. Dana yang seharusnya digunakan untuk rakyat justru bocor ke kantong pribadi. Akibatnya masa depan bangsa ikut dipertaruhkan.

Karena itu hari ini nahi mungkar menjadi sangat penting. Bukan berarti amar makruf tidak diperlukan.  Orang baik tetap dibutuhkan dan juga kebaikan tetap harus dirawat. Tetapi melihat kondisi yang semakin rusak, mencegah kemungkaran menjadi kebutuhan mendesak.

Berbuat baik tanpa mencegah kerusakan sering kali hanya menjadi tambalan kecil di tengah kebocoran besar.

Nahi mungkar berarti tidak membiarkan keburukan dianggap normal atau tidak diam ketika melihat manipulasi.

Juga tidak ikut membenarkan kesalahan hanya karena pelakunya punya jabatan atau kekuasaan. Hari ini keberanian seperti itu semakin langka.

Sebagian elite justru tampak nyaman dengan keadaan ini. Mereka bisa tersenyum di depan publik sambil mempertontonkan praktik yang merusak negara.

Baca Juga:  Ketika Presiden Bermimpi Negeri tanpa Korupsi

Nepotisme dianggap biasa. Tak terkecuali, konflik kepentingan dianggap lumrah. Lebih tragis lagi, kebohongan politik sering dipoles menjadi pencitraan.

Inilah tanda bahwa penyakitnya sudah akut. Orang tak lagi malu berbuat salah. Kejahatan dilakukan secara terbuka. Bahkan saat masyarakat mulai terbiasa melihat ketidakadilan setiap hari.

Mulai dari Bawah

Masalah besar tidak mungkin selesai hanya berharap pada elite politik. Sebab dalam banyak kasus, mereka justru bagian dari masalah itu sendiri. Maka perubahan harus bergerak dari bawah. Bisa dari masyarakat atau anak-anak mudanya. Intinya, dari orang-orang biasa yang masih punya nurani.

Nahi mungkar tidak selalu berarti turun ke jalan atau membuat gerakan besar. Setiap orang punya kapasitas berbeda. Ada yang bisa bersuara lewat tulisan. Guru melawan lewat pendidikan.

Pegawai  menjaga integritas di tempat kerja. Bahkan jika ada yang menolak ikut praktik suap sekecil apa pun. Ada pula yang berani mengkritik ketidakadilan meski sendirian. Semua itu bagian dari nahi mungkar.

Yang penting adalah tidak ikut diam. Sebab diam sering kali menjadi bahan bakar bagi kejahatan. Ketika masyarakat takut bersuara, penyalahgunaan kekuasaan akan semakin berani. Ketika publik apatis, para pelaku kerusakan merasa aman.

Anak muda memiliki peran sangat penting dalam situasi ini. Mereka hidup di era digital. Mereka punya akses informasi. Mereka bisa membangun opini publik dengan cepat.

Tetapi kekuatan itu harus dipakai dengan bijak. Bukan hanya untuk hiburan dan viralitas, melainkan juga untuk menjaga akal sehat bangsa.

Baca Juga:  Kampus dan Gratifikasi: Benih Korupsi yang Tumbuh dari Hulu Akademik

Hari ini kita membutuhkan generasi yang tidak sekadar terlihat baik, tetapi juga berani melawan yang salah. Generasi yang tidak hanya sibuk membangun citra positif diri sendiri, tetapi juga peduli terhadap masa depan negara.

Sebab bangsa ini tidak kekurangan orang pintar dan juga orang religius. Tidak kekurangan slogan-slogan moral. Yang sering kurang adalah keberanian untuk mengatakan bahwa yang salah tetap salah.

Nahi mungkar memang tidak nyaman. Akan ada risiko, tekanan, bahkan  ancaman. Tetapi sejarah selalu menunjukkan perubahan besar lahir dari orang-orang yang berani menolak keburukan. Bukan dari mereka yang memilih aman dan diam.

Kalau hari ini masyarakat terus membiarkan penyalahgunaan kekuasaan terjadi, maka kehancuran tinggal menunggu waktu.

Kerusakan yang dibiarkan terlalu lama akan berubah menjadi budaya. Ketika keburukan sudah menjadi budaya, memperbaikinya akan jauh lebih sulit.

Karena itu bangsa ini membutuhkan lebih banyak keberanian. Tak lupa juga kepedulian. Lebih banyak orang yang mau berdiri untuk mencegah kemungkaran.

Amar makruf tetap penting, tetapi dalam kondisi negara yang dipenuhi penyalahgunaan kekuasaan dan ketidakadilan seperti sekarang, nahi mungkar menjadi jauh lebih mendesak.

Sebab masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh banyaknya orang baik. Tetapi juga oleh seberapa berani masyarakat menghentikan keburukan sebelum semuanya terlambat. (#)

Penyunting Sugeng Purwanto