Cerpen

Tanda Tangan yang Terlambat Disadari

131
×

Tanda Tangan yang Terlambat Disadari

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Sonni percaya dirinya sedang melawan sistem yang kotor. Sampai sebuah map tua di ruang arsip membuatnya sadar bahwa namanya sendiri telah lama berada di dalamnya.

Cerpen oleh Dwi Taufan Hidayat

Tagar.co – Di sebuah organisasi yang dulu diyakininya sebagai tempat pengabdian, Sonni tumbuh dengan keyakinan bahwa perjuangan harus dijalankan tanpa pamrih.

Ia mengenal organisasi itu sejak sekolah menengah, ketika seorang pembina berkata bahwa orang besar bukanlah mereka yang banyak menerima, melainkan mereka yang sanggup memberi tanpa menghitung kembali.

Baca juga: Lapisan Debu yang Tersisa

Kalimat itu melekat lama di kepalanya.

Ia datang paling awal saat kegiatan dimulai, pulang paling akhir ketika kursi-kursi harus dirapikan. Pernah suatu kali ia menjual telepon genggam lamanya demi menutupi kekurangan dana acara pelatihan. Tak seorang pun tahu selain bendahara yang diam-diam menangis ketika menerima uang itu.

“Anggap saja sedekah,” kata Sonni waktu itu sambil tertawa kecil.

Karena itu, ketika beberapa tahun kemudian ia dipercaya masuk dalam lingkar pengurus, ia merasa semua pengorbanannya tidak sia-sia.

Namun perlahan, ada sesuatu yang berubah.

Sore itu ruang rapat terasa pengap. Kipas angin tua di sudut ruangan berputar lambat sambil mengeluarkan bunyi berdecit. Di meja depan, seorang pengurus menjelaskan program baru bernilai besar yang akan bekerja sama dengan beberapa lembaga luar.

“Tim teknisnya nanti diisi orang-orang yang sudah paham ritme kerja,” katanya sambil membuka daftar nama.

Nama-nama itu disebut cepat. Terlalu cepat.

Sonni memperhatikan beberapa wajah di ruangan saling bertukar pandang sebelum tersenyum tipis. Ia mengenali hampir semua nama yang disebut. Orang-orang yang sama. Orang-orang yang selalu ada di proyek mana pun.

Baca Juga:  Perkara Dianggap Selesai

Tak ada forum terbuka. Tak ada pembahasan kemampuan. Semuanya seperti sudah diputuskan jauh sebelum rapat dimulai.

Seusai rapat, Sonni berjalan menuju lorong belakang kantor untuk mengambil tasnya. Lampu di lorong itu redup dan sebagian dindingnya mulai mengelupas. Saat hendak berbelok, ia mendengar suara dua orang berbicara pelan.

“Yang ini lumayan honornya.”

“Tentu. Makanya jangan kasih ke orang yang belum aman.”

Mereka tertawa kecil.

Sonni berhenti melangkah.

“Aku kira si Sonni bakal masuk juga,” ujar salah satunya.

“Belum. Dia masih terlalu lurus.”

Langkah kaki Sonni terasa berat ketika meninggalkan lorong itu. Untuk pertama kalinya, ia merasa seperti orang asing di tempat yang selama ini dianggap rumah sendiri.

Hari-hari berikutnya ia mulai memperhatikan lebih banyak hal kecil.

Proposal kegiatan sering berpindah tangan tanpa penjelasan. Nama tertentu selalu muncul dalam perjalanan dinas. Bahkan keputusan-keputusan penting kadang sudah selesai dibicarakan sebelum forum resmi dimulai.

Ketika ia mencoba bertanya kepada seorang pengurus, jawaban yang diterimanya selalu sama.

“Ini soal teknis.”

Kata teknis lama-lama terdengar seperti tembok.

Suatu malam, Sonni menemui Arman, seorang senior yang dulu paling ia hormati. Mereka duduk di teras kantor yang sepi. Hujan baru saja reda, menyisakan bau tanah basah dan suara air menetes dari atap seng.

“Apa organisasi memang harus begini?” tanya Sonni pelan.

Baca Juga:  Ketika Tirai Disingkap: Nikmat Tertinggi Melihat Allah

Arman tidak langsung menjawab. Ia menyalakan rokok, lalu memandang halaman gelap di depan mereka.

“Organisasi itu besar, Son,” katanya akhirnya. “Kadang ada kompromi supaya semuanya tetap jalan.”

“Kalau semua tahu ada yang salah, kenapa tidak dihentikan?”

Arman tersenyum tipis.

“Karena tidak semua orang kuat kalau kehilangan posisi.”

Jawaban itu membuat dada Sonni terasa sesak. Ada sesuatu yang runtuh perlahan di dalam dirinya.

Beberapa hari kemudian, dalam sebuah forum evaluasi kecil, Sonni memberanikan diri berbicara.

“Kita dulu diajarkan soal transparansi,” katanya sambil menatap peserta rapat satu per satu. “Kalau proyek dan jabatan hanya berputar di orang yang sama, bedanya kita dengan organisasi yang dulu kita kritik apa?”

Ruangan mendadak sunyi.

Seorang peserta menunduk memainkan pulpen. Yang lain pura-pura sibuk membuka laptop.

Lalu seorang pengurus senior tersenyum kecil.

“Kamu masih idealis, ya.”

Nada kalimat itu terdengar seperti pujian sekaligus ejekan.

Setelah forum itu, Sonni mulai dijauhkan secara halus. Ia tidak lagi diajak dalam rapat tertentu. Informasi kegiatan sering terlambat sampai kepadanya. Bahkan beberapa junior yang biasanya akrab kini tampak canggung ketika berbicara dengannya.

Semakin dipinggirkan, semakin jelas pola itu terlihat.

Suatu siang, saat membantu membersihkan ruang arsip lama, Sonni menemukan sebuah map kusam terselip di rak paling bawah. Debu beterbangan ketika ia membukanya.

Di dalamnya terdapat notulen rapat bertahun-tahun lalu—masa ketika program-program besar organisasi mulai dibentuk.

Ia membalik halaman demi halaman dengan perlahan.

Nama-nama yang kini menguasai banyak posisi ternyata sudah tercatat sejak awal sebagai bagian dari “tim teknis inti”. Di beberapa bagian terdapat catatan tangan kecil:

Baca Juga:  Energi Baik Itu Menular

“Pastikan jalur koordinasi tetap aman.”

“Distribusi posisi harus terjaga.”

Sonni membaca kalimat-kalimat itu dengan tenggorokan kering. Semuanya terasa dingin. Terlalu rapi untuk disebut kebetulan.

Tangannya berhenti pada halaman terakhir.

Di sana terdapat daftar nama lengkap beserta tanda tangan persetujuan rapat.

Jantungnya berdetak lebih cepat.

Ia mengenali hampir semua nama itu.

Lalu pandangannya berhenti di satu baris paling bawah.

Sonni.

Tangannya gemetar kecil.

Di samping nama itu terdapat tanda tangan yang sangat familiar—lengkungan huruf yang biasa ia buat sejak sekolah.

Ingatan lama tiba-tiba muncul.

Ia teringat sebuah rapat bertahun-tahun lalu ketika masih menjadi kader muda penuh semangat. Saat itu seseorang menyodorkan lembar absensi tambahan dan memintanya menandatangani cepat sebelum forum dimulai.

“Buat administrasi saja,” kata orang itu dulu.

Dan ia menandatanganinya tanpa membaca.

Sonni menutup map itu perlahan.

Ruang arsip mendadak terasa sempit dan pengap.

Selama ini ia mengira dirinya berdiri di luar lingkar masalah, mengawasi semuanya dengan kemarahan seorang idealis. Namun kini ia sadar, ia tidak sepenuhnya berada di luar.

Tidak ada ancaman. Tidak ada paksaan.

Hanya keputusan-keputusan kecil yang dianggap sepele.

Dan mungkin, pikir Sonni, sebuah sistem tidak selalu dibangun oleh orang-orang jahat. Kadang ia tumbuh dari orang-orang baik yang terlalu lama membiarkan diri berjalan tanpa bertanya. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni