Feature

Dari Ralina ke Katalina: Strategi Baru Dakwah Nasyiatul Aisyiyah

141
×

Dari Ralina ke Katalina: Strategi Baru Dakwah Nasyiatul Aisyiyah

Sebarkan artikel ini
Ketua Umum PPNA Ariati Dina Puspitasari menyampaikan sambutan secara daring pada pembukaan Kemah Literasi Nasyiatul Aisyiyah Sabtu (2/5/26). (Tagar.co/Isnatul Chasanah)

Melalui Katalina, Ralina dikembangkan bukan sekadar taman baca, tetapi menjadi pusat pemberdayaan dan dakwah kultural yang adaptif terhadap tantangan generasi Z.

Tagar.coNasyiatul Aisyiyah kembali menegaskan komitmennya dalam mengembangkan literasi digital yang progresif dan berlandaskan nilai-nilai Islam, khususnya bagi perempuan dan anak.

Upaya tersebut diwujudkan melalui Kemah Literasi Nasyiatul Aisyiyah (Katalina) yang digelar di Gedung Muhammadiyah Supeno pada Sabtu–Ahad (2–3 Mei 2026).

Baca juga: Nasyiatul Aisyiyah dan Meta Bersinergi Ciptakan Ruang Digital Aman bagi Anak dan Perempuan

Kegiatan ini menjadi ruang temu bagi para pengelola Rumah Literasi Nasyiatul Aisyiyah (Ralina) bersama kader pegiat literasi dari berbagai daerah. Melalui Ralina, gerakan literasi terus diperluas secara berjenjang—mulai dari tingkat ranting hingga wilayah—sebagai basis penguatan kapasitas kader.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah, Ariati, menegaskan bahwa Ralina tidak hanya berfungsi sebagai taman baca atau ruang berkumpul anak-anak. Lebih jauh, Ralina diharapkan menjadi pusat pembelajaran bersama yang melahirkan keterampilan nyata dari proses literasi.

Baca Juga:  Tradisi Literasi Menggema, Peserta Kajian Ramadan PWM Jatim Terima Buku Sejarah

“Ralina diharapkan menjadi ruang aktivitas penguatan kader, belajar bersama, sekaligus melahirkan keterampilan yang berangkat dari membaca,” ujarnya di hadapan peserta yang mengikuti kegiatan secara luring maupun daring.

Menurutnya, secara strategis Ralina juga dapat berperan sebagai simpul dakwah kultural Nasyiatul Aisyiyah yang menjangkau masyarakat akar rumput secara lebih luas. Di tengah tantangan era post-truth, pendekatan dakwah yang adaptif dan kontekstual menjadi kebutuhan mendesak, terutama dalam menyasar generasi Z dan generasi berikutnya.

“Kita jadikan Ralina sebagai pusat dakwah kultural NA, tempat menyemai kader dan perempuan tangguh yang siap menghadapi disrupsi. Di sini juga menjadi ruang tumbuh bagi anak-anak agar siap menghadapi berbagai fenomena tak terduga di masa depan,” imbuh Ariati.

Peserta luring Kemah Tangguh Literasi Nasyiatul Aisyiyah (Katalina) berfoto bersama usai kegiatan di Gedung Muhammadiyah Supeno, Yogyakarta, sebagai bagian dari penguatan jaringan pegiat literasi dan dakwah kultural. (Tagar.co/Isnatul Chasanah)

Katalina merupakan kelanjutan dari program “Peningkatan Literasi Kesetaraan untuk Masyarakat dalam Pencegahan dan Penanganan Kekerasan” yang diinisiasi oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Pusat Penguatan Karakter pada akhir 2024, serta Temu Ralina yang digelar pada pertengahan 2025.

Selama kegiatan, peserta mendapatkan pembekalan pengetahuan dan keterampilan praktis, mulai dari pemberdayaan perempuan melalui rumah baca komunitas, pelatihan jurnalistik berperspektif keadilan gender, teknik penulisan rilis dan berita, hingga manajemen konten organisasi. Selain itu, peserta juga mengikuti coaching clinic untuk mengatasi berbagai tantangan dalam pengelolaan media organisasi.

Baca Juga:  Ilmu dan Buku

Arina berharap, melalui Katalina, Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah menargetkan terbentuknya jejaring pegiat literasi dan kreator konten Nasyiah di seluruh Indonesia.

Tak hanya itu, kegiatan ini juga dia harapkan mampu meningkatkan kapasitas produksi konten, memperkuat pemahaman etika digital, serta melahirkan rencana aksi literasi dan dakwah positif di tiap daerah—yang diwujudkan melalui karya video, artikel, hingga kampanye digital kolaboratif. (*)