Opini

Guru Berhenti Belajar, Menyiapkan Kemunduran, Refleksi Hardiknas

114
×

Guru Berhenti Belajar, Menyiapkan Kemunduran, Refleksi Hardiknas

Sebarkan artikel ini
Guru yang hebat adalah guru yang ilmunya bertumbuh, jiwanya matang, akhlaknya teduh, dan semangat belajarnya menular.
Ilustrasi

Guru yang hebat adalah guru yang ilmunya bertumbuh, jiwanya matang, akhlaknya teduh, dan semangat belajarnya menular.

Oleh Ansorul Hakim, Guru di Bojonegoro.

Tagar.co – Setiap tanggal 2 Mei, bangsa ini memperingati Hari Pendidikan Nasional dengan gegap gempita seremoni, pidato-pidato idealisme, dan slogan-slogan besar tentang pentingnya pendidikan.

Nama Ki Hadjar Dewantara kembali disebut, semboyan ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani kembali digaungkan. Namun di tengah peringatan itu, ada satu pertanyaan mendasar yang perlu diajukan dengan jujur: sudahkah pendidikan kita benar-benar bergerak, atau kita hanya pandai memperingati tanpa berani memperbaiki?

Jantung pendidikan bukan gedung sekolah, bukan kurikulum, bukan pula teknologi canggih di ruang kelas. Jantung pendidikan adalah guru. Tetapi persoalannya, menjadi guru bukan sekadar berdiri di depan kelas, menyampaikan materi, lalu pulang menuntaskan administrasi.

Menjadi guru adalah perjalanan panjang yang tak pernah selesai. Intinya sederhana, tetapi berat dijalani: belajar, evaluasi, upgrade; lalu belajar lagi, evaluasi lagi, upgrade diri lagi. Begitulah seharusnya denyut kehidupan seorang pendidik.

Masalah terbesar pendidikan kita hari ini bukan semata rendahnya fasilitas atau berubahnya kurikulum, melainkan ketika ada guru yang merasa sudah cukup.

Merasa ilmunya selesai, merasa metodenya paling benar, merasa pengalaman puluhan tahun otomatis membuatnya relevan untuk zaman yang terus berubah.

Baca Juga:  Strategi Menghadapi 10 Hari Terakhir Ramadan

Padahal saat seorang guru berhenti belajar, pada saat yang sama ia sedang diam-diam tertinggal dari murid-muridnya.

Di era digital, anak didik hidup dalam banjir informasi. Mereka tumbuh di tengah kecerdasan buatan, algoritma, dan arus pengetahuan yang bergerak sangat cepat.

Jika guru hanya mengandalkan cara lama untuk menjawab tantangan baru, maka pendidikan akan berjalan pincang. Murid datang membawa pertanyaan zaman, tetapi guru menjawab dengan pendekatan masa lalu tanpa pembaruan perspektif.

Akibatnya, sekolah bisa kehilangan relevansi. Allah berfirman dalam surah Taha: 114.

وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا

Dan katakanlah: Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu.

Menariknya, dalam Al-Qur’an, Nabi Muhammad Saw—manusia terbaik, pemilik wahyu—masih diperintahkan untuk terus meminta tambahan ilmu.

Jika Rasul saja diperintahkan terus belajar, lalu dari mana datangnya kesombongan intelektual pada sebagian manusia yang merasa cukup dengan apa yang ia tahu?

Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menulis bahwa ilmu yang tidak terus dirawat akan kehilangan cahaya, dan hati yang berhenti mencari hikmah akan mudah tertutup oleh rasa puas diri. Dalam dunia pendidikan, rasa puas diri adalah awal dari stagnasi.

Karena itu, guru sejati bukan yang paling banyak bicara, tetapi yang paling banyak belajar. Ia sadar bahwa mengajar bukan hanya mentransfer ilmu, melainkan juga memperbarui diri.

Baca Juga:  Refleksi Nuzululquran: Lima Ikhtiar Menghidupkan Nilai-Nilai Al-Qur’an

Ia membaca, berdiskusi, mendengar, membuka wawasan, belajar teknologi, memahami psikologi murid, dan berani mengakui bahwa ada hal-hal baru yang harus dipelajari.

Belajar saja tidak cukup. Setelah belajar, guru harus berani evaluasi.

Evaluasi adalah cermin kejujuran. Apakah murid benar-benar paham, atau hanya diam? Apakah kelas hidup, atau justru membosankan? Apakah pendekatan kita menyentuh hati murid, atau hanya memenuhi target materi? Apakah kita mendidik, atau sekadar menyampaikan?

Banyak guru sibuk mengevaluasi nilai murid, tetapi lupa mengevaluasi dirinya sendiri. Padahal murid yang lemah tidak selalu karena malas belajar; kadang karena kita belum menemukan cara terbaik untuk mengajarnya.

Ki Hadjar Dewantara mengingatkan bahwa pendidikan adalah proses menuntun tumbuhnya kodrat anak. Kata “menuntun” berarti guru harus memahami jalan, bukan memaksa arah. Untuk itu dibutuhkan refleksi terus-menerus, bukan sekadar rutinitas.

Setelah belajar dan evaluasi, tahap berikutnya adalah upgrade diri.

Upgrade bukan hanya soal gelar akademik, sertifikat pelatihan, atau kemampuan menggunakan perangkat digital. Upgrade yang paling mendasar adalah memperbarui cara berpikir, memperhalus akhlak, memperdalam empati, dan memperkuat keteladanan.

Karena murid sering kali lupa apa yang diajarkan gurunya, tetapi sangat lama mengingat bagaimana gurunya memperlakukan mereka.

Baca Juga:  Di Akhir Syakban, Sambut Ramadan dengan 5 Ikhtiar Spiritual

Guru yang marah-marah mungkin ditakuti, tetapi belum tentu dihormati. Guru yang cerdas mungkin dikagumi, tetapi belum tentu menginspirasi.

Guru yang hebat adalah guru yang ilmunya bertumbuh, jiwanya matang, akhlaknya teduh, dan semangat belajarnya menular.

Hari Pendidikan Nasional semestinya menjadi momentum muhasabah bagi para pendidik: masihkah kita haus ilmu? Masihkah kita mau dikritik? Masihkah kita berani berubah?

Karena dunia pendidikan bukan tempat bagi mereka yang nyaman dalam stagnasi. Pendidikan adalah ruang hidup bagi mereka yang terus bergerak.

Hari ini guru belajar. Besok mengevaluasi. Lalu memperbaiki. Kemudian belajar lagi. Evaluasi lagi. Upgrade lagi. Begitu seterusnya—tanpa titik akhir. Sebab sejatinya, guru bukan hanya pengajar di ruang kelas.

Guru adalah pembelajar seumur hidup. Kualitas pendidikan tidak akan pernah melampaui kualitas gurunya. Jika guru terus bertumbuh, murid akan berkembang. Jika guru berhenti, pendidikan akan ikut terhenti.

Maka pada Hardiknas ini, mari menyalakan kembali api itu: api belajar, api evaluasi, dan api untuk terus meng-upgrade diri. Karena bangsa yang besar lahir dari guru-guru yang tidak pernah merasa selesai menjadi murid. (#)

Penyunting Sugeng Purwanto