
Maroko bukan sekadar tujuan, melainkan awal dari perjalanan menelusuri jejak peradaban Islam yang pernah membentang hingga Eropa.
Oleh dr. Mohamad Isa
Tagar.co – Udara dingin langsung menyergap begitu pintu pesawat dibuka di Casablanca. Angin dari Samudra Atlantik berhembus kencang, menusuk kulit, namun justru terasa menyegarkan setelah 19 jam perjalanan panjang dari Jakarta.
Di sinilah perjalanan itu dimulai—di tanah yang menyimpan jejak panjang peradaban Islam, Eropa, dan Berber yang saling berkelindan.
Baca juga:Menelisik Resep Kemajuan Cina: Catatan Perjalanan ke Shenzhen
Perjalanan panjang itu dimulai pada dini hari, 21 April 2026 pukul 01.00 WIB. Penulis menempuh perjalanan menggunakan pesawat Saudi Arabia Airlines selama 10 jam dari Jakarta menuju Jeddah. Setelah transit selama 2 jam, perjalanan dilanjutkan menuju Casablanca, Maroko selama 7 jam.
Total waktu tempuh mencapai 19 jam. Tepat pukul 13.15 waktu Maroko, pesawat mendarat dengan mulus di Bandara Internasional Casablanca.
Suhu udara saat itu tercatat 19 derajat Celsius. Hembusan angin yang kencang dan dingin membuat tubuh terasa sejuk dan nyaman—sebuah sambutan awal yang terasa bersahabat sekaligus berkesan.

Awal Perjalanan: Rombongan dan Cerita di Baliknya
Rombongan Hayatun Tour yang berjumlah 20 peserta dari berbagai kota telah menunggu untuk memulai perjalanan. Kami disambut oleh pemandu wisata, Mas Sadewo, seorang mahasiswa S2 asal Brebes Jawa Tengah yang sedang menempuh studi di Universitas Chadiiyad Maroko.
Ia mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Maroko dengan fasilitas lengkap: biaya pendidikan, asrama, makan, serta uang saku sebesar 1250 Dirham Maroko setiap dua bulan (dengan kurs sekitar 1 Dirham = Rp 1.800). Kisahnya menjadi pengantar menarik tentang kehidupan mahasiswa Indonesia di negeri ini.
Sebuah bus besar yang nyaman telah disiapkan untuk mengawali perjalanan selama 17 hari—menelusuri sejarah Islam di Maroko, Portugal, dan Spanyol (Andalusia).

Maroko: Negeri dengan Sejarah dan Identitas Berlapis
Maroko, dengan nama resmi Kerajaan Maroko, memiliki populasi lebih dari 33.800.000 jiwa dan luas wilayah 446.550 km². Negara ini memiliki karakter unik, dengan perpaduan budaya Arab, Berber, dan Eropa yang membentuk identitasnya.
Maroko adalah monarki konstitusional dengan parlemen terpilih, namun raja memiliki kekuasaan eksekutif dan legislatif yang luas, terutama dalam bidang militer, kebijakan luar negeri, dan urusan agama.
Raja dapat mengeluarkan dekrit yang disebut dahirs yang memiliki kekuatan hukum, serta memiliki kewenangan membubarkan parlemen setelah berkonsultasi dengan Perdana Menteri dan Presiden Mahkamah Konstitusi.
Agama mayoritas adalah Islam, dengan bahasa resmi Arab dan Berber, serta bahasa Prancis yang широко digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Raja saat ini adalah Muhammad VI dengan Putra Mahkota Moulay Hasan. Sejarah kerajaan dimulai dari Dinasti Idrisiyyah (788–974 M) hingga Dinasti Alawiyah yang masih berkuasa sejak 1631.
Maroko meraih kemerdekaan dari Prancis pada 18 November 1956 di bawah Raja Muhammad V.
Kebanggaan modern juga terlihat dari prestasi tim nasional sepak bola Maroko yang mencapai perempat final Piala Dunia 2022 di Qatar, dengan pemain seperti Hakimi (PSG) dan Brahim Diaz (Real Madrid).

Casablanca: Modernitas, Jalan Tol, dan Masjid Megah
Perjalanan dari bandara menuju Kota Casablanca menempuh jarak sekitar 30 km melalui jalan tol dengan sistem Multi Lane Free Flow (MLFF)—pembayaran tanpa perlu berhenti. Jalanan tampak lebar, hijau, bersih, dan tertata rapi, memberikan kesan modern yang kuat.
Rombongan kemudian menuju sebuah restoran Asian untuk makan siang. Pemilik restoran adalah orang Maroko, namun para juru masaknya berasal dari Indonesia. Pimpinan chef bernama Budi, Arek Surabaya, dari kampung Kaliasin Gang Pompa. Hidangan yang disajikan terasa lezat, halal, dan menghadirkan cita rasa Indonesia di negeri jauh.
Perjalanan dilanjutkan dengan mengunjungi Masjid Hassan II, masjid megah yang berdiri di tepi Samudra Atlantik. Masjid ini mampu menampung lebih dari 100.000 jamaah dan dihiasi ornamen ukiran karya para pengrajin terbaik Maroko. Keindahannya menjadikannya salah satu ikon paling menakjubkan di dunia Islam.
Selain itu, rombongan juga mengunjungi Mohammed V Square dan Habous Market.

Marrakesh: Kota Merah yang Berkarakter Kuat
Memasuki Marrakesh, nuansa khas kota ini langsung terasa begitu kuat. Deretan bangunan berwarna merah bata mendominasi pemandangan, menghadirkan kesan hangat sekaligus eksotis yang membuatnya dijuluki sebagai “Kota Merah”.
Kota yang pernah menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Maroko ini kini berkembang menjadi salah satu destinasi wisata utama, tempat sejarah dan kehidupan modern berpadu dalam ritme yang dinamis.
Di tengah atmosfer tersebut, rombongan menelusuri sejumlah ikon penting kota—Masjid Koutoubia yang menjulang anggun, Istana Bahia dengan keindahan arsitekturnya, hiruk-pikuk Pasar Djema El Fnaa yang penuh warna, hingga toko-toko minyak argan yang menjadi ciri khas produk lokal Maroko.

Rabat: Ibu Kota Modern dengan Sentuhan Indonesia
Memasuki Rabat, ibu kota Kerajaan Maroko sejak masa Raja Muhammad V, suasana kota langsung terasa berbeda. Wajahnya lebih modern, bersih, dan tertata rapi. Jalan-jalan lebar membentang teratur, sementara pepohonan dirawat dengan bentuk yang indah, menghadirkan kesan asri dan nyaman bagi siapa pun yang melintas.
Di kota ini, perjalanan membawa rombongan mengunjungi berbagai ikon penting—Royal Palace yang menjadi simbol kekuasaan, Hassan Tower yang berdiri sebagai penanda sejarah, Mausoleum Mohammed V yang sarat makna, hingga Qasbah Oudayas yang memancarkan pesona arsitektur klasik. Keindahan Andalusia Gardens dan denyut kehidupan di pasar tradisional pun melengkapi pengalaman menyusuri Rabat dari berbagai sisi.
Namun, ada satu sudut kota yang menghadirkan kedekatan emosional tersendiri bagi kami—Jalan Soekarno. Di tengah Rabat, nama Presiden pertama Indonesia diabadikan sebagai bentuk penghormatan dari Raja Muhammad V atas perannya dalam menginspirasi kemerdekaan Maroko, khususnya dalam Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955.
Sebagai balasan atas penghormatan tersebut, Indonesia pun mengabadikan nama Casablanca sebagai salah satu kawasan di Jakarta—sebuah simbol persahabatan yang terjalin lintas benua dan sejarah.

Fez: Pusat Keilmuan Islam Klasik
Memasuki Kota Fez, nuansa sejarah terasa begitu kuat dan seolah menyelimuti setiap sudutnya. Kota ini dikenal sebagai salah satu pusat keilmuan Islam tertua di dunia, tempat tradisi intelektual tumbuh dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Perjalanan di Fez membawa rombongan menelusuri jejak masa lalu melalui Bab Bou Jeloud sebagai gerbang kota tua, Bou Inania Madrasah dengan keindahan arsitekturnya, hingga Masjid dan Universitas Al Qarawiyyin yang menjadi simbol kejayaan ilmu pengetahuan Islam. Kunjungan dilanjutkan ke Makam Moulay Idriss II, tokoh penting dalam sejarah Maroko yang dihormati hingga kini.
Dari ketinggian sebuah bukit, terbentang pemandangan Kota Tua Fez beserta lembahnya yang indah. Deretan bangunan yang padat dan berliku tampak seperti labirin tanpa akhir—sebuah lanskap yang tidak hanya memikat mata, tetapi juga menghadirkan rasa bahwa sejarah di kota ini tidak pernah benar-benar berhenti, melainkan terus hidup hingga hari ini.

Tangier: Gerbang Sejarah Menuju Andalusia
Perjalanan berlanjut ke Kota Tangier, sebuah kota pelabuhan yang ramai dan memiliki posisi strategis di ujung utara Maroko. Suasana kota ini terasa berbeda—lebih dinamis, seolah menjadi titik pertemuan berbagai peradaban.
Dari sebuah bukit, terbentang pemandangan menakjubkan: garis pertemuan antara Samudra Atlantik dan Laut Mediterania, dua perairan besar yang sejak dahulu menjadi jalur penting dalam sejarah dunia.
Di kota ini, rombongan menyusuri sejumlah tempat bersejarah, mulai dari Cap Spartel yang menjadi penanda geografis penting, Old Medina dengan lorong-lorong khasnya, hingga Kasbah Tangier yang menyimpan jejak masa lalu dalam arsitektur dan atmosfernya.
Tangier bukan sekadar kota pelabuhan. Dari sinilah sejarah besar pernah dimulai—ketika Thariq bin Ziyad memimpin pasukan menyeberang menuju Andalusia, membuka babak baru dalam peradaban Islam di Eropa.
Kini, perjalanan itu seakan berulang dalam bentuk yang berbeda. Penulis bersama rombongan menyeberang menggunakan ferry menuju Pelabuhan Tarifa di Spanyol—daratan Eropa yang hanya berjarak sekitar 14 kilometer. Sebuah jarak yang dekat secara geografis, namun menyimpan kisah panjang yang akan terus berlanjut.
Penutup: Makna Sebuah Perjalanan
Perjalanan ini bukan sekadar perpindahan geografis, tetapi juga perjalanan pemahaman. Ia menunjukkan bahwa peradaban suatu bangsa tidak hadir begitu saja—melainkan harus diniatkan, dibangun, dan dikembangkan melalui perjuangan serta pengorbanan.
Dari Casablanca hingga Tangier, dari masjid megah hingga kota tua yang padat, Maroko menghadirkan pelajaran tentang sejarah, identitas, dan ketahanan sebuah bangsa. (#)
Maroko, 25 April 2026
Penyunting Mohammad Nurfatoni












