
Di Museum Muhammadiyah, setiap sudut menyimpan jejak perjuangan yang tak hanya dipelajari, tetapi juga dirasakan hingga menggetarkan hati pengunjung.
Tagar.co – Langit Yogyakarta tampak cerah ketika rombongan Tapak Tilas Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kabupaten Gresik menjejakkan kaki di halaman Kampus IV Universitas Ahmad Dahlan, Sabtu (25/4/2026).
Sejak pagi buta, tepat pukul 05.30 WIB, 40 ibu-ibu tangguh ini telah bertolak dari Gedung Dakwah Muhammadiyah (GDM) Gresik dengan suasana penuh suka cita.
Menggunakan jasa Surya Amanah Tour and Travel (SATT), mereka memulai safar menuju kota kelahiran Muhammadiyah—sebuah perjalanan yang bukan sekadar wisata, melainkan ziarah nilai dan sejarah.
Baca juga: Tapak Tilas Penuh Makna: 40 Aktivis Aisyiyah Gresik Menuju Yogyakarta
Jarum jam menunjukkan pukul 12.23 WIB saat rombongan tiba di destinasi kedua: Museum Muhammadiyah. Berdiri megah di kompleks Kampus IV Universitas Ahmad Dahlan, bangunan enam lantai ini langsung menyita perhatian.
Di lobi, para kader muda menyambut hangat. Setiap peserta menerima tiket unik berupa stiker—sebagian ditempel di punggung tangan, sebagian lagi dapat disimpan sebagai kenang-kenangan.

Sebelum memasuki area museum, pemandu memberikan arahan singkat mengenai tata tertib. Museum yang diresmikan pada 14 November 2022 ini dirancang dengan konsep ramah anak, perempuan, disabilitas, dan lingkungan, serta didukung teknologi digital modern yang memandu alur cerita secara interaktif.
Bagi penulis, pengalaman menyusuri museum empat lantai ini menghadirkan rasa takjub, haru, sekaligus bangga.
Di lantai pertama, pengunjung diajak memasuki zona pengkondisian dan “pembawa cahaya”. Sebuah miniatur buku berlogo Muhammadiyah menjadi simbol kuat budaya literasi sejak awal berdirinya organisasi.
Di sisi lain, terpajang foto 15 ketua umum Muhammadiyah, mulai dari Ahmad Dahlan hingga Haedar Nashir. Lebih dalam, terdapat replika ruang perpustakaan lengkap dengan globe interaktif yang menunjukkan jejak Muhammadiyah di 33 negara.
Memasuki lantai kedua, pengunjung dibawa pada fase awal berdirinya Muhammadiyah. Kaligrafi Surah Al-Ma’un yang ditulis berulang dalam bentuk lingkaran menggambarkan metode dakwah Ahmad Dahlan yang mengajarkan surat tersebut secara berulang selama tiga bulan.
Nilai Al-Ma’un, bersama QS. Al-Asr, menjadi fondasi gerakan. Berbagai atribut organisasi otonom, naskah kuno, hingga foto dokumenter memperkaya narasi sejarah di lantai ini.

Menuju lantai ketiga, perhatian pengunjung tertuju pada replika Kapal Misphil—kapal haji kuno yang sarat makna historis. Di lantai ini, perjalanan Muhammadiyah disajikan dalam bentuk linimasa yang mengalir. Sebuah bola dunia berputar menampilkan pesan-pesan inspiratif:
- Berbicara dengan bijak menunjukkan arah yang benar
- Mengingatkan yang terlupa, membangunkan yang terlelap
- Kelak anak-anak kita akan tersebar bukan saja di seluruh Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia
Di lorong menuju lantai empat, tertera kutipan pemikiran Ahmad Dahlan: “Pembaharuan mesti diawali dari perubahan cara berpikir, dan pengetahuan adalah pasak pergerakan.”
Lantai keempat menampilkan perkembangan amal usaha Muhammadiyah dan persebarannya. Memasuki abad kedua, Muhammadiyah tampil percaya diri dengan dakwah global, sebagaimana tertulis dalam poster: “Menembus batas merengkuh persaudaraan.”
Ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah Kabupaten Gresik, Innik Hikmatin, S.Pd., M.Pd.I., menyampaikan kesan mendalam terhadap seluruh koleksi dan narasi yang disajikan.
“K.H. Ahmad Dahlan dan para tokoh pendahulu sungguh luar biasa. Apa yang kita lakukan hari ini belum sebanding dengan perjuangan mereka. Semoga sepulang dari sini, kita semakin bersemangat melanjutkan perjuangan—menebar amal saleh, mengembangkan Islam berkemajuan, hingga terwujud Baldatun Tayibatun wa Rabun Gafur,” ungkapnya.
Perempuan yang akrab disapa Bu Innik itu juga menyampaikan apresiasi kepada tim Museum Muhammadiyah atas sambutan hangat dan pelayanan yang berkesan. Dengan senyum merekah, ia menutup dengan semangat, “Museum Muhammadiyah selalu di hati.” (#)
Jurnalis Siti Faizah Penyunting Mohammad Nurfatoni












