
Optimalisasi Sicara LPCRPM Jatim merupakan solusi digital pendataan Cabang dan Ranting Muhammadiyah. Bisa melibatkan anak muda atau guru untuk mengisinya, bertanggung jawab untuk mengelola aplikasi dan media cabang
Tagar.co – Upaya transformasi digital dalam tata kelola organisasi mengemuka dalam Meeting Regional Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid (LPCRPM) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur yang digelar Sabtu (25/4/2026) di SMK Muhammadiyah 5 Gresik.
Forum ini menyoroti pentingnya optimalisasi aplikasi Sicara (Sistem Informasi Cabang Ranting) sebagai instrumen utama pendataan cabang dan ranting Muhammadiyah.
Kegiatan tersebut diikuti oleh perwakilan LPCRPM dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lamongan, Gresik, Bojonegoro, dan Tuban. Selain menjadi ajang berbagi praktik baik, forum ini juga menjadi ruang evaluasi terhadap implementasi Sicara yang telah dikembangkan sebagai basis data organisasi.
Implementasi Sicara di Lapangan
Sabih, S.Pd., Wakil Sekretaris LPCRPM PDM Kabupaten Lamongan, menyampaikan dalam forum ini bahwa penggunaan Sicara pada dasarnya sederhana. Ia menjelaskan bahwa operator daerah telah mendapatkan pelatihan teknis saat Rakernas Regional di Ponorogo, termasuk cara membuat username dan password dengan format tertentu, yakni tingkat pimpinan, nama tempat, dan angka.
“Kalau diibaratkan, kita sudah memiliki rumah dan kuncinya. Tinggal bagaimana mengisinya dengan data cabang dan ranting yang lengkap,” ujarnya.
Menurut Sabih, tantangan utama bukan pada sistem, melainkan pada implementasi di lapangan. Masih banyak cabang dan ranting yang belum memanfaatkan Sicara secara optimal, meskipun aplikasi ini telah mengalami pembaruan hingga empat kali sebagai bentuk penyempurnaan.
“Pengembangannya terus dilakukan. Tinggal bagaimana komitmen pengguna di daerah untuk benar-benar menginput dan memperbarui data,” tambahnya.
Persoalan sumber daya manusia menjadi salah satu kendala utama. Banyak pengurus di tingkat cabang dan ranting memiliki keterbatasan waktu karena berbagai aktivitas, sehingga pengelolaan aplikasi belum berjalan maksimal.
Libatkan Anak Muda
Sementara itu Wakil Ketua LPCRPM PWM Jawa Timur, Firman Susanto Noor, menawarkan solusi dengan melibatkan kalangan muda atau tenaga pendidik di lingkungan cabang.
Menurutnya, pendekatan ini realistis untuk memastikan Sicara dapat berjalan secara konsisten.
“Jika pengurus tidak sempat, libatkan anak muda atau guru. Beri mereka tanggung jawab untuk mengelola aplikasi dan media cabang,” tegasnya.
Firman juga mendorong adanya dukungan dari lembaga pendidikan Muhammadiyah, dengan menunjuk satu operator yang fokus menangani Sicara dan media sosial.
Dia menyarankan adanya insentif sebagai bentuk apresiasi agar pengelolaan berjalan berkelanjutan. “Bisa diberikan insentif 150 ribu hingga 200 ribu rupiah per bulan. Insyaallah akan berjalan. Tidak ada alasan lagi Sicara tidak berjalan,” ajaknya.
Kesadaran Pentingnya Data
Lebih jauh, Firman menekankan bahwa tantangan terbesar bukan sekadar penggunaan aplikasi, tetapi membangun kesadaran akan pentingnya data.
Data yang akurat harus menjadi dasar dalam analisis dan pengambilan kebijakan organisasi. “Kesadaran inilah yang harus dibangun bersama. Data bukan sekadar diisi, tetapi dimanfaatkan untuk analisis dan pengembangan dakwah,” ungkapnya.
Forum ini juga mencatat adanya pekerjaan rumah bagi LPCRPM PWM Jawa Timur. Yakni mendorong seluruh cabang dan ranting agar memiliki komitmen dalam penyediaan data yang valid dan berkelanjutan.
Meeting regional ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat digitalisasi organisasi. Dengan optimalisasi Sicara, diharapkan seluruh aktivitas cabang dan ranting dapat terdokumentasi dengan baik. Dan bisa menjadi dasar pengembangan dakwah yang lebih terarah, terukur, dan responsif terhadap dinamika masyarakat. (#)
Jurnalis Yekti Pitoyo. Penyunting Sugiran.












