Utama

Puasa Ramadan Mendidik Kejujuran, Ketua PP Muhammadiyah Sebut sebagai Benteng Pencegah Korupsi

×

Puasa Ramadan Mendidik Kejujuran, Ketua PP Muhammadiyah Sebut sebagai Benteng Pencegah Korupsi

Sebarkan artikel ini
Ketua PP Muhammadiyah Bidang Pembinaan Kesehatan Umum, Kesejahteraan Sosial, dan Resiliensi Bencana dr. Agus Taufiqurahman, Sp.S., M.Kes., menyampaikan materi dalam Kajian Ahad Pagi Pimpinan Daerah Muhammadiyah Sidoarjo, Ahad, 15 Februari 2026. (Tagar.co/Yekti Pitoyo)

Puasa Ramadan bukan sekadar menahan lapar, tetapi latihan akhlak yang membentuk kejujuran dan integritas. Ketua PP Muhammadiyah dr. Agus Taufiqurahman menegaskan Ramadan sebagai momentum tajdid diri sekaligus benteng moral untuk mencegah korupsi dan krisis amanah bangsa.

Tagar.co – Kajian Ahad Pagi yang diselenggarakan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Sidoarjo, di Masjid An-Nur Sidoarjo, Ahad, 15 Februari 2026. bertema “Ramadan dan Tajdid Diri: Menyempurnakan Ibadah, Mensucikan Akhlak” berlangsung hangat dan mendapat perhatian jamaah.

 

Dalam kajian itu, dr. Agus Taufiqurahman, Sp.S., M.Kes., Ketua Bidang Pembinaan Kesehatan Umum, Kesejahteraan Sosial, dan Resiliensi Bencana Pimpinan Pusat Muhammadiyah, menegaskan bahwa puasa Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan haus, melainkan latihan akhlak yang harus melahirkan kejujuran.

Baca juga: Tajdid Diri di Bulan Ramadan, Ketua PDM Sidoarjo Tekankan Ibadah Sepanjang Hayat

Menurutnya, jika puasa dijalankan dengan benar, dampaknya tidak hanya terasa pada pribadi, tetapi juga meluas ke ranah sosial. Salah satu buah terbesarnya adalah menjadi benteng moral untuk mencegah korupsi.

Baca Juga:  Tak Cukup Angka dan Laporan, Lazismu Butuh Modal Batin

dr. Agus menilai persoalan besar bangsa saat ini adalah krisis amanah. Ia menyinggung praktik korupsi yang semakin memprihatinkan karena menyasar sektor-sektor vital, bahkan dana kebencanaan.

“Dana bencana saja dikorupsi. Ini bukan hanya salah, tetapi kejahatan moral. Padahal yang sedang dibantu adalah rakyat yang kesusahan,” tegasnya di hadapan jamaah.

Bagi dr. Agus, Ramadan merupakan momentum tajdid diri—pembaruan yang tidak berhenti pada peningkatan ibadah ritual semata, tetapi juga menyentuh inti karakter: jujur, bersih, dan takut berkhianat. Puasa, katanya, memiliki kekuatan besar dalam membentuk integritas karena ibadah ini tidak selalu terlihat oleh manusia.

Seseorang bisa saja berpura-pura berpuasa di hadapan orang lain, tetapi hakikatnya hanya Allah yang mengetahui. Dari situlah lahir rasa muraqabah, kesadaran bahwa setiap perilaku selalu berada dalam pengawasan-Nya.

“Kalau Ramadan datang, setan dibelenggu. Tapi kita masih malas ibadah, masih bohong, masih curang. Lalu bagaimana nanti ketika Ramadan selesai dan setan dilepas lagi?” ujarnya.

Ia menilai akar korupsi bukan semata kurangnya aturan atau lemahnya lembaga pengawas. Persoalan utamanya adalah runtuhnya akhlak. Ketika kesadaran spiritual hilang, seseorang mudah tergelincir meski sistem pengawasan sudah berlapis.

Baca Juga:  Menyiapkan UMKM Naik Kelas: Agenda Besar LPUMKM Muhammadiyah Sidoarjo 2026

Karena itu, puasa yang benar, menurutnya, harus mampu menahan seseorang dari kecurangan sekecil apa pun. Kebiasaan mengakali hal kecil, kata dia, sering kali menjadi pintu pembenaran untuk mengakali perkara yang lebih besar.

Perkuat Ibadah Malam

Selain berpuasa, dr. Agus juga mendorong jemaah menguatkan ibadah malam, terutama tahajud. Ia menyampaikan sindiran ringan yang disambut senyum jemaah.

“Nonton bola, Liga Champions, begadang gampang. Tapi tahajud rasanya badan ini seperti berubah jadi paku,” katanya.

Ia juga menyinggung penelitian yang pernah dilakukan di Surabaya oleh Muhammad Soleh yang kini menjadi profesor. Orang yang rutin tahajud, sebutnya, cenderung memiliki kadar hormon kortisol lebih rendah.

Kortisol merupakan hormon stres yang berpengaruh pada kondisi kesehatan dan daya tahan tubuh. Pesannya jelas: tahajud tidak hanya menguatkan spiritualitas, tetapi juga menjaga kesehatan jiwa dan raga.

Untuk menegaskan pentingnya kejujuran, dr. Agus mengisahkan cerita klasik tentang seorang penggembala yang diuji integritasnya. Sang khalifah merayu agar ia menjual kambing majikannya dan beralasan kambing tersebut hilang. Namun penggembala itu menolak.

Baca Juga:  Emil Dardak: Muhammadiyah Sudah Mendidik Bangsa sebelum Republik Lahir

“Kalau di sini hanya ada saya dan Tuan, lalu di mana Allah?” jawab sang penggembala.

Menurut dr. Agus, kejujuran lahir dari iman dan kesadaran bahwa Allah selalu hadir dalam setiap keputusan. Ia juga mencontohkan kisah sopir taksi yang mengembalikan tas berisi uang besar serta seorang office boy yang menyerahkan bungkusan uang yang ditemukannya di kantor.

“Orang jujur itu hidupnya berkah. Rezekinya bisa datang dari arah yang tidak disangka-sangka,” ujarnya.

Di akhir kajian, dr. Agus mengingatkan agar Ramadan tidak dijalani secara dangkal. Puasa, katanya, harus mengubah cara berbicara, cara bekerja, hingga cara menjaga amanah dalam kehidupan sehari-hari.

“Jangan sampai kita puasa tapi tetap menipu, tetap curang, tetap menyakiti orang. Ingat, kita ini wong poso,” tuturnya. (#)

Jurnalis Yekti Pitoyo Penyunting Mohammad Nurfatoni