
Kisah Anson Jerome Gehman menyentuh siswa SD Muhammadiyah 10 Surabaya, menghadirkan pelajaran iman, akhlak, dan keteladanan Islam melalui perjalanan panjangnya menemukan hidayah di Indonesia yang damai.
Tagar.co – Kisah perjalanan spiritual seorang mualaf asal Amerika Serikat menyita perhatian siswa English Study Club (ESC) SD Muhammadiyah 10 Surabaya dalam kegiatan Crossing The Bridge: Indahnya Islam, di Masjid Jenderal A. Yani Sidoyoso, Rabu (22/04/2026).
Di hadapan para siswa, hadir sosok Anson Jerome Gehman, yang memeluk Islam di Masjid Al-Falah, Surabaya pada tahun 2019. Dengan penyampaian yang hangat dan penuh ketulusan, Anson membagikan perjalanan panjangnya dalam menemukan hidayah—sebuah kisah yang tidak hanya menyentuh, tetapi juga membuka wawasan baru tentang Islam.
Baca juga: Buka Bersama SD Mumtas, Sinergi Guru dan Orang Tua kian Menguat
Anson datang bersama ibundanya, Bertha Gehman, serta putrinya, Sophia Gehman. Kehadiran mereka menjadi simbol rasa ingin tahu sekaligus kekaguman terhadap wajah Islam di Indonesia yang dikenal ramah dan penuh kasih.
“Islam adalah agama yang damai,” ujar Anson.
Ia menceritakan awal perkenalannya dengan Islam yang bermula dari lingkungan kerja, saat bertemu seorang Muslim asal Yordania bernama Kamal. Dari ajakan sederhana untuk menunaikan salat Jumat, perjalanan spiritual itu pun dimulai.
Kamal juga mendorong Anson untuk mengenal dunia Islam lebih jauh dengan mengunjungi berbagai negara Muslim, termasuk Indonesia.
Namun, proses pencarian tersebut tidak singkat. Anson mengaku membutuhkan hampir dua dekade hingga akhirnya mantap memeluk Islam, dengan Surabaya sebagai tempat ia mengikrarkan syahadat.
Di hadapan para siswa, ia mengajak untuk mensyukuri nikmat beragama di Indonesia. Menurutnya, kebebasan dan kenyamanan dalam menjalankan ajaran Islam di Indonesia merupakan anugerah besar—sesuatu yang tidak selalu ia temui di negaranya, di mana mualaf kerap menghadapi stigma dan penolakan.

Kisah haru pun terungkap saat Anson menceritakan perubahan dalam dirinya setelah menjadi Muslim. Ketika kembali ke Miami untuk menemui ayahnya yang sakit, sang ayah melihat perubahan sikap Anson yang menjadi lebih lembut dan berbakti.
Perubahan akhlak itulah yang akhirnya menyentuh hati ayahnya hingga memutuskan masuk Islam di usia 94 tahun, beberapa bulan sebelum wafat.
Melalui penerjemahnya, Felli, Anson menekankan pentingnya akhlak dalam berdakwah. “Keramahan, sikap hormat, dan kebaikan adalah cara paling nyata untuk menunjukkan keindahan Islam,” pesannya.
Ia juga mengungkapkan dua hal utama yang menguatkan keyakinannya. Pertama, ajaran Al-Qur’an tentang keberagaman manusia yang menekankan bahwa kemuliaan ditentukan oleh ketakwaan. Kedua, konsep ketuhanan dalam Islam yang sederhana dan tegas: Tuhan itu satu.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang berbagi cerita, tetapi juga menjadi ruang refleksi bagi para siswa. Dari kisah yang disampaikan, tersirat pesan kuat bahwa keindahan Islam bukan hanya terletak pada ajarannya, tetapi juga pada perilaku pemeluknya.
Dari Masjid Jenderal A. Yani Sidoyoso, tumbuh harapan baru—bahwa generasi muda akan semakin mencintai Islam dan menebarkan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari. (#)
Jurnalis M. Khoirul Anam Penyunting Mohammad Nurfatoni












