Prof. Chun-Yen Chang: AI Bisa Gerus Daya Pikir Kritis, Guru Tetap Kunci Pendidikan
Sebarkan artikel ini
Pakar pendidikan dari National Taiwan Normal University, Chun-Yen Chang, menyampaikan materi dalam kuliah tamu internasional di Universitas Muhammadiyah Malang, Ahad (5/4/2026). Kegiatan ini membahas ketahanan guru di era digital serta tantangan penggunaan AI dalam pendidikan.
Prof. Chun-Yen Chang dalam kuliah tamu di Universitas Muhammadiyah Malang mengingatkan bahwa penggunaan AI tanpa kontrol dapat melemahkan kemampuan berpikir kritis, sekaligus menegaskan peran guru yang tetap tak tergantikan dalam menjaga kualitas pembelajaran.
Tagar.co – Kehadiran kecerdasan buatan (AI) di dunia pendidikan dinilai tidak hanya membawa kemudahan, tetapi juga berpotensi melemahkan kemampuan berpikir kritis jika tidak digunakan secara bijak.
Hal ini menjadi sorotan utama dalam kuliah tamu internasional yang digelar Universitas Muhammadiyah Malang, Ahad (5/4/2026).
Melalui program Pendidikan Profesi Guru (PPG), UMM menghadirkan pakar pendidikan dari National Taiwan Normal University, Chun-Yen Chang, dalam forum bertajuk Teacher Resiliency in the Digital Age yang berlangsung di Rayz Hotel UMM.
Kegiatan ini diikuti ratusan peserta secara luring dan daring, dengan fokus pada kemampuan adaptasi guru menghadapi transformasi teknologi pembelajaran serta persaingan global.
Dalam pemaparannya, Prof. Chang mengingatkan bahwa penggunaan AI seperti ChatGPT harus disertai kesadaran kritis. Ia menilai ketergantungan berlebih pada teknologi dapat mengikis kapasitas berpikir mendalam.
“Ketika seseorang mulai menyerahkan proses berpikirnya kepada AI, maka secara perlahan kemampuan berpikir kritisnya akan menurun. Dalam jangka panjang, ini bisa merusak kedalaman cara berpikir,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa teknologi tidak dapat menggantikan interaksi emosional dalam proses belajar. Menurutnya, pembelajaran tatap muka tetap memiliki nilai penting karena menghadirkan sentuhan manusia yang autentik di dalam kelas.
“Saya tetap percaya pada kekuatan pembelajaran langsung. Bahkan alat sederhana seperti papan tulis dapat menjadi sangat efektif jika digunakan oleh guru yang mampu merancang pembelajaran dengan baik,” ujarnya.
Selain itu, Prof. Chang memberikan apresiasi terhadap ekosistem akademik UMM yang dinilai memiliki potensi kuat untuk kolaborasi riset internasional. Ia mengungkapkan rencana kerja sama untuk membandingkan perspektif mahasiswa calon guru di Taiwan dan Indonesia.
Suasana kuliah tamu internasional bertajuk Teacher Resiliency in the Digital Age yang digelar Universitas Muhammadiyah Malang di Rayz Hotel UMM, Ahad (5/4/2026).
Sementara itu, Wakil Rektor IV UMM, Muhammad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., menambahkan bahwa di tengah pesatnya perkembangan teknologi, guru tetap memegang peran sebagai penjaga nilai kemanusiaan dalam pendidikan.
Ia mengibaratkan guru seperti dokter yang tidak hanya dinilai dari kompetensi akademik, tetapi juga dari kemampuan membangun kedekatan emosional.
“Dalam dunia pendidikan, siswa akan lebih mudah menyerap pelajaran dari guru yang membuat mereka merasa nyaman. Relasi emosional itu sangat menentukan,” jelasnya.
Menghadapi era yang penuh ketidakpastian, Salis mendorong penguatan karakter melalui pendekatan going inside deeper. Ia menekankan pentingnya sikap terbuka terhadap pengalaman baru (openness to experience) serta pola pikir berkembang (growth mindset).
Menurutnya, keteladanan guru menjadi kunci dalam membentuk generasi yang tangguh di tengah disrupsi teknologi.
“Setiap zaman memiliki tantangannya sendiri. Cara terbaik mendidik siswa adalah dengan memberi contoh. Guru harus lebih dulu menunjukkan sikap terbuka dan percaya diri agar siswa dapat meneladani hal yang sama,” ujarnya.
Sinergi gagasan dari akademisi internasional dan nasional dalam forum ini menegaskan bahwa di tengah kemajuan teknologi, daya kritis, empati, dan keteladanan guru tetap menjadi fondasi utama dalam dunia pendidikan. (#)