
Tradisi tahunan ini menjadi momentum saling memaafkan antarwarga sekolah, sekaligus refleksi bersama untuk menjaga nilai ketakwaan dan kemuliaan diri setelah menjalani ibadah Ramadan di lingkungan pendidikan.
Tagar.co — Nuansa kekeluargaan begitu terasa di lingkungan SMA Muhammadiyah 1 (Smamsatu) Gresikm Jawa Tinur, Senin (30/3/2026), di hari pertama masuk sekolah usai libur panjang Idulfitri. Tradisi halalbihalal yang digelar bukan sekadar agenda rutin tahunan, melainkan momentum reflektif untuk mempererat silaturahmi sekaligus meneguhkan kembali nilai-nilai spiritual pasca-Ramadan.
Sejak pagi, suasana sudah terasa berbeda. Di lobi sekolah, para guru dan karyawan berjajar rapi menyambut kedatangan siswa. Senyum hangat, salam, serta jabat tangan mengalir tanpa sekat, menciptakan suasana akrab yang menyatukan seluruh warga sekolah dalam balutan kebersamaan.
Baca juga: Buka Puasa Bersama Smamsatu, Ustaz Sholihin Fanani Kupas Hakikat Puasa dengan Humor Segar
Sebelum prosesi halalbihalal berlangsung, seluruh sivitas akademika mengikuti apel pagi di lapangan sekolah. Dalam suasana khidmat, Wakil Kepala Bidang Ismuba, Muhammad Marzuki Yatim, S.Pd.Fis., menyampaikan amanat yang menggugah kesadaran spiritual.
Ia mengingatkan bahwa Ramadan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan proses pembentukan ketakwaan. “Ketakwaan berbanding lurus dengan kemuliaan. Semakin bertakwa seseorang, semakin mulia ia,” ujarnya di hadapan peserta apel.
Namun, ia menekankan bahwa tantangan sesungguhnya adalah menjaga nilai-nilai tersebut tetap hidup setelah Ramadan berlalu.

Dengan pendekatan reflektif, Marzuki mengajak peserta apel merenung melalui serangkaian pertanyaan. Ia menyinggung kemuliaan bulan Ramadan karena turunnya Al-Qur’an, peran Malaikat Jibril sebagai penyampai wahyu, hingga kedudukan Nabi Muhammad SAW sebagai manusia paling mulia yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.
Ia juga menegaskan bahwa manusia dimuliakan karena kedekatannya dengan Al-Qur’an. Bahkan, menurutnya, tanda-tanda kemuliaan tersebut dapat ditemukan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam penciptaan manusia itu sendiri.
Suasana semakin hening ketika ia membagikan kisah inspiratif Presiden ke-3 Republik Indonesia, B.J. Habibie. Dia menceritakan, Habibie pernah merasa penasaran karena selalu berada di peringkat ketiga selama studinya di Jerman. Setelah mencari tahu, ia menemukan bahwa dua mahasiswa yang selalu unggul darinya memiliki kebiasaan bangun di sepertiga malam untuk mempelajari Al-Qur’an secara mendalam.
Meski bukan Muslim, keduanya mengakui kebenaran Al-Qur’an. Kisah itu menjadi tamparan sekaligus renungan bagi Habibie—dan juga bagi seluruh peserta apel—tentang betapa besar kemuliaan Al-Qur’an bagi siapa pun yang sungguh-sungguh mendalaminya.
Dari rangkaian refleksi tersebut, Marzuki menegaskan satu pesan utama: menjaga kemuliaan pasca-Ramadan hanya dapat dilakukan dengan tetap dekat dan hidup bersama Al-Qur’an.

Apel pagi ditutup dengan doa dan ucapan khas Idulfitri yang menggema di lapangan, sebelum seluruh peserta kembali ke lobi untuk melanjutkan halalbihalal.
Dalam suasana yang kembali cair, para siswa bergantian bersalaman dengan guru dan karyawan, dilanjutkan antarsesama tenaga pendidik. Momen ini menjadi simbol saling memaafkan sekaligus mempererat hubungan antarsesama.
Lebih dari sekadar tradisi, halalbihalal di Smamsatu Gresik tahun ini menjadi pengingat mendalam: bahwa selepas Ramadan, yang harus dijaga bukan hanya hubungan antarmanusia, tetapi juga kedekatan dengan Al-Qur’an sebagai sumber kemuliaan hidup. (#)
Jurnalis Terry Angria Putri Perdana Penyunting Mohammad Nurfatoi












