Cerpen

Papa Mama, Teguh Sudah Bisa Beli Baju Sendiri

878
×

Papa Mama, Teguh Sudah Bisa Beli Baju Sendiri

Sebarkan artikel ini

 

Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Teguh kehilangan papa dan mama di usia yang sangat muda. Namun dari dapur kecil warisan ibunya, ia belajar bertahan hingga suatu hari datang ke makam dengan kabar yang membuat langit terasa lebih hangat.

Cerpen oleh Mochammad Nor Qomari, Guru SMP Muhammadiyah 12 GKB

Tagar.co – Langit pagi di Kabupaten Rempah masih lembut ketika Teguh Cahyadi berlari kecil di halaman rumahnya. Anak laki-laki berusia sepuluh tahun itu tampak ceria meski hidupnya tidak lagi lengkap. Kulitnya putih bersih, rambut hitam lurus menutupi keningnya, dan alis tebal membingkai mata yang selalu tampak penuh harap.

Klik dan baca kumpulan cerpen Mochammad Nor Qomari

Nama Teguh Cahyadi adalah doa dari kedua orang tuanya.

“Teguh artinya kuat,” kata papanya suatu sore ketika Teguh masih kecil.

“Cahyadi itu cahaya,” sambung mamanya sambil tersenyum.

“Supaya kamu jadi anak yang kuat dan membawa terang.”

Papanya, Adi Darma, seorang anggota Brimob, gugur lima tahun lalu saat bertugas di perbatasan. Sejak itu Teguh hanya hidup berdua dengan mamanya, Wulandari Hayati.

Mama Wulan adalah perempuan sederhana yang pandai membuat kue. Sejak remaja ia sudah menerima pesanan. Ramadan selalu menjadi musim paling sibuk. Donat, putu ayu, kue lapis, hingga nastar dan kastengel memenuhi dapur kecil mereka.

Dengan uang santunan dan pensiun, Mama Wulan membuka usaha kue rumahan bernama Omah Teguh.

Setiap pagi Mama mengantar Teguh ke sekolah, lalu berbelanja ke Pasar Tanggul Rejo. Motor Vario hitamnya sering tampak penuh dengan tepung, gula, dan mentega.

Teguh selalu menunggu di depan gerbang rumah.

“Mama…!” teriaknya riang.

Mama tersenyum. Lelahnya seperti hilang begitu saja.

Baca Juga:  Harga Cukur dan Harga Syukur

Di rumah, Mbok Siti membantu menurunkan belanjaan.

Sejak kecil Teguh suka berada di dapur. Awalnya hanya bermain lego di sudut ruangan sambil melihat Mama mengaduk adonan. Lama-kelamaan ia ikut membantu.

“Ambilkan tepung, Nak,” pinta Mama.

“Iya, Ma.”

Tangan kecil Teguh mulai terbiasa memegang sendok adonan. Kadang ia membantu menaburkan gula halus di atas donat.

“Hebat anak Mama,” puji Mama sambil mengusap rambutnya.

Hari-hari mereka sederhana, tetapi terasa hangat.

Namun suatu waktu Mama Wulan mulai sering kelelahan. Dadanya terasa nyeri. Ia kadang berhenti sebentar ketika mengaduk adonan.

“Teguh, Mama istirahat sebentar ya,” katanya pelan.

“Teguh yang jaga donatnya,” jawab Teguh serius.

Mama tersenyum, meski napasnya terasa berat.

Tanpa sepengetahuan Teguh, Mama memeriksakan diri ke klinik.

Hasil pemeriksaan itu membuatnya terdiam lama.

Kanker payudara stadium empat.

Mama Wulan tetap bekerja seperti biasa. Donat tetap digoreng, pesanan tetap dikirim. Ia menjalani pengobatan sebisanya, tetapi tubuhnya semakin lemah. Berat badannya turun drastis. Napasnya sering terasa sesak.

Suatu malam di rumah sakit, Teguh duduk di samping tempat tidur Mamanya.

Ia menggenggam tangan Mamanya erat-erat.

“Mama cepat sembuh ya… Teguh janji akan rajin belajar.”

Mama hanya tersenyum sambil menahan air mata.

Beberapa hari kemudian, Mama Wulan berpulang.

Teguh memeluk tubuh dingin itu sambil menangis.

“Ma… jangan tinggalin Teguh…”

“Ma… Teguh tidak bisa hidup tanpa Mama…”

Suara tangisnya pecah di ruangan yang sunyi.

Di saku daster Mama ditemukan selembar kertas.

Surat terakhir untuk Teguh.

Isi surat Mama Wulan

Anakku Teguh sayang…

Jika kamu membaca surat ini, berarti Mama sudah tidak bersamamu. Mama ingin dimakamkan di samping Papa, supaya kami tetap bersama menjaga kamu dari jauh.

Baca Juga:  Azan Terakhir Pak Sam

Jangan tinggalkan rumah kita. Di sanalah banyak kenangan dan harapan. Mbok Siti akan menemanimu.

Belajarlah yang rajin. Jadilah anak yang kuat seperti namamu.

Teruskan usaha donat kita. Setiap donat yang kamu jual adalah doa Mama untuk masa depanmu.

Suatu hari Mama ingin melihatmu memakai seragam masinis, membawa kereta penuh cahaya dan harapan.

Mama selalu sayang Teguh.

Sejak hari itu rumah terasa lebih sunyi.

Namun Mbok Siti tetap tinggal bersama Teguh.

Setiap pulang sekolah, Teguh langsung menuju dapur kecil Omah Teguh. Ia membantu menyiapkan donat karakter untuk dijual ke kampung dan pasar.

Kadang pelanggan lama datang.

“Ini donat buatan Teguh ya?” tanya seorang ibu.

Teguh mengangguk malu-malu.

“Rasanya sama seperti buatan Mama Wulan.”

Kalimat itu membuat Teguh tersenyum kecil.

Ramadan 2026 menjadi Ramadan pertama tanpa Papa dan Mama.

Kadang Teguh melihat teman-temannya pulang dari masjid bersama ayah atau ibu mereka. Ia hanya berdiri sebentar di depan gerbang, lalu berjalan masuk ke rumah.

Namun ia tetap bangun sahur, salat berjemaah di Masjid Hasanah, dan ikut tadarus bersama anak-anak kampung.

Suatu sore menjelang akhir Ramadan, Teguh menghitung uang hasil jualan donat di atas meja.

Ia menghitungnya berkali-kali.

Lalu ia berkata kepada Mbok Siti dengan mata berbinar,

“Mbok… uangnya cukup.”

“Cukup buat apa, Le?”

Teguh tersenyum lebar.

“Beli baju Lebaran.”

Keesokan harinya mereka pergi ke pasar kecil di ujung kampung.

Teguh memilih kaos biru dengan gambar kereta api di bagian depan. Ia juga membeli celana krem, sarung, dan peci hitam.

Baca Juga:  Suara dari Gang Pandan

Sepanjang perjalanan pulang, ia memeluk kantong plastik itu erat-erat.

Seolah membawa sesuatu yang sangat berharga.

Sore berikutnya Teguh berkata kepada Mbok Siti,

“Mbok, besok kita ziarah ya.”

Mereka berjalan sekitar lima ratus meter menuju makam.

Di sana dua nisan granit hitam berdiri berdampingan.

Teguh membuka ransel hijau kecilnya. Ia mengeluarkan toples berisi bunga tabur.

Dengan suara pelan ia berdoa,

“Ya Allah… sayangi Papa Mama Teguh. Lapangkan kuburnya.”

Bunga-bunga kamboja, melati, dan mawar perlahan menutupi gundukan tanah.

Mbok Siti berdiri di belakangnya sambil menahan air mata.

Tiba-tiba Teguh berbisik di depan nisan.

“Papa… Mama…”

Ia tersenyum kecil.

“Alhamdulillah… Teguh sudah bisa beli baju baru.”

Ia menunjuk kantong plastik yang dibawanya.

“Kaos biru gambar kereta api… celana krem… sama sarung dan peci hitam.”

Suara Teguh tetap ceria.

“Nanti kalau Teguh sudah besar, Teguh mau jadi masinis seperti yang Mama bilang.”

Angin sore berhembus pelan di antara pepohonan makam.

Mbok Siti menunduk, menyeka air mata yang akhirnya jatuh juga.

Teguh berdiri lebih lama di depan dua nisan itu.

Lalu ia berkata pelan,

“Teguh akan terus jual donat, Ma… Pa…”

“Kata Mama, setiap donat adalah doa.”

Mereka pulang dengan langkah perlahan.

Di dapur kecil Omah Teguh, aroma donat hangat kembali memenuhi udara.

Teguh menata dagangannya satu per satu.

Di wajahnya ada senyum kecil yang tenang.

Seolah ia tahu, dari langkah-langkah kecil itulah masa depannya akan dibangun. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni