
Al-Qur’an menggambarkan malam penuh rahmat ketika malaikat memenuhi bumi. Di antara doa dan istigfar manusia, langit dan bumi seakan bertemu.
Serial Ramadan (23); Muhammad Hidayatulloh (Cak Muhid); Penulis buku seri Epistemologi Qur’ani
Tagar.co – Ada satu malam dalam setahun ketika langit tidak terasa jauh dari bumi.
Pada malam itu, para malaikat turun berbondong-bondong membawa rahmat, ketentuan, dan kedamaian dari Allah.
Al-Qur’an menggambarkan peristiwa agung tersebut dalam Surah Al-Qadr.
تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ
“Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Rabb mereka untuk mengatur segala urusan.” (Al-Qadr: 4)
Baca juga: Lailatulqadar dan Rahasia Nilai Waktu dalam Al-Qur’an
Ayat ini menggambarkan sebuah peristiwa kosmik yang sangat agung.
Pada malam itu, langit seakan mendekat ke bumi.
Para malaikat turun membawa ketentuan Allah untuk berbagai urusan kehidupan manusia.
Tanazzal: Turun Berulang-ulang
Kata tanazzal dalam bahasa Arab menunjukkan proses yang terus-menerus.
Bukan satu malaikat yang turun, tetapi banyak malaikat yang turun secara bertahap sepanjang malam.
Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa jumlah malaikat pada malam itu sangat banyak, bahkan lebih banyak daripada jumlah kerikil di bumi.
Ini menunjukkan betapa besar kemuliaan malam tersebut.
Ar-Ruh: Malaikat Jibril
Ayat ini secara khusus menyebut ar-ruh, yang menurut mayoritas ulama tafsir adalah malaikat Jibril.
Penyebutan Jibril secara khusus menunjukkan kemuliaan malam ini, karena Jibril adalah malaikat yang membawa wahyu kepada para nabi.
Menurut penjelasan Al-Qurtubi, turunnya Jibril bersama para malaikat menunjukkan bahwa malam ini penuh dengan rahmat dan keberkahan Ilahi.
Malam yang Dipenuhi Rahmat
Mengapa para malaikat turun?
Karena malam itu penuh dengan doa, istigfar, dan ibadah dari manusia.
Para malaikat hadir sebagai saksi dan pembawa rahmat.
Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa para malaikat mendatangi majelis-majelis zikir dan orang-orang yang beribadah.
Lailatulqadar adalah malam ketika bumi dipenuhi oleh rahmat Allah.
Epistemologi Kedekatan Langit dan Bumi
Dalam perspektif epistemologi Qur’ani, malam ini menunjukkan bahwa hubungan antara langit dan bumi tidak pernah terputus.
Wahyu turun dari langit.
Malaikat turun membawa rahmat.
Manusia naik dengan doa dan ibadah.
Pada malam ini, jarak antara manusia dan rahmat Allah menjadi sangat dekat.
Momentum Hari Ke-23
Hari ke-23 adalah salah satu malam ganjil yang sangat diharapkan menjadi Lailatulqadar.
Banyak ulama menilai malam ini sebagai salah satu kemungkinan besar.
Namun yang lebih penting bukan memastikan malamnya, tetapi memastikan kesungguhan kita.
Karena malam itu hanya bernilai bagi mereka yang menghidupkannya dengan ibadah.
Refleksi
Bayangkan sebuah malam ketika para malaikat memenuhi bumi.
Bayangkan sebuah malam ketika doa-doa naik ke langit tanpa terhalang.
Bayangkan sebuah malam yang lebih berharga daripada puluhan tahun kehidupan biasa.
Malam itu mungkin sedang kita jalani sekarang.
Pertanyaannya: Apakah kita sedang terjaga bersama malaikat? Ataukah kita tertidur melewatkan salah satu malam paling berharga dalam hidup? (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












