
Ratusan guru, karyawan, dan tamu undangan memadati Aula Matahari Smamsatu Gresik dalam kegiatan buka puasa bersama Ramadan 1447. Dalam tausiahnya, Ustaz Sholihin Fanani mengupas hakikat puasa dengan gaya ringan, humor segar, sekaligus pesan mendalam.
Tagar.co – Menjelang waktu berbuka puasa, Rabu sore (11/3/2026). Aula Matahari SMA Muhammadiyah 1 (Smamsatu) Gresik dipenuhi ratusan guru, karyawan, dan tamu undangan. Mereka berkumpul dalam kegiatan buka puasa bersama yang dirangkai dengan tausiah Ramadan 1447.
Sebanyak 101 guru dan karyawan Smamsatu Gresik hadir dalam kegiatan tersebut, bersama 33 tamu undangan. Acara dimulai pukul 16.30 WIB dipandu pembawa acara Eka Rohmatun Nazilah, S.Pd.
Baca juga: Tiga Amalan yang Dicintai Allah Jadi Pesan Kajian Ramadan IPM Smamsatu
Suasana kemudian berubah khidmat ketika Shaddam Attallah, siswa kelas X-6 Smamsatu Gresik, melantunkan ayat suci Al-Qur’an. Lantunan tilawah yang merdu membuat seluruh peserta terdiam, menyimak dengan penuh kekhusyukan.
Kepala Smamsatu Gresik, Nurul Ilmiyah, S.Pd., dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada para tamu undangan yang telah meluangkan waktu untuk hadir dalam kegiatan tersebut.
Sambutan berikutnya disampaikan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Gresik, Muhammad Thoha Mahsun, S.Ag., M.Pd.I., M.HES. Dalam pesannya, ia mengingatkan bahwa umat Islam telah memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan.
“Mari kita evaluasi ibadah kita dan kita tingkatkan lagi, mumpung masih ada kesempatan delapan hari lagi,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan bahwa Muhammadiyah menetapkan Idulfitri pada Jumat, 20 Maret 2026 berdasarkan KHGT. Ia mengajak warga Muhammadiyah untuk menaati keputusan tersebut sebagai bentuk komitmen terhadap perserikatan.
Dalam kesempatan itu, ia juga menegaskan bahwa Smamsatu merupakan salah satu amal usaha Muhammadiyah (AUM) unggulan milik PDM Gresik.
“Smamsatu adalah salah satu unggulan kami. Mari kita jaga bersama, kita rawat bersama, dan kita kembangkan bersama. Jangan sampai ada persoalan yang merugikan sekolah kita,” ujarnya.

Memasuki sesi inti, tausiah Ramadan disampaikan oleh Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, Dr. H. M. Sholihin Fanani, M.P.SDM.
Selama kurang lebih satu jam, ia mengupas hakikat puasa Ramadan dengan gaya penyampaian yang ringan dan penuh humor. Beberapa kali Aula Matahari pecah oleh tawa para peserta. Meski demikian, pesan yang disampaikan tetap sarat makna.
Salah satu yang disampaikannya berkaitan dengan hakikat puasa sebagai tariqatul malaikat, yakni menempuh jalannya para malaikat. Jalan para malaikat, menurutnya, adalah rajin beribadah, memuji, dan mengagungkan Allah.
“Tapi kita kan tidak ya,” ujarnya sambil tersenyum. “Kita ini di puasa ini mengagungkan THR.”
Ucapan tersebut langsung disambut gelak tawa para peserta. Ia kemudian melanjutkan dengan candaan yang semakin menghidupkan suasana.
“Kalau THR besar, kepala sekolah dipuji mati-matian. ‘Wah, kepala sekolahku top.’ Tapi kalau THR kecil, langsung nyeletuk, ‘Alah opo, ga nyucuk,’” katanya, kembali disambut tawa hadirin.
Di balik humor tersebut, ia menegaskan bahwa hakikat puasa sesungguhnya adalah merasa cukup dengan urusan dunia dan merasa kurang dalam urusan akhirat. Namun, menurutnya, realitas yang sering terjadi justru sebaliknya.
“Tapi kita ini perasaan di Ramadan dan tidak ya sama saja. Bahkan kita kok kayaknya lebih sibuk dengan dunia pas Ramadan ini. Ribut THR, baju baru, jajan suguhan,” katanya.

Ia juga menjelaskan bahwa puasa yang berkualitas setidaknya melahirkan lima sikap utama yang ia sebut sebagai konsep 4T + 1I, yakni taqarrub ilallah (mendekatkan diri kepada Allah), taubat, takwa, tawakal, dan ikhlas.
Menurutnya, takwa memiliki dua unsur penting, yakni taat dan takut kepada Allah.
“Takwa itu ada dua: taat dan takut. Sayangnya sekarang banyak orang yang taat, tetapi tidak takut,” ujarnya.
Ia lalu menceritakan pengalaman yang pernah ia lihat di sebuah alun-alun, tanpa menyebutkan nama kotanya. Saat itu ia melihat beberapa pemuda mengenakan baju koko dan kopiah sedang merokok dan tidak berpuasa.
“Secara identitas jelas Islam, pakai baju koko dan kopiah. Tetapi rasa takut kepada Allah itu hilang. Ini yang perlu kita renungkan bersama,” tuturnya.
Selain itu, ia juga menjelaskan terkait tawakal. Menurutnya, tawakal bukan sekadar pasrah secara lisan, tetapi benar-benar menyerahkan seluruh urusan kepada Allah.
“Kadang kita bekerja, tetapi belum sepenuhnya pasrah. Masih sibuk memikirkan gaji dan hal-hal lain. Padahal jika usaha kita tidak sebanding dengan apa yang kita terima, itu tidak hilang. Allah akan menggantinya dengan keberkahan lain,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa setiap amal harus dilandasi dengan keikhlasan semata-mata mengharap rida Allah.
Dalam salah satu kisah yang ia sampaikan, terdapat hadis yang menggambarkan tentang makhluk terkuat ciptaan Allah. Gunung adalah makhluk yang kuat. Namun Allah menciptakan besi yang mampu menghancurkan gunung.
Kemudian Allah menciptakan api yang dapat melelehkan besi. Setelah itu Allah menciptakan air yang mampu memadamkan api, lalu angin yang dapat menggerakkan air.
Namun di antara semuanya, terdapat sesuatu yang lebih kuat, yakni sedekah yang dilakukan dengan ikhlas.
Pesan tersebut mengantarkan pada satu perumpamaan sederhana yang disampaikan dengan gaya khasnya.
“Cara terbaik menyimpan makanan bukan di kulkas, tetapi dengan berbagi. Cara terbaik menyimpan uang bukan di bank, melainkan dengan berinfak,” katanya.
Ia melanjutkan bahwa ketika berinfak, sebenarnya kita menitipkan harta kepada Allah.
“Saat kita membutuhkan, Allah akan mengembalikannya, bahkan dengan jumlah yang lebih,” tuturnya.
Menjelang waktu berbuka, kebersamaan di Aula Matahari tidak hanya menjadi agenda buka puasa bersama, tetapi juga pengingat bahwa Ramadan adalah momentum memperbaiki diri, menumbuhkan keikhlasan, serta memperkuat ketakwaan kepada Allah.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan buka puasa bersama yang diikuti seluruh peserta. Setelah itu, para guru, karyawan, dan tamu undangan melaksanakan salat Magrib berjemaah. Rangkaian kegiatan Ramadan tersebut berlanjut dengan salat Isya dan tarawih berjemaah, menutup kebersamaan yang penuh makna di Aula Matahari Smamsatu Gresik. (#)
Jurnalis Terry Angria Putri Perdana | Penyunting Mohammad Nurfatoni











