Feature

Masjid Uranggantung Kejutan Baru PCM Candipuro

107
×

Masjid Uranggantung Kejutan Baru PCM Candipuro

Sebarkan artikel ini
Masjid Al-Adha di Dusun Uranggantung
Masjid Al-Adha di Dusun Uranggantung Candipuro Lumajang. (Tagar.co/Kuswantoro)

Masjid Al-Adha Uranggantung menjadi ikon baru di dusun ini. Gaya arsitekturnya yang megah menarik jemaah untuk hadir salat di sini. Getaran gerak dakwah makin dirsakan masyarakat. 

Tagar.co – Dusun Uranggantung di Desa Jarit, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, sore itu tampak lebih hidup dari biasanya.

Di pelataran Masjid Al-Adha Uranggantung, sejumlah warga sudah berkumpul menunggu kedatangan tamu dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lumajang.

Jumat, 6 Maret 2026, rombongan pimpinan Muhammadiyah Lumajang datang di acara Safari Ramadan yang dikemas dengan buka puasa bersama warga setempat.

Rombongan berangkat dari Gedung Dakwah Muhammadiyah Lumajang sekitar pukul tiga sore. Di dalam rombongan itu hadir penasihat PDM Suharyo, Wakil Ketua PDM Yosie Sudarso, dan Sekretaris PDM Zainal Abidin.

Dari unsur Pimpinan Daerah Aisyiyah Lumajang turut hadir Endang Nurhayati dan Sarunti. Sementara Zainal Abidin berangkat dari rumahnya di Yosowilangun langsung bergabung dengan rombongan di lokasi kegiatan.

Setibanya di Uranggantung, rombongan disambut oleh anggota Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Candipuro, Abdul Samar dan Sutaryono.

Sebelum acara dimulai, perhatian tamu tertuju pada bangunan masjid yang berdiri kokoh di tengah dusun itu. Berdiri di atas tanah 10 x 20 meter, Masjid Al-Adha tampak megah. Warna putihnya mencolok. Bangunan baru dengan hiasan ornamen membuatnya makin cantik. Masjid ini menjadi kebanggaan warga Muhammadiyah Uranggantung.

Baca Juga:  Kapolsek Mantup Ajak Warga Jaga Kamtibmas Selama Ramadan

Dana Urunan

Sutaryono bercerita, masjid itu bukan dibangun dengan cara instan. Dibangun awal tahun 2025. “Pembangunan masjid ini menelan biaya sekitar Rp1,4 miliar dengan waktu pembangunan 11 bulan,” kata Sutaryono kepada rombongan.

Ia menjelaskan, sebagian besar dana pembangunan berasal dari swadaya warga sekitar masjid dan anggota Persyarikatan Muhammadiyah.

“Alhamdulillah, semuanya dari kebersamaan. Dari jemaah, dari warga, dan dari keluarga besar Muhammadiyah,” ujarnya.

Yang juga membuat mereka lega, kata Sutaryono, status tanah masjid sudah jelas.

“Sertifikat wakafnya sudah sah dan resmi menjadi milik Muhammadiyah,” katanya.

Bagi warga Uranggantung, berdirinya masjid ini bukan sekadar bangunan ibadah. Masjid itu diharapkan menjadi pusat gerakan dakwah Islam di dusun tersebut.

“Dengan berdirinya Masjid Al Adha ini, kami berharap menjadi corong dakwah Islam, khususnya perjuangan Muhammadiyah di Uranggantung,” ujar Sutaryono.

Perlahan harapan itu mulai terlihat. Aktivitas di masjid semakin ramai. Setiap Jumat, jemaah salat Jumat bisa mencapai sekitar 130 orang.

Di hari yang sama, pengurus masjid juga mengadakan program Jumat Berkah. Masjid ini juga menjadi tempat belajar anak-anak.

Baca Juga:  Tarhib Ramadan dalam Bayangan Asap Semeru

“Di sini juga ada TPQ. Ini bagian dari proses pengkaderan di Muhammadiyah,” kata Sutaryono.

Ia menegaskan, kaderisasi adalah hal penting bagi keberlanjutan dakwah.“Kalau tidak mengkader, siapa nanti yang akan meneruskan perjuangan kami,” ujarnya.

Ramadan tahun ini menjadi momentum yang lebih hangat bagi warga sekitar masjid. Setiap hari, jemaah berkumpul untuk berbuka puasa bersama.

Menggerakkan Dakwah

Dalam kesempatan itu, Sekretaris PDM Lumajang Zainal Abidin mengaku bersyukur melihat masjid tersebut kini telah berdiri megah di tengah masyarakat Uranggantung.

“Satu tahun yang lalu kami datang ke sini, pembangunan masjid ini masih belum selesai. Sekarang sudah berdiri megah dan bahkan sudah terpampang papan nama berlogo Muhammadiyah,” ujarnya.

Menurut Zainal, Pimpinan Daerah Muhammadiyah Lumajang saat ini membina sedikitnya 53 masjid di berbagai wilayah Lumajang, dan Masjid Al-Adha menjadi salah satunya.

“Di sini juga ada tokoh-tokoh penting yang menggerakkan dakwah, seperti Pak Taryono dan para jemaah yang luar biasa,” katanya.

Ia berharap keberadaan masjid ini tidak hanya menjadi tempat ibadah semata.

Baca Juga:  Lazismu Lumajang Audiensi ke Bupati

“Mari kita jadikan masjid ini tidak sekadar tempat salat, tetapi juga tempat pembinaan akidah sesuai tuntunan Rasulullah,” katanya.

Selain itu, ia juga mendorong agar masjid bisa menjadi pusat aktivitas sosial dan ekonomi umat.

“Masjid juga harus menjadi pusat ekonomi untuk menggerakkan perjuangan Muhammadiyah,” terangnya.

Melalui aktivitas yang tumbuh di masjid, Zainal berharap jamaah dapat meraih kebahagiaan yang lebih luas.

“Melalui masjid ini semoga para jemaah menjadi wasilah menuju kebahagiaan dunia dan akhirat,” pungkasnya.

Sore itu, sebelum azan Magrib berkumandang, suasana masjid ceria dan akrab. Warga, pimpinan  Muhammadiyah, dan rombongan PM duduk bersama di serambi masjid.

Di dusun kecil bernama Uranggantung itu, sebuah masjid baru telah berdiri. Bukan hanya bangunannya yang megah. Tetapi juga harapan warganya: agar dakwah Islam terus hidup dari generasi ke generasi. (#)

Jurnalis Kuswantoro  Penyunting Sugeng Purwanto