Telaah

Ramadan Terakhir

95
×

Ramadan Terakhir

Sebarkan artikel ini
Ramadan terakhir
Ilustrasi

Ramadan terakhir di kehidupan sebaiknya menjadi bayangan manusia setiap bulan ini datang, sehingga bisa menjalani laku mengendapkan nafsu menuju harapan takwa.

Oleh Nurillah Achmad, Alumnus Pondok Pesantren TMI Putri Al-Amien Prenduan Sumenep, alumnus Fakultas Hukum Universitas Jember.

Tagar.co – Rasanya, ada aroma getir kala Ramadan datang menyapa. Kegetiran ini lahir saat saya teringat hubungan dengan Allah ta’ala.

Seringkali dalam laku hidup sehari-hari, hubungan kami ini renggang berjauhan. Bukan sebab Tuhan pergi, melainkan saya yang acapkali melaungkan rasa kecewa saat menapaki kenyataan hidup.

Saya juga lupa, berapa Ramadan yang berlalu sebatas angka di kalender tua. Sampai-sampai kali ini saya membatin, akankah Ramadan tahun ini pergi begitu saja seperti tahun-tahun kemarin? Bagaimana jika ini Ramadan terakhir? Apa yang akan saya suguhkan kepada Tuhan saat bersua nanti?

Sungguh, seluruh pertanyaan ini berhasil menciptakan batin bergemuruh, mengingat saya tidak tahu bagaimana keadaan daun Sidratulmuntaha yang berisi nama saya di atas langit sana.

Akankah tubuhnya masih hijau segar? Atau justru urat-uratnya mulai layu, dan menunggu waktu untuk sampai di tangan Malaikat Izrail?

Ah, entahlah. Saya betul-betul tak sanggup membayangkan masa itu. Masa di mana seluruh jubah keakuan yang selama ini saya tenun, berganti lembaran kain kafan. Sementara kontrak saya di muka bumi yang telah berakhir, saat itu telah berada di tangan Tuhan.

Baca Juga:  Ilmu sebagai Darah Daging Muhammadiyah

Saya akui, Ramadan adalah jalan yang sengaja Tuhan sediakan agar kita kembali ke ajaran purba, yakni menjalani laku diam. Entah diam dari nafsu, keakuan atau dari segala hal.

Akan tetapi menjalani laku diam tak semudah zaman Jawa kuno di mana masyarakatnya memang gemar bertirakat puasa mutih, patigeni, ngrowot atau weton. Bahkan konon, ada pendapat yang menyebut Mahapatih Gajah Mada melakukan tirakat puasa mutih demi tercapainya Sumpah Palapa.

Seperti Memanggul Batu

Saat ini, saya hidup di zaman media sosial yang perkembangannya melesat cepat bagai anak panah lepas dari busur. Ada banyak aplikasi yang membuat saya bisa tahan lama memandangi layar gawai.

Bahkan tak jarang jemari tangan tergelincir membagikan jubah keakuan di media sosial. Padahal semestinya sesuatu itu cukup Tuhan saja sebagai saksinya sebagaimana ayat kafa billahi syahida. Bukan demi orang lain tahu. Sayangnya, berulangkali saya terjerat permainan bianglala kehidupan.

Sungguh, menjalani laku diam ini sangatlah sulit. Rasanya, ada riuh bergemuruh ketika mencoba menepi. Padahal Jalaluddin Rumi telah memberikan saran jikalau, “Jalan Tuhan itu seringkali sunyi. Ia tidak butuh penonton dan kamu akan baik-baik saja di dalamnya meski kamu tidak disorot siapa-siapa.”

Baca Juga:  Lebaran tanpa Manhaj, Hari Ini Buka Puasa Besok Salat Idulfitri

Tetapi tiap kali mencoba, tiap kali itu pula godaan bergemuruh. Sampai-sampai saya membatin, jangan-jangan saya adalah Sisyphus yang dikutuk Dewa Zeus memanggul batu menuju puncak bukit.

Di mana tiap kali hampir tiba di puncak, batu itu selalu terjatuh ke dalam jurang. Akibatnya Sisyphus harus kembali turun dan memanggulnya ke puncak. Begitu berulang-ulang sepanjang hidup, dan sungguh, saya tidak menginginkan laku hidup macam Sisyphus.

Barangkali satu-satunya cara menjalani laku diam di zaman sekarang adalah dengan memvisualisasikan diri bahwasannya ini adalah Ramadan terakhir.

Barangkali dengan begitu, sejenak saya bisa menyingkirkan diri dari media sosial. Bahkan saat ini, saat menuliskan sedikit pandangan terkait Ramadan kali ini, batin saya berulangkali bertanya-tanya. Jangan-jangan, tulisan ini lahir lantaran saya gagal menjalani laku diam?

Pesan Kiai

Ah, entahlah. Sekali lagi, saya benar-benar tidak tahu. Yang saya tahu adalah berusaha berpegang teguh akan laku hidup almarhum Kiai Idris Djauhari yang diwariskan sebagai nubuat kehidupan.

Saat menyantri dulu, saat-saat saya kelas akhir di mana Mahaguru saya ini masih terus mengajar meski dipapah sementara tangan berpegangan tongkat, seringkali beliau membuka pertemuan dengan kalimat yang nyaris sama, yakni: “Dan akhirnya, alhamdulillah.”
Tak lama kemudian, beliau melanjutkan,“Mari luruskan niat, Nak. Luruskan niat karena Allah.”

Baca Juga:  Rindu Ramadan Terbalaskan dengan Puasa Syawal

Selalu begitu berulang-ulang di tiap pertemuan, dan saya yang bosan menggerutu dalam batin,“Kenapa Kiai selalu mengucapkan hamdalah di awal pertemuan? Bukannya cukup di akhir setelah mengajar saja? Lagi pula, kenapa kita selalu diminta meluruskan niat terus-menerus? Tidak bosankah mengulang-ulang nasihat yang sama?”

Saya memang belum sempat menanyakan langsung lantaran dedaun Sidratulmuntaha milik Kiai keburu gugur beberapa hari sebelum saya wisuda. Tapi, yang saya tahu, mengingat nasihat Kiai di zaman sekarang ini ibarat menggenggam bara api dalam tangan.

Bukan isi nasihatnya yang tidak relevan, melainkan saya yang kerapkali berbelok, berputar arah atau terjatuh, sehingga bara api itu berubah menjadi debu, lalu berterbangan dari telapak tangan. (#)

*Penulis juga penulis novel berjudul Berapa Jarak antara Luka dan Rumahmu? (Elex Media Komputindo) yang meraih nominasi sebagai novel remaja islami terbaik di Islamic Book Fair (IBF) 2024.

Penyunting Sugeng Purwanto