Feature

Bolak-balik Ditolak Scopus, Perjuangan Prof. Sigit Hermawan Berujung Pengukuhan Guru Besar

120
×

Bolak-balik Ditolak Scopus, Perjuangan Prof. Sigit Hermawan Berujung Pengukuhan Guru Besar

Sebarkan artikel ini
Prof. Dr. Sigit Hermawan, SE., M.Si., CIQaR, CRP (tengah), berfoto bersama kolega dan tamu undangan saat acara Tasyakuran Pengukuhan Guru Besar di Heritage of Handayani, Sidoarjo, Senin (9/2/2026). Pengukuhan tersebut menandai perjalanan panjang akademik Prof. Sigit yang ditempuh melalui riset, ketekunan, dan keteguhan menghadapi penolakan jurnal bereputasi internasional. (Tagar.co/Yekti Pitoyo)

Di balik pengukuhan Guru Besar Sigit Hermawan, ada perjalanan panjang yang diwarnai penolakan jurnal internasional dan keteguhan menjaga ikhtiar akademik.

Tagar.co – Tidak semua orang kuat menghadapi penolakan—terlebih penolakan yang datang berulang kali dan menyasar kerja intelektual. Jalan itulah yang ditempuh Sigit Hermawan selama bertahun-tahun.

Naskah dikirim ke jurnal bereputasi internasional Scopus, ditolak, diperbaiki, lalu dikirim kembali. Ditolak lagi. Proses itu berulang, sampai ketekunan akhirnya berbuah pada satu titik yang selama ini ia kejar: pengukuhan sebagai Guru Besar.

Baca juga: Profil Yekti Pitoyo, Aktivis-Jurnalis Peraih Penghargaan Amil Berprogres Lazismu Award 2025

Titik itu dirayakan pada Senin, 9 Februari 2026, di Sidoarjo. Di Heritage of Handayani, Jalan Kahuripan Raya 27 A, suasana tasyakuran pengukuhan Guru Besar Prof. Dr. Sigit Hermawan, SE., M.Si., CIQaR, CRP, berlangsung hangat dan bersahaja.

Acara tersebut terasa seperti jeda setelah perjalanan panjang—ruang sejenak untuk menghela napas, merayakan proses yang telah dilewati, sebelum melangkah dengan tanggung jawab akademik yang lebih besar.

Di hadapan para tamu, Prof. Sigit menyingkap jalan riset panjang yang mengantarkannya ke jabatan akademik tertinggi. Riset itu bukan kerja singkat, melainkan perjalanan ilmiah yang ditempuh dengan kesabaran dan konsistensi.

Baca Juga:  Dari Kacang Gangsar ke Masjid, Sutrimo Tanamkan Semangat untuk Marbot

“Saya riset di lembaga amil zakat dengan tema integrasi intelektual dan modern philanthropy untuk peningkatan kinerja dan inovasi LAZ di Indonesia sejak 2018 hingga 2024. Penelitian dilakukan di lima lembaga zakat pada lima kabupaten di Jawa Timur, dengan metode in-depth interview dan FGD,” jelasnya.

Riset tersebut menjadi bagian penting dari pemenuhan syarat akademik menuju Guru Besar. Di balik data dan metodologi, ada tahun-tahun disiplin—mengatur waktu, menjaga fokus, dan bertahan di tengah tuntutan struktural kampus.

Prof. Dr. H. Isa Anshori, M.Si., menyampaikan sambutan pada acara Tasyakuran Pengukuhan Guru Besar Prof. Dr. Sigit Hermawan, SE., M.Si., CIQaR, CRP, di Heritage of Handayani, Sidoarjo, Senin (9/2/2026). Dalam sambutannya, Prof. Isa menekankan pentingnya ketekunan, ikhtiar akademik, dan makna syukur dalam perjalanan meraih jabatan fungsional tertinggi dosen. (Tagar.co/Yekti Pitoyo)

Ucapan selamat disampaikan Prof. Dr. H. Isa Anshori, M.Si.. Menurut dia  Prof. Sigit adalah sosok yang gigih memperjuangkan capaian akademik, tidak hanya untuk kepentingan pribadi, tetapi juga untuk mendorong iklim keilmuan di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo agar terus bertumbuh.

“Selamat kepada Prof. Sigit yang gigih memperjuangkan nasib dirinya dan teman-teman di Umsida,” ujarnya.

Ia lalu menyinggung sesuatu yang kerap luput dari dokumentasi seremoni akademik: ritme kerja.

“Prof. Sigit bekerja fokus dari pagi hingga malam di Umsida. Kalau saya memang ada tugas di kampus lain,” katanya.

Baca Juga:  Dari Rakorsus Kurban ke Meja Makan: Rendangmu Jadi Solusi Praktis Keluarga

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan disiplin panjang. Ada waktu yang dipangkas dari jeda istirahat, ada malam-malam yang diisi membaca, menulis, dan memperbaiki naskah.

Bagi Prof. Isa, ikhtiar maksimal adalah keharusan—meskipun hasil akhir tetap berada dalam kehendak Allah Swt. “Semua ikhtiar manusia, yang menentukan hasil adalah Allah,” ucapnya.

Prof. Isa juga menyinggung fase yang kerap dialami di kampus: tanggung jawab struktural yang berjalan beriringan dengan perjuangan akademik. Ada masa ketika amanah pimpinan tidak mengendurkan ikhtiar intelektual.

“Saya dan Prof. Sigit waktu itu sama-sama menempuh kuliah S3, dan menjadi Warek 1 dan 2 di Umsida,” tuturnya.

Di titik itu, gelar bukan lagi soal prestise. Ia menjadi soal manajemen diri—kemampuan bertahan, menjaga fokus, dan tidak menyerah. Prof. Isa menegaskan, Guru Besar adalah jabatan fungsional tertinggi dalam dunia akademik. Namun, semakin tinggi posisi, semakin besar pula ujian yang menyertai.

Ia mengibaratkannya seperti pohon yang kian menjulang: semakin tinggi, semakin kencang angin yang menerpa. “Pohon tinggi, angin semakin kencang. Banyak godaan,” katanya.

Keberhasilan pun, menurutnya, tidak selalu langsung bisa dinikmati. Setiap capaian justru melahirkan tanggung jawab baru. “Berhasil itu tidak langsung menikmati,” ujarnya.

Baca Juga:  Peran Strategis Cabang dan Ranting Jadi Kunci Kemajuan Amal Usaha Muhammadiyah

Dalam sambutannya, Prof. Isa menyebut fase berat yang pernah dialami Prof. Sigit: penolakan berulang dalam jurnal bereputasi internasional.
“Bolak-balik ditolak artikelnya di Scopus,” ungkapnya.

Bagi akademisi, penolakan bukan hal asing. Namun tetap saja menyakitkan. Naskah yang disusun berbulan-bulan bisa kembali dengan satu kata penilaian: ditolak. Lalu menulis ulang, memperbaiki, mengirim kembali, dan menunggu lagi.

Penolakan itu tidak membuat Prof. Sigit berhenti. Ia terus menulis, terus mencoba, dan terus memperbaiki. “Tidak menyerah, terus berjuang,” tambah Prof. Isa.

Di situlah letak kemenangan yang sesungguhnya—bukan semata pada gelar yang disematkan, melainkan pada keteguhan untuk tidak berhenti di tengah jalan.

Menutup sambutannya, Prof. Isa mengingatkan makna syukur yang utuh. Syukur tidak cukup diucapkan, tetapi harus hidup di hati dan dibuktikan dalam perbuatan.
“Bersyukur itu dengan lisan, hati, dan perbuatan,” tegasnya.

Ia berharap capaian Guru Besar Prof. Sigit Hermawan tidak hanya menjadi kebanggaan personal, tetapi juga membawa manfaat dan keberkahan bagi Umsida serta masyarakat luas. (#)

Jurnlais Yekti Pitoyo Penyunting Mohammad Nurfatoni