Feature

Tapak Suci, Deep Learning, dan Pendidikan Karakter di Sekolah Kreatif Baratajaya

105
×

Tapak Suci, Deep Learning, dan Pendidikan Karakter di Sekolah Kreatif Baratajaya

Sebarkan artikel ini
Suasana latihan Tapak Suci kelas III Sekolah Kreatif Baratajaya di hall lantai 3 sekolah, Jumat (6/2/2026) (Tagar.co/Ahmad Mahmudi)

Setiap Jumat pagi, siswa kelas 3 Sekolah Kreatif Baratajaya tidak langsung duduk di bangku kelas. Mereka berlatih Tapak Suci—belajar disiplin, hidup sehat, dan makna pembelajaran mendalam sejak usia dini.

Tagar.co — Hall lantai 3 Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 6 Baratajaya Surabaya tampak berbeda pada Jumat pagi (6/2/2026). Tepat pukul 08.00 WIB, ruangan itu memerah oleh seragam Tapak Suci Putra Muhammadiyah yang dikenakan siswa kelas III. Sejak awal, suasana disiplin dan semangat terasa kuat ketika satu per satu siswa bersiap mengikuti latihan bela diri rutin setiap Jumat.

Di Sekolah Kreatif Baratajaya, Tapak Suci tidak diposisikan sekadar sebagai ekstrakurikuler. Kegiatan ini dirancang sebagai kokurikuler—bagian integral dari proses pembelajaran. Hal itu disampaikan Agus Mulyadi, M.Pd., Kepala Urusan Humas sekolah, saat memantau latihan. “Tapak Suci kami rancang selaras dengan arahan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, tentang pentingnya deep learning,” ujarnya.

Baca juga: Kematian Anak SD di NTT, Alarm Keras bagi Arah Kebijakan Negara

Pendekatan tersebut membuat pembelajaran tidak berhenti pada aspek kognitif. Melalui Tapak Suci, sekolah menanamkan karakter, membangun kebiasaan hidup sehat, dan menghadirkan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa.

Baca Juga:  Pawai Tarhib Ramadan, Siswa Sekolah Kreatif Tunjukkan Poster Karya Sendiri

Ketelatenan pelatih Tapak Suci, Achmad Syihan, terlihat saat mendampingi siswa mempraktikkan gerakan dasar tangan dan kaki hingga jurus sederhana. Anak-anak berlatih bergantian—memegang pecing, mencoba tendangan, dan mempraktikkan pukulan—dengan pengawasan ketat. Setiap gerakan disertai penanaman nilai disiplin, fokus, dan pengendalian diri.

Dukungan penuh juga datang dari Heru Tjahyono, penggagas Sekolah Kreatif Baratajaya. “Pendekatan ini sejalan dengan misi sekolah menghadirkan pembelajaran kontekstual dan holistik, sekaligus sejalan dengan deep learning sebagaimana diarahkan Menteri Abdul Mu’ti,” tutur Babe Heru.

Ia menegaskan, proses belajar harus menyentuh pengetahuan, sikap, dan keterampilan secara utuh. Dalam konteks Tapak Suci, siswa tidak hanya mempelajari teknik bela diri, tetapi juga memahami makna hidup sehat, sportivitas, serta nilai keislaman dan kebangsaan yang menjadi roh Muhammadiyah.

Selain sebagai bela diri, Tapak Suci setiap Jumat pagi difungsikan sebagai sarana olahraga untuk mengawali pembelajaran di kelas. Aktivitas fisik ini membantu meningkatkan konsentrasi dan kesiapan mental siswa sebelum menerima pelajaran akademik.

Guru kelas III, Zuli Kurianah, S.Pd., menyebut kegiatan ini selaras dengan tuntutan kebijakan pendidikan terkini. “Tapak Suci menjadi sarana membiasakan hidup sehat sekaligus menanamkan nilai-nilai Muhammadiyah. Sekolah tidak lagi memisahkan pembelajaran akademik dari pembentukan karakter,” ujar Bu Ana, sapaan akrabnya.

Baca Juga:  Sekolah Kreatif Baratajaya Perkuat Manhaj Muhammadiyah di Ruang Pendidikan

Antusiasme siswa tampak sepanjang kegiatan. Mereka mengikuti instruksi dengan penuh semangat dan saling menyemangati. Drum Camilla Putri Hanania, salah satu siswa kelas III, mengaku menikmati latihan. “Aku suka berlatih Tapak Suci karena bisa belajar menendang peraga,” ucapnya dengan wajah berbinar.

Praktik ini menunjukkan bagaimana kebijakan deep learning diterjemahkan secara konkret di tingkat pendidikan dasar. Dengan memadukan aktivitas fisik dan budaya organisasi Muhammadiyah, Sekolah Kreatif Baratajaya menghadirkan pembelajaran yang hidup, relevan, dan berdampak jangka panjang.

Melalui Tapak Suci, sekolah ini membuktikan bahwa pembelajaran mendalam tidak harus selalu berlangsung di dalam kelas. Olahraga, karakter, dan nilai keislaman dipadukan untuk menanamkan disiplin, keberanian, serta makna belajar yang melekat kuat dalam diri siswa. (#)

Jurnalis Ahmad Mahmudi | Penyunting Mohammad Nurfatoni