Feature

Sekolah dan Rumah dalam Satu Barisan: Parenting Edukasi Hamas School

78
×

Sekolah dan Rumah dalam Satu Barisan: Parenting Edukasi Hamas School

Sebarkan artikel ini
Direktur Pusat Layanan Psikologi dan Konseling (PLPK) SMA Muhammadiyah 10 GKB Gresik, Ika Famila Sari, S.Psi., M.Psi., Psikolog, dalam Parenting Edukasi, Hamas School, Kamis (29/1/26).

Melalui Parenting Edukasi pada milad ke-9, Hamas School menegaskan pentingnya kolaborasi sekolah dan keluarga dalam membentuk generasi berkarakter.

Tagar.co — Kamis, 29 Januari 2026, suasana masjid SMP Muhammadiyah 13 Campurejo, Panceng, Gresik alias Hamas School terasa berbeda. Para wali murid yang hadir bukan sekadar memenuhi undangan seremonial milad. Mereka datang membawa satu kegelisahan yang sama: bagaimana mendampingi anak-anak tumbuh di tengah tantangan zaman yang kian kompleks.

Pada milad ke-9 ini, ruang belajar tidak hanya menjadi milik siswa. Orang tua pun diajak duduk sejajar sebagai subjek utama pendidikan. Melalui kegiatan Parenting Edukasi, Hamas School membuka ruang dialog reflektif antara sekolah dan wali murid, sekaligus memperkuat kolaborasi dalam membentuk generasi berkarakter.

Baca juga: Di Tengah Musim Baratan, Hamas School Peduli Hadirkan Harapan bagi Wali Murid

Kegiatan ini menghadirkan Direktur Pusat Layanan Psikologi dan Konseling (PLPK) SMA Muhammadiyah 10 GKB Gresik, Ika Famila Sari, S.Psi., M.Psi., Psikolog, sebagai narasumber utama. Ia membersamai para wali murid yang tergabung dalam Ikatan Wali Murid Hamas School (Iwama) dalam suasana hangat, akrab, dan penuh keterbukaan.

Forum ini tidak dikemas sebagai ceramah satu arah. Ia menjelma menjadi ruang aman—tempat para orang tua berbagi pengalaman, kegelisahan, sekaligus harapan tentang masa depan anak-anak mereka.

Baca Juga:  Ramadan di Hamas School Menjadi Laboratorium Karakter

Orang Tua, Pilar Utama Pendidikan

Dalam pemaparannya, Ika Famila Sari menegaskan tantangan pendidikan hari ini tidak bisa diselesaikan oleh sekolah semata. Orang tua memegang peran sentral yang tak tergantikan dalam membentuk karakter, ketahanan mental, dan nilai hidup anak.

“Sekolah bisa menguatkan, tetapi fondasi utama pendidikan tetap ada di rumah. Anak-anak belajar nilai, sikap, dan cara memaknai hidup pertama kali dari orang tuanya,” ujarnya di hadapan para wali murid.

Menurutnya, di era digital dan media sosial yang serba cepat, kehadiran orang tua tidak cukup hanya secara fisik. Anak-anak membutuhkan kehadiran emosional dan psikologis—sesuatu yang kerap luput di tengah kesibukan.

“Ketidakhadiran orang tua sering kali bukan karena jarak, tetapi karena kurangnya kualitas komunikasi,” tuturnya.

Ia menambahkan, anak-anak hari ini tidak cukup hanya diberi aturan. Mereka perlu didengar, dipahami, dan diajak berdialog sebagai manusia yang sedang bertumbuh.

Mendidik dengan Empati dan Keteladanan

Psikolog yang akrab disapa Ika itu juga menekankan pentingnya pengasuhan berbasis empati dan keteladanan. Anak, menurutnya, tidak tumbuh dari nasihat panjang, melainkan dari contoh yang konsisten dalam keseharian.

“Ketika orang tua ingin anaknya jujur, disiplin, dan bertanggung jawab, maka nilai itu harus lebih dulu hidup dalam perilaku orang tuanya,” jelasnya.

Baca Juga:  Tafsir Ayat Puasa dan Rahasia Kedekatan Ilahi

Ia mengingatkan, setiap anak memiliki keunikan dan ritme perkembangan yang berbeda. Membandingkan anak dengan orang lain justru berpotensi melukai harga diri dan menghambat tumbuhnya potensi terbaik.

“Orang tua perlu belajar menerima anak apa adanya, sambil terus mengarahkan mereka menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri,” katanya.

Dalam sesi dialog, sejumlah wali murid mengungkapkan kegelisahan tentang perubahan perilaku anak, pengaruh gawai, hingga tantangan komunikasi di usia remaja. Seluruh pertanyaan ditanggapi dengan bahasa yang membumi, menenangkan, dan tanpa menghakimi.

Sekolah dan Orang Tua dalam Satu Barisan

Kepala Hamas School Nurul Wakhidatul Ummah, menegaskan bahwa Parenting Edukasi ini merupakan bagian penting dari visi pendidikan Hamas School.

“Milad ke-9 ini kami maknai sebagai momentum menguatkan sinergi. Pendidikan tidak akan berhasil jika sekolah dan orang tua berjalan sendiri-sendiri,” ujarnya.

Menurutnya, Hamas School berkomitmen menjadikan orang tua sebagai mitra strategis dalam pendidikan, bukan sekadar penerima laporan akademik.

“Kami ingin wali murid merasa dilibatkan, didengar, dan dikuatkan. Karena anak-anak kita tumbuh di dua ruang utama: sekolah dan rumah,” tambahnya.

Kegiatan Parenting Edukasi ini sejalan dengan tema Milad ke-9 Hamas School, Berkemajuan dalam Ilmu, Bermanfaat bagi Umat. Ilmu, dalam konteks ini, tidak hanya ditransfer kepada siswa, tetapi juga kepada orang tua sebagai pendamping utama pendidikan anak.

Baca Juga:  Program Guru Bertukar Foskam Tebar Praktik Baik

Belajar Menjadi Orang Tua

Bagi Siti Aminah, salah satu wali murid, kegiatan ini menjadi ruang belajar yang bermakna.

“Kadang kita merasa sudah cukup menjadi orang tua. Tapi dari sini saya sadar, ternyata menjadi orang tua juga perlu terus belajar,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan Sutrisno, wali murid lainnya. Menurutnya, forum ini memberi penguatan bahwa orang tua tidak sendirian menghadapi tantangan pengasuhan.

“Mendengar cerita orang tua lain membuat saya lebih tenang. Ternyata banyak yang mengalami hal serupa,” katanya.

Pendidikan yang Menyentuh Akar

Menjelang akhir kegiatan, suasana aula tak segera lengang. Sejumlah wali murid masih bertahan—berbincang, bertanya, dan saling berbagi pengalaman. Parenting Edukasi ini tidak hanya meninggalkan catatan di buku, tetapi juga menyisakan perenungan di hati.

Melalui kegiatan ini, Hamas School menegaskan bahwa pendidikan sejati bukan semata tentang prestasi akademik. Ia adalah proses membangun manusia seutuhnya—melalui kolaborasi erat antara sekolah dan keluarga.

Di usia sembilan tahun, Hamas School tidak hanya merawat ilmu di ruang kelas, tetapi juga menumbuhkan kesadaran bahwa kebermanfaatan pendidikan berakar dari rumah, melalui orang tua yang terus belajar, bertumbuh, dan membersamai anak dengan empati serta keteladanan. (#)

Jurnalis Elif Nashikhatul Maziyah | Penyunting Mohammad Nurfatoni