
Rombongan PDNA Gresik menyambangi Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah untuk saling berbagi inspirasi. Mulai dari pengelolaan sampah, prestasi Pashmina, hingga perjalanan 23 tahun KB Walidah meraih akreditasi.
Tagar.co — Langkah kaki perempuan-perempuan muda dari Kota Pudak, Gresik, memecah keheningan Ahad pagi, 18 Januari 2026. Mereka melangkah memasuki gerbang hijau ikonik bertuliskan “Gedoeng Moehammadijah”. Berdasarkan plakat yang tertempel di dindingnya, gedung bersejarah Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut selesai dan dibuka pada tahun 1361 H/1942 M.
Pakaian olahraga Yunda Sport berwarna hijau kombinasi abu-abu yang mereka kenakan tampak seragam, mencerminkan identitas yang solid. Kedatangan Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) Gresik ini bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan sebuah misi untuk mempererat simpul gerakan.
Di ruang aula yang nyaman, yang diresmikan sejak 18 November 1957, Sekretaris III Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah (PPNA), Hanifah Kasih Surahman, menyambut hangat rombongan tersebut. Hanifah, yang sehari-hari mengurus administrasi Surat Keputusan Organisasi (SKO), memperkenalkan jajaran kader PPNA yang hadir pagi itu. Ada Ketua Bidang Organisasi, Kerjasama dan Kehumasan Sumarni Sulistiawati, Yayun selaku Sekretaris Eksekutif yang menjadi muara surat-menyurat organisasi, serta Sinta yang mengurusi KTNA.
Suasana mencair saat mereka duduk melingkar di meja berformat huruf U. Diskusi mengalir dengan sangat gayeng. Suwati Susilowati membuka pembicaraan dengan nada penuh apresiasi kepada kader PDNA Gresik yang hadir, termasuk para alumni PDNA Gresik.
“Terima kasih kepada para senior yang telah membersamai Yunda-Yunda sekalian. Kehadiran kalian menjadi penyemangat luar biasa. Rasanya melegakan karena kami masih memiliki tempat untuk berbagi cerita dan pengalaman,” ungkap Wati dengan tulus.
Wati juga menyoroti peran penting Ifa Faridah, S.Pd (Ketua PDNA Gresik periode 2022-2024 dan Anggota Departemen Organisasi PDNA Gresik periode 2024-2026) dalam tim TPPCR PPNA yang tengah menyusun panduan praktik baik (best practice).
Ia berharap keberhasilan pengelolaan di Gresik bisa menjadi rujukan nasional. “Alhamdulillah, PDNA Gresik menjadi salah satu contoh. Mungkin kisah KB Walidah bisa masuk dalam tulisan tersebut. Kita perlu menceritakan dalam buku bagaimana KB Walidah lahir hingga kini menginjak usia 23 tahun,” tambahnya sembari berharap jumlah cabang dan ranting terus bertumbuh.
Baca Juga: Lezat! Aneka Kuliner Berjalan ala Nasyiah Gresik di Atas Bus

Prestasi Buana dan Akreditasi Bersejarah
Ketua PDNA Gresik, Fatma Hajar Islamiyah, M.Pd., kemudian mengambil alih perhatian forum. Ia memaparkan struktur organisasi di Gresik sudah sangat lengkap. Mulai dari Ikatan Alumni PDNA Gresik (Ikapadana), struktur inti PDNA, hingga amal usaha KB Walidah 1 Gresik. Layar presentasi menampilkan foto Fatma saat menerima penghargaan dari Ketua Umum PPNA, Ariati Dina Puspitasari.
”Pada tahun 2024, kami berhasil memperoleh penghargaan Buana Favorit untuk kategori Company Profile,” ujar Fatma dengan nada bangga.
Ia menjelaskan, seragam Yunda Sport yang mereka pakai hari itu, termasuk batik khas Gresik yang mereka bawa, merupakan produk unggulan dari lini ekonomi mereka (Badan Usaha dan Amal Nasyiatul Aisyiyah, BUANA). Fatma lantas menegaskan ambisinya untuk menjaga organisasi tetap solid, progresif, dan istiqamah.
Fatma juga bersyukur, Gresik memiliki 18 kecamatan, dan PDNA telah menjangkau hampir seluruh wilayah tersebut. “Hanya tersisa satu kecamatan yang belum memiliki cabang. Namun, kami memiliki satu Cabang Istimewa, yaitu PCNA GKB yang berdiri di dua kecamatan. Kami juga mengakomodasi dua cabang di luar pulau, yakni Kecamatan Sangkapura dan Tambak di Pulau Bawean. Bahkan, ada tingkat dusun yang sudah memiliki Ranting,” jelasnya mendetail.
Ia juga menyebut kini ada 89 Ranting di Gresik. Keberhasilan bidang pendidikan juga menjadi catatan emas. Setelah menanti selama 23 tahun sejak berdiri, KB Walidah 1 Gresik akhirnya resmi meraih akreditasi B pada akhir tahun 2025.
“Ini adalah akreditasi pertama kami setelah lebih dari dua dekade berjuang. Kami terus berbenah untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan anak usia dini,” kata Fatma. Keberhasilan ini menjadi kado istimewa bagi para kader yang telah lama mengabdi.
Baca Juga: Menyibak Kabut Merapi: Menilik Sejarah Kelam Bunker dan Menikmati Guyuran Adrenalin

Inovasi Lingkungan dan Dakwah Digital
Inovasi PDNA Gresik tidak berhenti pada administrasi dan pendidikan saja. Mereka memiliki program unggulan bertajuk “Merdeka Sampah” dan Pashmina (Pelayanan Remaja Sehat Milik Nasyiatul Aisyiyah).
Program Pashmina bahkan mendapatkan apresiasi khusus berupa penghargaan dari Dinas KBP3A Kabupaten Gresik. “Kami mengembangkan program ini dengan menggandeng dinas terkait agar dampaknya lebih luas bagi remaja di Gresik,” tutur Fatma.
Selain itu, mereka juga aktif menjalankan program “Besuk Pantai” dan membentuk Ikatan Nasyiah Pecinta Al-Qur’an (Intan). Untuk menjawab tantangan zaman, hadir pula “Ralina Gresik” yang menjadi motor penggerak dakwah di ruang digital. Semua inisiatif ini menunjukkan, Nasyiatul Aisyiyah Gresik mampu bergerak lincah di berbagai sektor, mulai dari spiritualitas hingga isu lingkungan.
Ana Shofia, anggota Asosiasi Pengusaha Nasyiatul Aisyiyah (Apuna) sekaligus pemilik Ontea, berbagi cerita tentang pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas. Perempuan yang juga aktif sebagai anggota Departemen Advokasi PDNA Gresik ini fokus pada pemberdayaan kader yang membutuhkan lapangan kerja.
“Kami memberdayakan kader untuk memasak dan menjaga stan. Jadi, ada kemandirian ekonomi yang terbangun di tingkat akar rumput,” jelas Ofi, sapaan akrabnya.
Ia juga menekankan pentingnya pengelolaan limbah usaha secara berkelanjutan. “Agar sampah tidak terbuang sia-sia, kami memanfaatkan limbah tersebut. Kami mengolahnya menjadi pupuk organik. Langkah kecil ini adalah bagian dari tanggung jawab kami terhadap lingkungan,” tegasnya.
Menutup sesi, Fatma dan seluruh jajaran PDNA Gresik berharap mendapatkan masukan lebih lanjut dari Ketua PPNA, Ariati Dina Puspitasari, untuk pengembangan organisasi ke depan. (#)
Jurnalis Sayyidah Nuriyah Penyunting Mohammad Nurfatoni












