
Perjalanan di Madinah membawa para pendidik Muhammadiyah Surabaya menziarahi masjid-masjid bersejarah, menata rindu menuju Nabawi, dan memaknai kembali arti menghidupkan masjid.
Catatan seri ke-3 Safari Spiritual Leader Inspiration Journey K3S SD/MI Muhammadiyah Kota Surabaya.
Tagar.co — Mentari Madinah menyapa dengan kelembutan khasnya. Hari keempat Leader Inspiration Journey K3 SD/MI Muhammadiyah Kota Surabaya menjelma bukan sekadar agenda perjalanan, melainkan ziarah batin—menyusuri jejak-jejak langit yang pernah dipijak Rasulullah Saw. dan para sahabatnya.
Baca juga: Menimba Spirit Perjuangan di Masjid Quba dan Jabal Uhud
Bertepatan dengan Jumat (16/1/26), hari yang dimuliakan, langkah rombongan terasa kian ringan sekaligus khusyuk, seiring rindu yang menguat untuk semakin dekat dengan Masjid Nabawi.
Perhentian pertama adalah Masjid Ghamamah, sebuah masjid kecil dengan sejarah besar. Dahulu, tempat ini berupa tanah lapang. Di sinilah Rasulullah Saw. menunaikan Salat Idulfitri dan memimpin Salat Istiska saat Madinah dilanda kekeringan. Doa itu dijawab dengan turunnya awan—al-ghamamah—yang membawa hujan dan keberkahan.
Sejarah tersebut menjadikan masjid ini simbol keyakinan: doa yang dipanjatkan dengan iman akan menemukan jalannya ke langit. Bangunannya dirawat lintas zaman, dari masa Umar bin Abdul Aziz, era Kesultanan Usmani, hingga sentuhan modern Saudi.

Tak jauh dari sana, rombongan singgah di Masjid Abu Bakar As-Sidik, sekitar 335 meter dari Nabawi. Masjid ini menghadirkan kembali teladan Abu Bakar As-Sidik—sahabat setia yang membenarkan Rasulullah tanpa ragu.
Kepemimpinannya yang lembut namun tegas seolah mengajak para pendidik meneguhkan kejujuran, keberanian, dan pengabdian tanpa pamrih—nilai-nilai yang relevan untuk menghidupkan sekolah dan masjid hari ini.
Langkah berlanjut ke Masjid Ali bin Abi Talib, berjarak sekitar 400 meter dari Nabawi. Kesederhanaan bangunannya menghadirkan ruang hening untuk merenung tentang Ali bin Abi Thalib—figur keberanian, kecerdasan, dan keadilan.
Dari tempat ini, rombongan kembali diingatkan bahwa perjuangan Islam bertumpu pada kesetiaan, ilmu, dan kesiapan memikul amanah.

Menjelang Salat Jumat, waktu menuntut keputusan cepat. Para peserta bergegas menuju Nabawi demi mendapatkan saf terbaik. Pukul 10.30, pagar akan ditutup petugas; keterlambatan berarti salat di pelataran. Namun semangat tak surut. Setiap langkah diniatkan sebagai ibadah, setiap tarikan napas menjadi doa.
Masih ada masjid-masjid lain yang menyimpan cerita—Umar bin Khatab dan Imam Bukhari—yang kali ini belum sempat disambangi. Niat pun dititipkan. Sebab perjalanan spiritual tidak diukur dari banyaknya tempat yang dikunjungi, melainkan dari sejauh mana hati dibangunkan.
Hari itu, Madinah menyampaikan satu pesan terang: menghidupkan masjid berarti menghidupkan jiwa. Dari jejak Rasulullah hingga teladan para sahabat, rombongan membawa pulang api semangat—untuk menyalakan kehidupan masjid, sekolah, dan dakwah Islam dengan amal nyata, dari Surabaya hingga ke seluruh penjuru negeri. (#)
Jurnalis M. Khoirul Anam Penyunting Mohammad Nurfatoni












