Feature

Liburan Produktif Dua Sahabat Tuli, Sulap Botol Bekas Jadi Karya Bernilai Seni

63
×

Liburan Produktif Dua Sahabat Tuli, Sulap Botol Bekas Jadi Karya Bernilai Seni

Sebarkan artikel ini
Aisyah Grisseeta Azzahra (kiri) dan Eidelweis Syahida Ayazhi menunjukkan hasil karya di hari pertama Kamis 8 Januari 2026 (Tagar.co/Mochammad Nor Qomari)

Liburan produktif dua sahabat tuli di Gresik ini membuktikan bahwa kreativitas tak pernah sunyi. Dari botol dan gelas bekas, mereka melahirkan karya seni bernilai harapan, kepedulian lingkungan, dan pesan kuat tentang inklusivitas.

Tagar.co – Bagi sebagian mahasiswa, liburan semester identik dengan waktu istirahat dan melepas penat. Namun tidak demikian bagi dua sahabat tuli asal Gresik ini. Alih-alih tenggelam dalam tidur panjang dan guliran layar media sosial, mereka justru memilih mengubah liburan menjadi ruang bertumbuh, berkarya, dan berbagi makna.

Mereka adalah Aisyah Grisseeta Azzahra, mahasiswa Program Studi Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Gresik, dan Eidelweis Syahida Ayazhi, mahasiswa Pendidikan Seni Rupa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Di tengah keterbatasan pendengaran, keduanya membuktikan bahwa kreativitas tidak pernah mengenal batas.

Baca juga:Peringati Hardiknas, Aisyah Suarakan Hak Pendidikan Inklusif lewat Video Bahasa Isyarat

Liburan semester tiga yang semula berjalan monoton perlahan berubah arah. Kejenuhan menjadi pemantik refleksi. Dorongan orang tua yang terus mengingatkan pentingnya aktivitas produktif akhirnya melahirkan tekad untuk melakukan sesuatu yang lebih bermakna.

Baca Juga:  Suara dari Gang Pandan

Berbekal rasa ingin tahu dan kecintaan pada seni, Aisyah dan Ayazhi menyusuri Gressmall. Mereka mengamati sudut demi sudut pusat perbelanjaan, menelusuri gerai-gerai DIY, mencermati etalase toko, hingga detail kecil yang kerap luput dari perhatian.

Dari pengamatan sederhana itu—ditambah kebiasaan mereka melukis—lahirlah ide kreatif: mengolah gelas dan botol bekas menjadi pot tanaman dan hiasan lucu bernilai seni.

Barang-barang yang sebelumnya dianggap tak berguna kini berubah rupa. Dengan ketelatenan, kesabaran, dan imajinasi yang kaya, limbah kaca disulap menjadi karya estetik yang unik dan ramah lingkungan.

Latar belakang seni rupa yang dimiliki Ayazhi berpadu harmonis dengan minat Aisyah pada kreativitas dan teknologi—sebuah kolaborasi lintas disiplin yang saling melengkapi.

“Kami bosan. Liburan hanya tidur dan scroll media sosial,” ungkap Aisyah jujur, Kamis (8/1/26).

“Kami tidak ingin waktu liburan terbuang sia-sia. Lewat kegiatan ini, kami belajar lebih peduli terhadap lingkungan dan lebih percaya diri dengan kemampuan melukis kami,” tambah Ayazhi melalui bahasa isyarat.

Aisyah Grisseeta Azzahra dan Eidelweis Syahida Ayazhi dalam proses kreatif pembuatan karya lukisan dari daur ulang (Tagar.co/Mochammad Nor Qomari)

Siap Memasarkan

Ke depan, Aisyah dan Ayazhi berencana memasarkan karya daur ulang mereka secara daring serta memperkenalkannya langsung kepada masyarakat melalui kegiatan Car Free Day (CFD). Bagi mereka, nilai karya bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga pesan edukatif tentang pentingnya daur ulang dan makna inklusivitas.

Baca Juga:  Bobby, Anak Istimewa yang Menghadirkan Makna Syukur

Dukungan keluarga menjadi fondasi kuat perjalanan ini. Andayani, orang tua Ayazhi yang sehari-hari berprofesi sebagai penjaga kantin sekolah, mengaku awalnya hanya melihat putrinya membantu jualan dan menghabiskan waktu dengan ponsel selama liburan.

“Kami terus memberi masukan dan mendukung agar Ayazhi dan temannya punya aktivitas yang lebih produktif,” tutur Andayani.

Ia mengaku bangga menyaksikan semangat putrinya. “Saya senang dengan kegiatan daur ulang kaca ini. Semoga mereka terus menciptakan karya baru, menambah wawasan tentang lingkungan, dan melatih imajinasi seni dalam berbagai bentuk.”

Kisah Aisyah dan Ayazhi menjadi pengingat bahwa liburan bukan sekadar jeda, melainkan ruang untuk bertumbuh dan menemukan potensi. Dari tangan-tangan kreatif mereka, barang bekas menemukan kehidupan baru—dan dunia kembali diingatkan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkarya dan berprestasi. (#)

Jurnalis Mochammad Nor Qomari Penyunting Mohammad Nurfatoni