Rileks

Kampung Pempek Koyek: Merawat Rasa di Jejak Tua Kapitan Palembang

163
×

Kampung Pempek Koyek: Merawat Rasa di Jejak Tua Kapitan Palembang

Sebarkan artikel ini
Penulis bersama keluarga saat menikmati kuliner kampung pempek koyek kampung Kapitan Palembang, Selasa (23/12/2025). (Tagar.co/Nyimas Rodiyah)

Di tepian Sungai Musi, Kampung Kapitan menyimpan lebih dari bangunan tua dan lorong sejarah. Dari aroma cuko yang menyengat hingga hangatnya sapa warga, Kampung Pempek Koyek menghadirkan Palembang dalam bentuk rasa yang jujur dan bersahaja.

Tagar.co — Selasa, 23 Desember 2025, menjadi hari yang sulit dilupakan dalam perjalanan kami di Palembang. Bersama suami, Kemas Asrozi, serta adik tercinta Nyimas Rodiyah dan keluarga, saya menyusuri satu sudut kota tua yang sarat cerita: Kampung Kapitan, kawasan bersejarah di tepian Sungai Musi.

Di sanalah kami menemukan pengalaman kuliner yang bukan sekadar soal rasa, melainkan juga tentang warisan budaya—Kampung Pempek Koyek.

Baca juga: Menemukan Palembang Lama di Museum Sultan Mahmud Badaruddin II

Begitu memasuki kawasan Kampung Kapitan, suasana khas Palembang tempo dulu langsung menyergap. Bangunan-bangunan tua dengan arsitektur Tionghoa-Palembang berdiri berdampingan dengan rumah warga yang masih setia mempertahankan bentuk aslinya.

Lorong-lorong sempit hidup oleh aktivitas warga: pedagang sibuk menyiapkan dagangan, anak-anak berlarian, dan para tetua duduk bersenda gurau di teras rumah. Semua menyatu dalam irama kampung yang hangat dan bersahabat.

Baca Juga:  Hikmah Ramadan: Perkuat Koneksi dengan Al-Qur’an
Penulis dan suami di salah satu sudut kampung pempek koyek di kampung Kapitan Palembang, Selasa (23/12/2025). (Tagar.co/Nyimas Rodiyah)

Langkah kami berhenti di Kampung Pempek Koyek—sebuah sentra kuliner rakyat yang menjadi denyut rasa Palembang. Aroma ikan tenggiri yang digoreng, berpadu dengan harumnya cuko yang asam-manis-pedas, langsung menggugah selera sejak dari kejauhan.

Di meja-meja sederhana, tersaji berbagai jenis pempek: lenjer, kapal selam, adaan, hingga pempek kulit yang gurih dengan tekstur khasnya.

Setiap suapan terasa seperti membuka halaman sejarah—rasa yang jujur, otentik, dan terawat lintas generasi. Cuko yang kental dan berani menjadi penutup sempurna bagi lembutnya adonan ikan dan sagu yang masih hangat.

Tak berhenti di pempek, perjalanan rasa berlanjut pada sajian tradisional lain: tekwan dengan kuah kaldu yang bening dan gurih, model ikan yang lembut, serta deretan kue khas Palembang—kue srikaya, lapis legit, dan maksuba—yang manisnya seperti menyimpan cerita rumah-rumah lama di tepi Musi.

Kami menikmati semuanya sambil duduk santai, berbincang ringan, dan sesekali menyapa warga sekitar. Sungai Musi mengalir tenang di kejauhan, menjadi latar alam yang melengkapi pengalaman—seolah waktu melambat, memberi ruang untuk benar-benar merasakan Palembang dengan seluruh indera.

Baca Juga:  Lesson Study di SMP Muhammadiyah Krian Berlangsung Seru, Guru Belajar sambil Berbagi Pengalaman

Di Kampung Kapitan, kuliner bukan sekadar komoditas. Ia adalah bahasa pertemuan—antara tamu dan tuan rumah, antara masa lalu dan masa kini. Senyum warga, sapaan ramah, tawa anak-anak, dan obrolan sore para orang tua menyatu dengan aroma masakan, menghadirkan kehangatan yang tak bisa ditiru restoran mana pun.

Bagi kami, kunjungan ke Kampung Pempek Koyek bukan sekadar wisata kuliner. Ia adalah perjalanan mengenal kehidupan, merawat kenangan, dan mempererat kebersamaan keluarga—sebuah pengalaman sederhana yang membekas lama dalam ingatan. (#)

Penulis Aniwati Penyunting Mohammad Nurfatoni