Rileks

Sam Poo Kong: Menyusuri Jejak Toleransi di Jantung Semarang

85
×

Sam Poo Kong: Menyusuri Jejak Toleransi di Jantung Semarang

Sebarkan artikel ini
Pintu masuk area Klenteng Sam Poo Kong, Semarang, Jawa Tengah, Rabu, 31 Desember 2025 (Tagar.co/Sri Wiyani).

Penghujung tahun membawa kami ke Sam Poo Kong—tempat sejarah, iman, dan budaya saling berjumpa, meninggalkan kesan yang jauh lebih dalam daripada sekadar perjalanan wisata.

Tagar.co — Penghujung tahun selalu menghadirkan dorongan untuk berhenti sejenak, menarik napas, dan mengisi waktu dengan perjalanan yang bermakna.

Pada Rabu, 31 Desember 2025, saya memilih Semarang sebagai tujuan kecil kami—bersama dua anak saya, Ahmad Wildan Pradana (16) dan Sultan Ahmad Ateem (7). Di tengah sisa libur semester ganjil, kami menapaki salah satu ikon sejarah dan kebudayaan paling penting di Jawa Tengah: Klenteng Sam Poo Kong.

Baca juga: Nikmatnya Soto Rodo Mroso Ambarawa, Kuliner Murah dengan Rasa Menggugah

Begitu kendaraan memasuki kawasan Jalan Simongan No. 129, Bongsari, Semarang Barat, warna merah megah langsung menyambut mata.

Kompleks klenteng yang membentang seluas sekitar 1.020 meter persegi itu tampak berdiri anggun, dimahkotai atap pagoda berlapis tiga yang khas budaya Asia Timur. Bangunannya bukan sekadar tempat ibadah, melainkan penanda perjalanan panjang peradaban dan perjumpaan budaya.

Baca Juga:  Ardan dan Cerita yang Tidak Selalu Utuh
Pintu gerbang selatan di area Klenteng Sam Poo Kong, Semarang, Jawa Tengah, Rabu, 31 Desember 2025 (Tagar.co/Sri Wiyani).

 

 

“Banyak turisnya ya, Bun,” celetuk Sultan, si bungsu, sambil menunjuk beberapa bus besar yang menurunkan rombongan wisatawan mancanegara. Kami pun tersenyum. Hari itu, Sam Poo Kong memang terasa seperti simpul pertemuan dunia.

Dengan tiket masuk yang terjangkau—Rp25.000 untuk wisatawan domestik dan Rp45.000 untuk wisatawan mancanegara—kami mulai menjelajah kompleks yang dikenal pula sebagai Klenteng Gedung Batu, klenteng Tionghoa tertua di Semarang.

Jam operasionalnya cukup panjang: pukul 09.00–18.00 WIB di hari biasa dan 08.00–20.00 WIB saat akhir pekan, memberi ruang bagi siapa pun untuk menikmati setiap sudutnya dengan tenang.

Langkah kami menyusuri bangunan demi bangunan: Klenteng Sam Poo Tay Djien, Klenteng Juru Mudi, Klenteng Dewa Bumi, Klenteng Kyai Jangkar, Klenteng Kyai Tumpeng, hingga Gua Batu, tempat Laksamana Cheng Ho dan awak kapalnya dipercaya pernah beristirahat.

Patung Laksamana Zheng He atau yang dikenal dengan nama Laksamana Cheng Ho di area Klenteng Sam Poo Kong, Semarang, Jawa Tengah, Rabu, 31 Desember 2025 (Tagar.co/Nadhirotul Mawaddah).

Di salah satu sudut, patung Laksamana Cheng Ho menjulang tinggi, memancarkan kewibawaan dan keteguhan seorang penjelajah samudra yang membawa pesan persahabatan lintas bangsa.

“Gerbangnya besar banget, seperti di film-film yang sering Bunda lihat,” ujar Sultan saat kami tiba di pintu gerbang selatan—gerbang raksasa yang sering kita jumpai dalam film-film kolosal Cina, lengkap dengan ukiran naga dan detail arsitektur yang memukau.

Baca Juga:  Menjaga Napas Ayah dengan Doa

Saat kami larut menikmati detail demi detail, tiba-tiba udara dipenuhi bunyi tabuhan dan denting khas.

“Ayo, Bun, kita lihat!” seru Sultan, langsung berlari kecil mengikuti arah suara. Di halaman utama, tiga ekor barongsai menari lincah di hadapan para pengunjung.

Para wisatawan sedang menikmati pertunjukan barongsai di area Klenteng Sam Poo Kong, Semarang, Jawa Tengah, Rabu, 31 Desember 2025 (Tagar.co/Nadhirotul Mawaddah).

Para seniman lokal unjuk kebolehan, memadukan gerak, irama, dan semangat yang membuat siapa pun terhenti sejenak—termasuk kami—untuk menikmati perayaan budaya yang hidup.

Di sanalah, di tengah riuh tawa pengunjung, kilatan kamera wisatawan, doa-doa yang dilantunkan, dan anak-anak yang berlarian, saya menyadari bahwa Sam Poo Kong bukan hanya destinasi wisata.

Ia adalah simbol kuat toleransi dan keberagaman Indonesia—sebuah ruang di mana sejarah, iman, dan budaya saling berpelukan tanpa sekat.

Menutup tahun di tempat seperti ini terasa tepat: bukan dengan gemuruh pesta, melainkan dengan perenungan tentang betapa kayanya Indonesia, dan betapa indahnya hidup dalam perbedaan. (#)

Jurnalis Nadhirotul Mawaddah Penyunting Mohammad Nurfatoni