
In House Training Mugeb Primary School mendorong guru menjadi pendidik adaptif melalui digitalisasi pembelajaran, penggunaan papan interaktif, dan pengembangan bahan ajar inovatif demi menghadapi tantangan global.
Tagar.co — Seluruh tenaga pendidik Mugeb Primary School (Mugeb PS) memadati Averroes Hall pada Senin, 22 Desember 2025. Mereka mengikuti agenda In House Training (IHT) yang menghadirkan David Al Ghifari Abwa, S.Pd. sebagai pemantik diskusi.
Karena para siswa sudah menjalani libur semester, kini giliran para guru belajar mengembangkan kompetensinya. Mengusung tema besar “Guru Adaptif di Era Digital”, David membedah urgensi transformasi mental pendidik di tengah gempuran teknologi. Dalam paparannya, David memperkenalkan slogan inspiratif: “Digitalisasi Pembelajaran: Teknologi Bersahabat, Anak SD Hebat”.
Ia menjelaskan, teknologi hari ini ibarat pisau bermata dua. David menilai, sebanyak 50 persen teknologi memberikan bantuan besar bagi dunia pendidikan. Namun, 50 persen sisanya menyimpan risiko negatif, terutama karena maraknya informasi palsu atau hoaks yang beredar luas.
Ia juga menegaskan, kecanggihan alat bukanlah variabel utama dalam menciptakan karya pendidikan yang bermutu. Kemauan gurulah yang memegang peranan paling vital. Pendidik tidak boleh terpaku pada keterbatasan sarana prasarana yang ada di sekolah.
“Kunci utama menghasilkan karya bukan terletak pada fasilitas yang sempurna, melainkan pada kemauan pendidik. Kita harus mengoptimalkan sarana yang ada tanpa harus menunggu perangkat yang sepenuhnya ideal,” ujar David dengan nada penuh semangat di hadapan para peserta.
Baca Juga: Spiritual Live In Wadahi Siswa Mugeb Berburu Pengalaman Berharga di MIM “GKB”

Papan Interaktif dan Tantangan PISA
Digitalisasi pendidikan di Indonesia saat ini masih membentur dinding besar. David merinci empat tantangan krusial yang menuntut solusi cepat. Pertama, capaian skor PISA Indonesia pada aspek literasi, numerasi, dan sains yang masih rendah. Kedua, kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan daya saing global yang belum kompetitif.
Ketiga, ketimpangan akses serta infrastruktur Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang tajam antara wilayah perkotaan dan perdesaan. Keempat, tuntutan transformasi digital agar siswa mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi yang masif. Pemerintah pun kini memfokuskan program pada penyediaan infrastruktur digital dan pengembangan sistem yang lebih terintegrasi.
Sebagai langkah konkret, sekolah mulai memperkenalkan Papan Interaktif Digital (PID). Perangkat berbasis Android dengan layar sentuh ini memberikan ruang bagi guru untuk mengeksplorasi aplikasi pembelajaran secara lebih luas. Jika membandingkannya dengan perangkat konvensional, Papan Interaktif Digital menawarkan fleksibilitas yang lebih tinggi dalam menyajikan materi secara visual dan interaktif di dalam kelas.
David juga mendorong para guru untuk mahir mengembangkan bahan ajar interaktif. Karakteristik utama bahan ajar ini adalah adanya aksi langsung dari pengguna, seperti fitur klik atau geser, serta pemberian umpan balik instan secara dinamis. Guru dapat memanfaatkan platform seperti Wayground, Nearpod, Wordwall, dan Canva untuk meningkatkan keterlibatan siswa.
Baca Juga: Seru! Panen Bayam Brazil di Ekowisata Mugeb
Meninggalkan Zona Nyaman Demi Kompetensi
Pemanfaatan platform digital tersebut bertujuan menciptakan pengalaman belajar yang lebih personal. Melalui penggunaan teknologi yang tepat, guru dapat memfasilitasi pemahaman mendalam serta mendorong kemampuan berpikir kritis siswa sejak tingkat sekolah dasar. Inovasi ini bukan sekadar gaya-gayaan, melainkan kebutuhan mendasar agar siswa tidak tertinggal oleh zaman.
Pada penghujung sesi, David melontarkan ajakan reflektif kepada seluruh guru agar berani keluar dari zona nyaman. Ia berpendapat, “Hambatan terbesar dalam transformasi pendidikan bukanlah keterbatasan alat, melainkan hambatan mental. Rasa tidak mampu sering kali menjadi tembok penghalang yang harus diruntuhkan dengan keinginan kuat untuk terus melakukan pembaruan diri atau upgrade kompetensi.”
Ia meyakini, guru yang berhenti belajar akan kehilangan relevansinya di depan kelas. Oleh karena itu, mentalitas pembelajar harus melekat pada setiap individu pendidik di Mugeb PS agar selaras dengan gerak zaman yang serba cepat.
“Jangan merasa tidak mampu. Guru harus memiliki kemauan untuk terus memperbarui kemampuan agar selaras dengan perkembangan zaman,” pungkas David menutup diskusi tersebut. (#)
Jurnalis Ilmi Zahrotin Faidzullah Al Hamidy Penyunting Sayyidah Nuriyah












