
Guru dan karyawan Mugeb Primary School memanen bayam Brazil yang tumbuh subur di Ekowisata Mugeb. Sayuran kaya nutrisi ini menjadi pilihan sehat untuk menu masakan keluarga.
Tagar.co – Pagi itu, Selasa (23/12/2025), sebuah pesan singkat memecah keheningan grup WhatsApp guru dan karyawan Mugeb Primary School. Siswanto, S.Pd.I., Wakil Kepala Bidang Sarana, membagikan sebuah video yang menampilkan hamparan tanaman hijau nan subur. Tanaman itu adalah bayam Brazil yang tumbuh rimbun di area Ekowisata Mugeb.
Pria yang akrab disapa Sis ini tidak sekadar pamer keasrian kebun, ia justru mengajak rekan-rekannya untuk menikmati hasil bumi tersebut. “Ini sayur bayam Brazil. Bagi yang mau, silakan mengambilnya,” kata Sis dalam pesan videonya.
Ia juga memberikan instruksi singkat agar tanaman tetap lestari meski dipanen massal. Yakni dengan menggunting, bukan mencabut.
“Caranya cukup mudah, cukup memangkasnya dari bagian bawah. Ambil sesuai kebutuhan saja. Batang utamanya ini bisa Anda tancapkan lagi untuk ditanam di rumah atau tanah kosong di mana pun Anda suka. Sayur ini sangat enak untuk dinikmati,” jelas Sis mendetail.
Ajakan tersebut mendapat respons antusias. Usai melaksanakan rutinitas pagi seperti tadarus, doa bersama, dan mendengarkan kultum di Perpustakaan Al-Hikmah, sejumlah guru langsung bergegas menuju lokasi ekowisata. Mereka telah membekali diri dengan gunting tanaman dan wadah plastik, siap memetik kesegaran sayur organik tersebut.
Agenda ini menjadi kejutan pagi sebelum mengerjakan tugas menyusun modul ajar Perencanaan Pembelajaran Mendalam (PPM). Ya, siswa telah libur semester. Hanya guru dan karyawan yang masuk sekolah. Di antara kerumunan guru, tampak Saidah, S.Pd. dan Khofifatur Rohmah, S.Pd. yang sangat bersemangat menuju kebun.
Baca Juga: Siswa Mugeb Ikuti Spiritual Live In, Baca Al-Qur’an Warnai Perjalanan

Identifikasi Nutrisi Lewat Google Lens
Setibanya di lokasi, langkah Saidah dan Khofifatur Rohmah—yang akrab disapa Ifa—sempat terhenti. Mereka tertegun menatap fisik bayam Brazil yang unik. Daunnya mungil dan bentuknya berbeda jauh dengan bayam lokal yang biasa mereka temui di pasar. Karena melewatkan penjelasan verbal dari Sis dan hanya fokus pada visual video, rasa penasaran pun muncul.
“Yuk, coba cek di Google Lens!” ajak Saidah. Ia sempat menduga tanaman itu adalah obat herbal. “Ini mirip tanaman binahong yang biasanya orang minum setelah operasi,” imbuhnya. Rekannya pun mengarahkan kamera ponsel ke arah daun.
Layar ponsel kemudian menampilkan informasi akurat. Bayam Brazil atau Alternanthera sissoo merupakan sayuran daun yang sangat mudah tumbuh. Tekstur daunnya lebih tebal, renyah, dan memiliki rasa yang cenderung gurih.
Data digital itu juga menyebutkan bahwa sayuran ini kaya akan vitamin A, C, dan K, serta mineral penting. Manfaatnya pun beragam, mulai dari menjaga daya tahan tubuh, kesehatan tulang, pencernaan, hingga kesehatan mata.
Mendapat kepastian bahwa tanaman tersebut aman dan bergizi tinggi, Ifa dan Saidah segera menggunting helai-helai daun yang paling lebar. “Senang ya, ekowisata ini bisa menghasilkan tanaman yang bermanfaat,” ujar Saidah sambil memasukkan hasil panen ke wadahnya.
Ifa pun sudah membayangkan menu makan siang di rumah. “Aku berencana mencampurnya dengan mi,” kata Ifa.
Saidah menyambut ide itu dengan antusias. “Iya, kebetulan aku punya stok mi di rumah. Atau bisa juga dimasak sayur kunci memakai bawang merah dan bawang putih,” pungkasnya.
Mereka juga terkesima dengan kemangi dan cabai rawit yang mulai tumbuh di sisi barat Ekowisata. Akhirnya mereka turut memanennya sebagian. (#)
Jurnalis Sayyidah Nuriyah Penyunting Mohammad Nurfatoni












