Feature

SD Mutu TOPS Tutup Semester dengan Parenting

73
×

SD Mutu TOPS Tutup Semester dengan Parenting

Sebarkan artikel ini
SD Mutu TOPS Dukun
Tim Padus SD Mutu menyanyikan lagu daerah Ampar-ampar Pisang dan Suwe Ora Jamu di acara rapotan, Ahad, 21 Desember 2025. (tagar.co/Mohammad Hasbi Amirudin)

Tagar.co – SD Mutu TOPS Dukun, Gresik, Jawa Timur menyelenggarakan parenting dan penerimaan rapor Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2025/2026, Sabtu (21/12/2025).

SD Muhammadiyah 1 Dukun ini memiliki jargon Terampil, Optimis, Peduli, dan Semangat yang disingkat TOPS yang menjadi brand sekolah.

Parenting menghadirkan narasumber, Ika Famila Sari S.Psi, M.Psi. Psikolog yang dipandu oleh dua siswa program kelas public speaking Muhammad Abid Aqila Pranaja(Kelas 6) dan Al Fatih Ananda Kusuma (Kelas 5).

Acara diawali dengan pembacaan sari tilawah oleh Fathir Ahmad Azzamy (Kelas 4) dan Ahmad Akbar Rasyid (Kelas 3). Mereka berdua adalah siswa yang tergabung dalam pogram kelas Tahfiz dengan membacakan surat Al-Isra ayat 23-27.

Setelah menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Muhammadiyah oleh Tim Paduan Suara  dengan dirigen Muhammad Rafif Alfarisi (Kelas 6)

Kepala SD Mutu TOPS Dukun, Zakiyatul Faikhah, S.Pd., menjelaskan, rapor ini adalah hasil proses belajar selama satu semester.

Di balik setiap nilai, terdapat usaha, doa, kerja keras, serta pendampingan dari guru dan orang tua. Oleh karena itu, rapor bukanlah akhir dari segalanya, melainkan bagian dari proses pembelajaran dan evaluasi bersama.

Baca Juga:  Peringatan Imam Al-Ghazali: Sifat-Sifat yang Merusak Keharmonisan Keluarga

“Setiap anak adalah bintang, tugas kita bukan membandingkan cahayanya, tetapi membantu agar sinarnya terus bersinar,” katanya.

Setiap anak, sambung dia, memiliki keunikan dan potensi yang berbeda. Ada anak yang unggul bidang akademik, ada yang menonjol dalam sikap, kedisiplinan, kreativitas, maupun keterampilan.

”Tugas kita bersama adalah membantu menemukan, mengembangkan, dan mengarahkan potensi tersebut dengan penuh kesabaran dan kasih sayang,” tuturnya.

Bu Zakiyah berpesan, di liburan semester agar mengisi waktu libur dengan kegiatan yang bermanfaat, tetap menanamkan nilai-nilai kebaikan, tanggung jawab, dan semangat belajar.

Dia juga menyampaikan terima kasih kepada para orang tua yang turut menyukseskan Gerakan Ayah Mengambil Rapor (Gemar).

Firman Susanto Noor, S.E., Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PCM Dukun menyampaikan, orang tua dalam mendidik anak ada empat hal yang perlu diperhatikan yaitu mendidik dengan penuh cinta, berikan ruang untuk anak, konsisten, dan konsekuen.

Acara berikutnya tim paduan suara menyanyikan lagu daerah Ampar-ampar Pisang dan Suwe Ora Jamu. Sontak hadirin bertepuk tangan melihat kelihaian anak-anaknya menyanyi dan menari.

Lalu pembacaan siswa berprestasi oleh Titin Hamidah, S.Pd., Wakasek Kesiswaan sekaligus Wali Kelas 1 SD Muhammadiyah 1.

Baca Juga:  SD Mutu Dukun Ajak Siswa TK Menyentuh Teknologi IFPD
Psikolog Ika Famila Sari mengisi parenting di SD Muhammadiyah 1 Dukun, Gresik. (Tagar.co/Mohammad Hasbi Amirudin

Parenting

Acara berikutnya parenting disampaikan oleh Ika Famila Sari, S.Pd., M.Psi. Psikolog yang juga Guru BK Smamio Gresik dan Direktur PLPK Gresik.

Dia menyampaikan bahasan mengasuh anak dengan hati. Konsep mengasuh dengan hati sebagai strategi orang tua mengelola emosi, menumbuhkan karakter religius, serta membangun literasi digital pada anak.

Ika menekankan, pola asuh bukan sekadar kontrol, melainkan upaya membimbing dan mendampingi anak menuju kedewasaan sesuai tugas perkembangannya.

Ada tiga resep utama dalam mengasuh dengan hati: mengenali fase perkembangan anak, memahami perkembangan zaman, dan menyiapkan lingkungan yang mendukung.

Salah satu poin krusial yang dibahas adalah optimalisasi perkembangan otak. Diketahui bahwa 50% kecerdasan anak terbentuk pada usia 0-4 tahun.

Ika menjelaskan, stimulasi indra yang tepat akan memperkuat sambungan sel otak (sinapsis). Sementara bagian otak yang tidak digunakan akan menyusut (atrophy).

Orang tua diingatkan cara mengasuh juga harus menyesuaikan dengan jenis kelamin karena terdapat perbedaan perkembangan antara otak pria dan wanita.

​Dia juga menyoroti data memprihatinkan terkait kesehatan mental anak. Berdasarkan data WHO, kasus bunuh diri tertinggi terjadi pada usia muda.

Di Indonesia, penelitian BRIN mencatat sekitar 46,63% dari total kasus bunuh diri sepanjang 2012-2023 terjadi pada remaja.

Baca Juga:  Gebyar Ramadan, Muhammadiyah Dukun Gelar Pawai

Mitigasi Risiko

​Untuk memitigasi risiko ini, Ika menyarankan beberapa langkah bagi orang tua:

​Pertama, hadir secara fisik dan psikologis: Orang tua harus belajar teknologi, membatasi penggunaan gadget, dan menyediakan waktu berkualitas untuk berdiskusi.

​Kedua, membangun kedekatan: Menerima cerita anak tanpa langsung menolaknya dan membangun pola hubungan yang sesuai dengan fitrah serta usia anak.

Ketiga, prinsip 3D: Dalam perkembangan sosial, orang tua perlu menerapkan prinsip Diterima, Didengarkan, dan Diarahkan agar bisa menjadi sahabat bagi anak.

​Keempat, literasi digital dan lingkungan.

Dia menyerukan menyiapkan lingkungan yang aman dan sehat adalah kunci. Orang tua diharapkan dapat memfasilitasi potensi anak dengan aktivitas yang memberikan makanan bagi otak serta membantu mereka mengekspresikan emosi dengan cara yang tepat.

Dengan pendekatan yang berlandaskan hati, diharapkan orang tua murid SD Mutu mampu mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga tangguh secara mental dan religius di tengah gempuran teknologi digital. (#)

Jurnalis Mohammad Hasbi Amirudin  Penyunting Sugeng Purwanto