Opini

Gaza Bukan Granada: Sejarah, Luka, dan Ujian Nurani Umat

78
×

Gaza Bukan Granada: Sejarah, Luka, dan Ujian Nurani Umat

Sebarkan artikel ini

Dari Istanbul, para ulama dan cendekiawan Muslim membentangkan benang merah luka sejarah Andalusia hingga Palestina, seraya menegaskan bahwa damai di atas kezaliman hanyalah ilusi.

Oleh Fahmi Salim, Direktur Baitul Maqdis Institute; Ketua Umum Fordamai

Tagar.co – Sejarah tidak selalu berulang dalam bentuk yang sama, tetapi kerap kembali menuliskan noktah sejarah dengan luka yang serupa.

Dalam Konferensi Internasional Ketiga Yayasan Amanah Al-Aqsa di Istanbul, Turkiye, pada 13–14 Desember 2025, para ulama dan cendekiawan dunia menyuarakan satu peringatan keras: apa yang terjadi di Gaza dan Al-Quds hari ini adalah gema sejarah yang menuntut sikap, bukan sekadar simpati.

Baca juga: Al-Aqsa Bukan Isu Jauh, Pidato Delegasi Indonesia di Forum Internasional Istanbul

Pada hari pertama sesi pembukaan konferensi, sejumlah pernyataan para tokoh cendekiawan Muslim dunia menarik untuk dianalisis, terutama karena menyinggung benang merah luka sejarah yang sama—membentang dari bumi Gaza di abad ke-21 hingga Andalusia di akhir abad ke-15 masehi.

Dari Andalusia ke Gaza: Peringatan Peradaban

Prof. Dr. Muhammad Görmez, mantan Ketua Direktorat Urusan Keagamaan Turki (2010–2017), mengingatkan umat pada tragedi jatuhnya Andalusia pada 1492 Masehi.

Ia menegaskan bahwa Andalusia runtuh bukan semata karena kekalahan militer, melainkan karena umat dipaksa memilih antara kehancuran atau tunduk pada perjanjian damai palsu. Perdamaian semacam itu, tegasnya, tidak pernah lahir di bawah bom dan tidak akan pernah tegak di atas kezaliman.

Baca Juga:  Perdamaian Gaza: Antara PBB dan BoP

Prof. Dr. Muhammad Görmez juga menekankan bahwa bangsa-bangsa yang tidak membela kaum tertindas pada akhirnya akan menjadi pihak yang tertindas. Ia memperingatkan bahwa jika Gaza—na‘udzubillah—sampai kalah, dampaknya akan menjalar ke seluruh kawasan, sebab dunia Islam adalah satu mata rantai.

Menurut Görmez, tokoh ulama Turki yang baru saja didapuk oleh Presiden Erdoğan sebagai rektor pertama Universitas Islam Internasional Turkiye, jeritan Granada—kekuasaan Muslim terakhir yang bertahta di Spanyol—kini hidup kembali dalam suara Gaza.

Sejarah, katanya, sedang menguji nurani umat Islam: apakah akan belajar dari luka lama, atau kembali mengulang kesalahan yang sama dengan membungkus kezaliman atas nama perdamaian.

Gaza Bukan Granada

Menanggapi peringatan tersebut, Syekh Muhammad Al-Hasan Wald Al-Deddo menyampaikan optimisme yang tegas. Ia menyatakan bahwa Gaza tidak akan menjadi seperti Granada, karena di sana masih berdiri orang-orang yang teguh, para pejuang, dan kesadaran umat yang belum padam. Jalan umat, menurutnya, telah jelas: antara kemenangan atau kesyahidan, sesuai dengan janji Ilahi yang tidak pernah ingkar.

Pernyataan ini bukan romantisasi konflik, melainkan penegasan bahwa keputusasaan adalah pintu pertama menuju kekalahan peradaban. Selama masih ada keteguhan iman dan keberanian moral, sejarah belum selesai ditulis.

Baca Juga:  Politik Luar Negeri RI Bergeser demi Board of Peace

Sejalan dengan peta jalan Al-Qur’an dalam Surah Al-Isra ayat 4–8, perjalanan sejarah kini mulai menampakkan titik terang kembalinya generasi ‘ibādan lanā ulī ba’sin syadīd (hamba-hamba Allah yang memiliki kekuatan dahsyat) yang menulis ulang era keterpurukan Nakbah 1948 dan Naksah 1967 menjadi era kebangkitan Palestina untuk merebut kembali kejayaan Masjidilaqsa, sebagaimana pada masa Khalifah Umar bin Khattab dan Sultan Salahuddin Al-Ayubi.

Menggerakkan Air yang Tergenang

Dari Masjidilaqsa, Syekh Dr. Ikrimah Shabri, khatib Masjidilaqsa dan Ketua Dewan Penasihat Yayasan Amanah Al-Aqsa, menyampaikan seruan yang lugas dan mendesak. Ia mengajak umat untuk “menggerakkan air yang telah lama tergenang”—keluar dari kebisuan, keraguan, dan normalisasi penderitaan rakyat Palestina.

Menurutnya, menolong Al-Quds dan Masjidilaqsa bukan hanya kewajiban agama, melainkan juga tanggung jawab kemanusiaan yang tidak boleh ditunda. Ia mengapresiasi berbagai inisiatif tulus yang telah dilakukan, sembari menegaskan keyakinannya bahwa janji Allah tentang kemenangan adalah kepastian, selama umat tidak berhenti berusaha dan berdoa.

Dari Bantuan ke Kesadaran Berkelanjutan

Sementara itu, Dr. Tuba Hajar Korkmaz, tokoh ulama perempuan Turkiye dan profesor ilmu fikih di Universitas Wakaf Sultan Mehmet Fatih, Istanbul, mengingatkan bahwa isu Gaza dan Masjidilaqsa tidak boleh direduksi hanya menjadi agenda bantuan kemanusiaan sesaat.

Baca Juga:  Baitul Maqdis Institute Minta Indonesia Tinjau Ulang Keikutsertaan dalam Board of Peace

Bantuan memang penting, tetapi tanpa pembangunan kesadaran dan strategi jangka panjang, penderitaan akan terus berulang.

Ia menyerukan pendirian pusat-pusat akademik dan keilmuan untuk melahirkan para ahli serta mengembangkan narasi ilmiah yang kuat guna membentuk opini publik global.

Secara khusus, ia menekankan peran perempuan dan dai perempuan untuk mengubah rasa sakit menjadi kesadaran, kesadaran menjadi aksi, dan aksi menjadi dampak yang berkelanjutan.

Ujian Zaman Ini

Dari seluruh pernyataan para tokoh tersebut, satu benang merah tampak jelas: Gaza dan Al-Aqsa adalah ujian zaman ini. Ujian atas keberanian moral, kejernihan akal, dan kejujuran iman. Apakah umat akan memilih jalan Andalusia—damai semu di atas kezaliman—atau menempuh jalan kesetiaan dan keteguhan meski penuh risiko.

Konferensi ini menegaskan bahwa sejarah tidak hanya ditulis oleh para penindas, tetapi juga oleh mereka yang menolak lupa dan enggan menyerah. Di hadapan Gaza yang terluka dan Al-Aqsa yang terancam, umat sedang ditanya oleh sejarah: di pihak manakah kita berdiri? (#)

Istanbul, 14 Desember 2025

Penyunting Mohammad Nurfatoni