Opini

Menjaga Kompas Ideologis Amal Usaha Muhammadiyah di Tengah Logika Pasar

60
×

Menjaga Kompas Ideologis Amal Usaha Muhammadiyah di Tengah Logika Pasar

Sebarkan artikel ini
Aji Damanuri

Amal usaha adalah jantung dakwah Muhammadiyah. Namun, ketika profesionalisme dan persaingan pasar makin dominan, pertanyaan mendasarnya mengemuka: masihkah ideologi Islam menjadi kompas utama AUM?

Oleh Dr. Aji Damanuri, M.E.I., Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Daerah Muhammadiyah  Tulungagung, Dekan FEBI UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo.

Tagar.co – Muhammadiyah dikenal sebagai gerakan Islam modern yang menjadikan amal usaha sebagai jantung dakwahnya.

Sekolah, rumah sakit, perguruan tinggi, dan unit-unit ekonomi Muhammadiyah bukan hanya institusi pelayanan publik, tetapi juga simbol keberagamaan yang bekerja secara nyata. Melalui AUM, Islam tidak berhenti sebagai wacana moral, melainkan hadir dalam struktur sosial dan ekonomi umat.

Baca juga: Islam Berkemajuan yang Menggemuk: Tantangan Daya Kritis Muhammadiyah

Namun, justru karena besarnya jaringan dan nilai aset itulah, pertanyaan kritis patut diajukan ke ruang publik: apakah AUM Muhammadiyah hari ini masih sepenuhnya amal usaha, atau sebagian telah berubah menjadi usaha besar yang kebetulan beramal?

Apakah ideologi Islam masih menjadi kompas utama AUM, ataukah logika pasar mulai mengambil alih kemudi?

Baca Juga:  Hisab Dituding Menyimpang dari Sunah—Benarkah?

Pertanyaan ini tidak lahir dari sikap sinis, melainkan dari kegelisahan ideologis. Gerakan besar sering kali bukan runtuh karena serangan luar, tetapi karena perlahan menjauh dari nilai dasarnya sendiri.

Sejak awal, AUM bertumpu pada teologi al-maun: keberagamaan yang berpihak pada kaum lemah, membebaskan, dan melayani.

K.H. Ahmad Dahlan mendirikan sekolah dan rumah sakit bukan untuk mengejar laba, melainkan untuk memutus rantai kebodohan dan kemiskinan. Dalam logika ini, surplus hanyalah konsekuensi, bukan tujuan.

Kini, realitasnya jauh lebih kompleks. AUM—terutama di sektor pendidikan tinggi dan kesehatan—beroperasi dalam arena persaingan pasar yang ketat. Tarif layanan meningkat, manajemen makin korporatis, dan keberhasilan kerap diukur melalui neraca keuangan serta ekspansi aset. Bahasa dakwah perlahan bergeser menjadi bahasa kinerja, target, dan pencitraan (branding).

Muhammadiyah memang bukan korporasi kapitalis klasik. Tidak ada pemegang saham individu, tidak ada dividen personal. Namun, kapitalisme tidak selalu hadir sebagai kepemilikan modal; ia dapat menjelma sebagai cara berpikir.

Ketika efisiensi mengalahkan empati, ketika surplus menjadi ukuran utama keberhasilan, dan ketika akses kaum dhuafa terhadap layanan AUM makin menyempit, di situlah kapitalisme institusional bekerja.

Baca Juga:  Lebaran tanpa Manhaj, Hari Ini Buka Puasa Besok Salat Idulfitri

Fenomena ini dalam kajian organisasi dikenal sebagai mission drift, yakni pergeseran perlahan dari misi ideologis menuju rasionalitas pasar. Ironisnya, pergeseran ini sering dibungkus jargon profesionalisme dan keberlanjutan, sehingga nyaris tidak terasa.

Profesionalisme tentu diperlukan. Namun, pertanyaannya bukan apakah AUM harus profesional, melainkan siapa yang menjadi tuan. Profesionalisme yang tunduk pada ideologi Islam adalah keniscayaan. Tetapi ketika logika pasar menjadi hakim tertinggi, di situlah ruh amal usaha terancam.

Muhammadiyah sebenarnya memiliki perangkat ideologis yang kuat: Majelis Ekonomi, Bisnis, dan Parwisata atau Majelis Tarjih dan Tadjid, serta tradisi musyawarah.

Namun, perangkat ini harus berfungsi sebagai penjaga nilai, bukan sekadar pelengkap struktur. Yang mendesak hari ini adalah keberanian melakukan audit ideologis terhadap AUM, bukan untuk mencari kesalahan, melainkan memastikan arah tetap sejalan dengan cita-cita awal.

Keberhasilan AUM tidak cukup diukur dari besarnya aset atau surplus, tetapi dari sejauh mana ia memperluas akses pendidikan, kesehatan, dan ekonomi bagi mereka yang paling membutuhkan.

Pendekatan maqashid al-syari’ah seharusnya menjadi tolok ukur utama: menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta umat.

Baca Juga:  Naskah Khotbah: Idulfitri dan Jalan Filantropi, dari Puasa Menuju Kepedulian Sosial

Mengkritik AUM Muhammadiyah bukan berarti meragukan kontribusinya. Justru sebaliknya, kritik ini lahir dari kesetiaan ideologis. Muhammadiyah terlalu berharga untuk dibiarkan berubah menjadi korporasi besar yang kehilangan ruh dakwahnya.

Pasar boleh menjadi mitra, tetapi tidak boleh menjadi tuan. Selama ideologi Islam tetap menjadi kompas, AUM akan tetap menjadi amal usaha, bukan sekadar usaha yang berlabel amal. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni