Feature

Dekat dengan Layar, Jauh dari Hati

44
×

Dekat dengan Layar, Jauh dari Hati

Sebarkan artikel ini
IIustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Jari lincah menekan layar, namun hati sering terabaikan. Inilah saatnya menata kembali kedekatan yang sejati.

Oleh Ansorul Hakim, Guru PAI SMA Negeri 1 Bojonegoro, Jawa Timur

Tagar.co – Zaman ini bergerak begitu cepat, seperti arus sungai yang tak pernah berhenti. Jari-jari kita lincah menyentuh layar, tetapi hati sering tertinggal di belakang.

Rumah-rumah menjadi lebih senyap, bukan karena damai, melainkan karena percakapan telah berpindah dari lisan ke notifikasi. Kita duduk berdekatan, namun jiwa terasa berjauhan.

Generasi hari ini tumbuh dalam samudra cahaya digital. Mereka mengenal dunia lewat layar sebelum mengenal sunyi lewat doa.

Namun, mereka bukan generasi yang hilang; mereka adalah generasi yang sedang mencari arah—mencari perhatian, makna, dan tempat pulang. Sayangnya, yang sering mereka temukan hanyalah tepuk tangan semu dari dunia yang cepat melupakan.

Baca juga: Dunia Tak Pernah Diam: Mengelola Hidup tanpa Terperangkap Ilusi

Rasulullah SAW mengingatkan: “Sesungguhnya di dalam jasad terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, itulah hati.” (Bukhari dan Muslim)

Baca Juga:  Perang Sunyi di Hati: Taat atau Maksiat?

Hadits ini menjadi cermin bahwa krisis kita hari ini bukan semata pada teknologi, melainkan pada hati yang jarang disapa. Al-Qur’an pun memanggil kita dengan lembut namun tegas:

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia dan agar berbuat baik kepada kedua orang tua.” (Al-Isrā’: 23)

Ayat ini bukan sekadar perintah etika, tetapi jalan menuju cahaya hidup.

Masalahnya, kita sibuk mengisi layar, tetapi lupa mengisi jiwa. Kita rajin memperbarui status, namun lalai memperbarui niat. Kita kuat dalam genggaman gawai, namun lemah dalam memeluk orang tua. Kita fasih berbicara di ruang maya, namun kaku menyapa guru di dunia nyata.

Bayangkan, seandainya rumah kembali menjadi tempat doa, bukan hanya tempat Wi-Fi. Seandainya meja makan kembali menjadi ruang cerita, bukan sekadar tempat meletakkan ponsel. Seandainya sekolah menjadi taman akhlak, bukan sekadar arena perlombaan nilai. Betapa utuhnya jiwa generasi kita.

Para ulama dahulu mengingatkan: ilmu tanpa adab akan kehilangan cahayanya. Imam Al-Ghazali menegaskan, kerasnya hati muncul karena manusia menjauh dari dzikir dan air mata taubat. Hari ini, kalimat itu terasa semakin relevan, ketika banyak mata sibuk menatap layar, tetapi lupa menatap ke dalam diri.

Baca Juga:  Beasiswa Mentari Berbuah Prestasi, Pelajar Bojonegoro Juara 2 Tahfiz Se-Jawa Timur

Mungkin inilah saatnya kita berhenti sejenak. Bukan untuk menjauhi dunia, tetapi untuk mendekat kepada Tuhan. Mematikan layar saat azan berkumandang. Mencium tangan orang tua dengan penuh syukur. Mendengarkan guru bukan hanya dengan telinga, tetapi dengan hati.

Kita tidak harus memusuhi teknologi. Yang kita perlukan hanyalah menempatkan hati kembali di pusat kehidupan. Karena pada akhirnya, yang membuat manusia utuh bukan seberapa cepat jarinya menggeser layar, tetapi seberapa khusyuk jiwanya saat bersujud, dan seberapa lembut sikapnya kepada sesama.

Kita mungkin masih dekat dengan layar. Namun semoga, kita tak lagi jauh di hati. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni