
Prestasi Timnas Indonesia belum membanggakan. Setiap laga mengecewakan harapan pendukungnya. Bahkan pertandingan selevel SEA Games kalah dengan Filipina, tim underdog.
Oleh M. Rohanudin, Praktisi Penyiaran.
Tagar.co – Penampilan Timnas U-22 di SEA Games 2025 adalah bukti terbaru betapa jauhnya jarak antara prestasi, harapan, dan manajemen dalam sepak bola Indonesia.
Kekalahan 0-1 dari Filipina pada pertandingan di Chiang Mai, Thailand, 8 Desember 2025 lalu, menjadi ironi. Tim bola Filipina yang tak pernah dijagokan menendang Timnas menjadi pecundang.
Harapan terhadap Timnas ibarat orang jatuh cinta yang tak pernah mampu mengungkapkan rasa cintanya. Apalagi mencapai kursi pelaminan. Hanya angan. Seperti kasih tak pernah kesampaian.
Nasib Indonesia masih menanti hasil pertandingan terakhir melawan Myanmar pada Jumat (12/12/2025) ini.
Harapan lolos ke semifinal kini tergantung pada selisih gol yang mampu diraih. Kemenangan tipis kemungkinan besar tidak cukup, sehingga tekanan terhadap tim semakin besar.
Lebih menyakitkan lagi, peluang ke semifinal kini bergantung bukan hanya pada kemampuan pemain sendiri, tetapi juga hasil pertandingan negara lain.
Sebuah negara sebesar Indonesia tidak seharusnya menaruh harga diri sepak bolanya pada skenario yang ditentukan laga Vietnam atau Malaysia.
Masalahnya tidak berhenti pada satu pertandingan buruk. Persoalan terbesar ada pada persiapan panjang yang minim arah dan minim konsistensi.
Pemusatan latihan berbulan-bulan dan uji coba yang tidak menunjukkan peningkatan berarti, serta komposisi pemain yang tidak kunjung stabil menimbulkan pertanyaan besar. Sebenarnya apa yang sedang dikejar tim ini?
Studi Kasus I
SEA Games 2017: Persiapan Panjang, Hasil Tetap Stagnan
Pada event ini, Indonesia datang dengan persiapan panjang termasuk pemusatan latihan di Korea Selatan dan beberapa uji coba internasional. Namun prestasi mengecewakan. Tim U-22 kalah 1–3 dari Thailand di fase grup.
Kemudian hanya mampu imbang melawan Myanmar 1–1. Akhirnya tersingkir sebelum semifinal. Masalahnya sama seperti hari ini, ketidakkonsistenan performa, pola bermain yang tidak jelas, serta ketergantungan pada talenta individu.
Pola itu kembali muncul di SEA Games 2025, hanya dengan nama pemain yang berbeda.
Sulit menuntut konsistensi dari pemain muda ketika sejak awal tidak ada garis besar yang jelas. Target emas pun diumumkan dengan cara samar, seolah publik tidak perlu mengetahui seberapa serius negara ini memandang turnamen yang seharusnya menjadi panggung kebanggaan.
Tanpa target yang tegas, tidak ada standar yang bisa digenggam. Tanpa standar, tidak ada arah, maka tidak ada akuntabilitas. Kegagalan hanya akan menjadi rutinitas yang dibungkus alasan.
Para pemain muda sebenarnya punya kemampuan. Bakat ada, punya potensi, tampil mengesankan bersama klub masing-masing. Mereka layak menjadi tulang punggung masa depan. Mereka punya energi dan keberanian.
Namun sepak bola bukan panggung individu. Tanpa sistem yang solid dan kerangka kerja yang rapi, para pemain terbaik hanya menjadi bagian yang tercecer, bukan kekuatan yang menyatu.
Tidak ada tim besar yang lahir dari individu yang dibiarkan berjalan sendiri sendiri. Yang lahir adalah kekacauan yang rapi dan kekalahan yang terasa berulang.
Studi Kasus II
Piala AFF 2014–2022, Generasi Berbakat Tanpa Sistem yang Menopang.
Dalam rentang hampir satu dekade, Indonesia berkali-kali memiliki generasi emas kecil, Evan Dimas, Egy Maulana, Witan Sulaeman, Saddil Ramdani. Namun tanpa sistem yang kuat, bakat itu meledak sebentar lalu meredup di level kompetitif.
Contoh di Piala AFF 2016, Indonesia kalah 2–1 dari Thailand di semifinal. Kemudian kalah 4–2 dari Vietnam di final 2018.
Tim kembali tersingkir di semifinal 2020 dikalahkan Thailand 2–0. Tim nasional berkali-kali mencapai final AFF namun tanpa gelar.
Ini membuktikan bahwa kualitas individu tidak dapat mengalahkan negara-negara yang memiliki bangunan pembinaan lebih rapi seperti Thailand dan Vietnam.
Studi ini menegaskan, bakat tanpa sistem hanya menghasilkan “generasi harapan”, bukan generasi juara.
Tambahan informasi terkini: Saat ini, nasib Timnas U-22 Indonesia di SEA Games 2025 masih belum pasti.
Untuk lolos ke semifinal, mereka harus menang melawan Myanmar dengan selisih gol yang cukup besar.
Jika hanya menang tipis, peluang untuk menjadi runner-up terbaik sangat kecil. Ini menambah tekanan dan menunjukkan betapa krusialnya setiap laga di turnamen ini.
Sikap Minder
Inilah persoalan mendasar membentuk tim sepak bola. Kita ingin hasil layaknya negara besar, tetapi kita mengelola sepak bola dengan pola pikir kecil. Kita menuntut prestasi, tetapi menghindar dari pembenahan mendasar.
Pemain blasteran hasil naturalisasi yang mahal tak mampu mendongkrak prestasi. Rasanya seperti menikmati mi instan. Direbus lima menit, lalu ditaburi serbuk bumbu, maka jadi. Begitulah cita rasa Timnas yang instan.
Padahal naturalisasi pemain asing itu cermin sikap minder waardeg complex. Tak percaya dengan kekuatan bangsa sendiri. Silau dengan stereotype orang bule pasti bagus.
SEA Games 2025 yang digelar 9-20 Desember di Thailand tidak boleh dibaca sebagai ujian pemain semata. Turnamen ini adalah cermin besar untuk federasi, pelatih, dan seluruh ekosistem olahraga.
Bila Indonesia gagal lolos semifinal, itu bukan tragedi satu generasi. Itu adalah sinyal keras bahwa pembinaan kita rapuh. Mental kompetitif kita meletup sesaat lalu padam, dan manajemen target kita lebih sering mengandalkan retorika daripada strategi.
Sudah terlalu lama kita menutup mata. Semangat tanpa struktur tidak pernah menghasilkan kemajuan.
Nasionalisme yang meledak sesaat tidak bisa menutupi fondasi yang keropos. Kita tidak kekurangan dukungan publik, yang kita kekurangan adalah arah dan tata kelola.
Inilah waktunya berhenti hidup dari optimisme kosong. Sepak bola Indonesia tidak membutuhkan lebih banyak slogan. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk mengakui kelemahan. Kemauan untuk memperbaiki fondasi, dan komitmen yang tidak tergoyahkan terhadap kerja yang terukur.
Karena pada akhirnya, harapan tidak memenangkan pertandingan. Yang memenangkan pertandingan adalah sistem yang bekerja, komitmen yang konsisten, dan keberanian untuk berubah sebelum terlambat. (#)
Penyunting Sugeng Purwanto












