Telaah

Sabda Alam di Balik Bencana

45
×

Sabda Alam di Balik Bencana

Sebarkan artikel ini
Ridwan Ma’ruf

Di tengah guncangan bencana, alam sebenarnya sedang menyampaikan pesan: bahwa manusia perlu berhenti sejenak, menata diri, dan kembali mendekat kepada penciptanya.

Oleh Ridwan Ma’ruf; Anggota Majelis Pemberdayaan Wakaf Pimpinan Daerah Muhammadiyah(PDM) Kabupaten Sidoarjo, Pendiri Tahfiz Quran Islamic School Al-Fatih Sidoarjo, dan Praktisi Spiritual Parenting Sidoarjo.

Tagar.co – Alam semesta memberikan tanda-tanda keagungan Allah. Namun, manusia sering kali terlena oleh kehidupan duniawi. Akibatnya muncul konsekuensi negatif berupa hukuman Ilahi: bencana alam, musibah, atau kesulitan hidup sebagai cara Allah menyadarkan manusia agar kembali ke jalan yang benar.

Allah berfirman dalam Ar-Rum ayat 41:

ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Baca juga: Seni Hidup sesuai Kemampuan: Pedoman Finansial dalam Islam

Istilah kerusakan (al-fasād) mencakup pelanggaran terhadap hukum Allah, termasuk eksploitasi alam berlebihan, korupsi, tersebarnya perzinaan, serta kesyirikan. Musibah buruk ini tidak hanya menimpa pelaku zalim, tetapi juga masyarakat lain yang tidak bersalah. Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Anfal ayat 25:

Baca Juga:  Ucapan Lebaran yang Lebih Dekat dengan Sunah

وَٱتَّقُوا۟ فِتْنَةً لَّا تُصِيبَنَّ ٱلَّذِينَ ظَلَمُوا۟ مِنكُمْ خَآصَّةً ۖ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ

Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.

Dua Makna Sabda Alam dalam Bentuk Musibah

1. Refleksi Cinta Allah terhadap Orang Mukmin

Musibah yang menimpa seorang Mukmin merupakan bentuk kasih sayang Allah Ta’ala untuk meninggikan derajat seorang muslim di sisi-Nya. Jika bersabar, dosanya akan gugur dan diganti dengan pahala besar. Nabi Saw. bersabda:

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ، وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

“Sesungguhnya besarnya pahala tergantung pada besarnya ujian. Dan jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian kepada mereka. Barang siapa rida, maka baginya keridaan Allah. Barang siapa tidak suka, maka baginya kemurkaan Allah.” (Tirmizi dan Ibnu Majah., hasan)

Musibah dapat meninggikan derajat, menghapus dosa, serta menyadarkan manusia akan lemahnya diri dan kebutuhan akan pertolongan Allah Ta’ala.

Baca Juga:  Jangan Intervensi Allah Dia Sibuk Mengurusi Hajat MakhlukNya      

2. Bentuk Murka Allah kepada Manusia yang Ingkar

Musibah juga bisa menjadi hukuman bagi mereka yang ingkar, abai, dan keras kepala terhadap peringatan Allah. Misalnya banjir tsunami atau banjir bandang yang menimpa kaum Nabi Nuh yang ingkar. Allah berfirman dalam Al-Ankabut ayat 14:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِۦ فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا فَأَخَذَهُمُ ٱلطُّوفَانُ وَهُمْ ظَٰلِمُونَ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, padahal mereka adalah orang-orang yang zalim.

Demikian pula musibah angin topan dan kekeringan yang menimpa umat Nabi Hud. Allah berfirman dalam Al-Haqqah 6:

وَأَمَّا عَادٌ فَأُهْلِكُوا۟ بِرِيحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍ

“Adapun kaum ‘Aad, maka mereka dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang.”

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa murka Allah dapat bertransformasi menjadi bencana alam yang sering diabaikan oleh manusia yang ingkar.

Kesimpulan

Jika manusia tidak mampu lagi mengendalikan dirinya sehingga berbagai penyimpangan semakin menjadi-jadi, maka pada saat itu alam menyampaikan pesan berupa peringatan keras sesuai sunnatullah. Tidak ada cara yang dapat menghentikannya kecuali dengan bertobat nasuha kepada Allah Ta’ala. Wallāhualamu. (#)

Baca Juga:  Melestarikan Alam Itu Panggilan Iman

Penyunting Mohammad Nurfatoni