
Musikalisasi puisi dari komunitas Pena Perajut Aksara menjadi penampilan paling membekas dalam peringatan Hari Ibu ke-97 di Sidoarjo, menghadirkan kehangatan dan keharuan lewat kata dan nada.
Tagar.co – Perayaan Hari Ibu Ke-97 Tahun 2025 yang diselenggarakan Tim Penggerak (TP) PKK Kabupaten Sidoarjo di Pendopo Delta Wibawa, Rabu 3 Desember 2025, berlangsung hangat, meriah, dan penuh haru.
Baca juga: Petualangan di Dam Kekep: Saat Literasi Bertemu Deru Mesin Jip
Acara yang dihadiri jajaran TP PKK Kabupaten serta perwakilan dari 18 kecamatan itu menghadirkan beragam penampilan, namun satu yang paling menyita perhatian adalah musikalisasi puisi dari komunitas literasi Pena Perajut Aksara (PPA).
Sastra yang Menghidupkan Ruang Pendopo
PPA tampil memukau lewat musikalisasi puisi yang memadukan kekuatan kata dan alunan musik. Penampilan ini bukan sekadar hiburan, tetapi menghadirkan ruang refleksi tentang kasih sayang, perjuangan, dan keteguhan seorang ibu.
Dalam segmen pertama, Khotimatun Nisak membacakan puisi karya Dhian Harnia Patrawati berjudul “Ibu yang Menyerahkan Lukanya kepada Tuhan”. Puisi ini menggambarkan perjuangan seorang ibu menghadapi bencana dan kenyataan hidup yang penuh luka, disampaikan dengan penghayatan yang membuat suasana pendopo hening dan larut.
Ketua PPA, Aziza Indah Karsari, kemudian tampil membawakan puisi “Bunda” karya D. Zawawi Imron. Puisi tentang ketabahan dan cahaya seorang ibu ini kembali mengajak para peserta menyelami kedalaman makna pengorbanan perempuan dalam keluarga.
Ditutup Lagu “Suara Ibu” yang Menghangatkan Suasana
Penampilan PPA ditutup dengan lagu “Suara Ibu” karya Aziza Indah Karsari, diiringi petikan gitar Dwi Endang. Lirik yang menegaskan peran ibu sebagai penjaga hati dan penerang generasi membuat banyak peserta terbawa emosi. Suasana pendopo berubah menjadi ruang penghormatan bagi peran mulia perempuan Indonesia.
Dengan mengusung tema “Perempuan Berdaya dan Berkarya Menuju Indonesia Emas 2045”, Peringatan Hari Ibu ke-97 di Sidoarjo menjadi momentum untuk menegaskan kembali kontribusi perempuan—khususnya para ibu—dalam pembangunan keluarga, masyarakat, dan bangsa.
Melalui karya seni dan literasi, PPA menunjukkan bahwa suara perempuan adalah kekuatan yang terus hidup, menginspirasi, dan menyinari perjalanan bangsa. (#)
Jurnalsi Yekti Pitoyo Penyunting Mohammad Nurfatoni












