
Sebelum Islam, Ka’bah dipenuhi 360 berhala. Pembebasan Makkah mengubah semuanya, mengukir sejarah, dan menjadikannya rumah suci yang hanya untuk Allah Swt.
Oleh Afan Alfian
Tagar.co – Berabad-abad sebelum cahaya Islam menyinari Jazirah Arab, Ka’bah bukan hanya menjadi pusat perjalanan spiritual, tetapi juga dikelilingi oleh ratusan berhala.
Sekitar 360 berhala berdiri mengitari bangunan suci itu, masing-masing menjadi simbol kepercayaan musyrik yang menancap dalam kehidupan masyarakat Mekah.
Baca juga: Quraisy: Pedagang Ulung yang Tergelincir oleh Kepentingannya Sendiri
Di antara yang paling diagungkan adalah Hubal, Latta, Uzza, dan Manat—empat sesembahan utama yang memiliki pengaruh kuat dalam tradisi keagamaan Quraisy dan suku-suku Arab lainnya.
Hubal dianggap sebagai berhala terbesar dan paling bergengsi, berupa patung manusia dari akik merah yang diperlakukan layaknya penentu nasib.
Latta, sosok dewi yang diagungkan Quraisy, menjadi simbol keberkahan dan kemakmuran.
Uzza disembah sebagai kekuatan tertinggi, bahkan dianggap sebagai “anak Tuhan,” dengan lokasi pemujaan di antara Makkah dan Taif.
Lain halnya Manat, sesembahan berbentuk batu besar di antara Makkah dan Madinah, yang menjadi pusat ritual penduduk Yasrib.
Ketika Pembebasan Makkah—atau yang biasa disebut Fathumakkah—terjadi pada tahun 8 Hijriah, suasana kota suci berubah total. Nabi Muhammad Saw. memasuki Makkah dengan penuh wibawa, namun tanpa pertumpahan darah.
Kemenangan ini bukanlah penaklukan dengan kekuatan kasar, melainkan pembebasan Makkah dari belenggu kemusyrikan. Beliau menuju Ka’bah, memegang tongkat, dan menghancurkan berhala-berhala yang selama ini diagungkan kaum musyrik. Satu per satu patung itu roboh, sementara Rasulullah membaca ayat:
“Jā’a al-haqqu wa zahaqal bāthil. Innal bāthila kāna zahūqā.” Kebenaran telah datang, dan kebatilan telah lenyap. Sungguh, kebatilan itu pasti hilang lenyap.\
Tak hanya di sekitar Ka’bah, Nabi SAW juga mengutus para sahabat untuk menghancurkan berhala-berhala besar di luar Mekah. Latta di Thaif dihancurkan oleh Al-Mughirah bin Syu’bah, Uzza di Nakhlah dimusnahkan oleh Khalid bin Walid, dan Manat di Qudayd diruntuhkan oleh Ali bin Abi Thalib. Dengan itu, sistem kepercayaan jahiliyah yang telah berakar selama berabad-abad resmi berakhir.
Peristiwa monumental ini menjadi tonggak awal era baru: era tauhid yang bersih dari kemusyrikan. Ka’bah kembali pada fungsi hakikinya, sebagai rumah suci yang hanya diperuntukkan bagi penyembahan kepada Allah SWT semata.
Ka’bah Hari Ini
Kini, Ka’bah berdiri megah sebagai pusat ibadah umat Islam dari seluruh dunia. Setiap hari, tanpa henti, jutaan langkah dari berbagai bangsa mengitarinya dalam tawaf, melambangkan kesatuan, ketaatan, dan penyerahan diri kepada Allah Swt. Tidak ada lagi berhala yang mengitari rumah suci itu; yang tersisa hanyalah kemurnian kalimat tauhid yang ditegakkan Nabi Muhammad Saw. pada hari Fathulmakkah.
Lampu-lampu Masjidilharam kini tidak pernah padam, menjadikan Makkah sebagai kota yang benar-benar tidak pernah tidur. Ka’bah menjadi jantung spiritual dunia Islam: tempat jutaan doa dipanjatkan, air mata mengalir, dan hati-hati kembali disucikan.
Setiap tahun, jutaan jemaah haji dan umrah menyaksikan bukti nyata kemenangan dakwah Rasulullah, bahwa cahaya tauhid yang beliau perjuangkan tetap menyala terang hingga hari ini.
Begitulah perjalanan Ka’bah, dari tempat yang dipenuhi 360 berhala hingga menjadi simbol kemurnian tauhid yang tak tergoyahkan. Sebuah transformasi besar yang dimulai pada hari penuh kemuliaan: Fathulmakkah. (#)
Makkah, Selasa 18 November 2025
Penyunting Mohammad Nurfatoni












