
(Tagar.coAbdul Rokhim Ashari)
Dari rasa takut menjadi percaya diri—begitulah pengalaman siswa SD Muhammadiyah 1 Kebomas saat menjajal flying fox di Telaga Sewu. Kegiatan Outdoor Education ini mengajarkan keberanian yang lahir dari langkah kecil pertama.
Tagar.co – Teriakan antusias bercampur tawa pecah di udara Telaga Sewu, Pasuruan. Itulah suara kegembiraan siswa SD Muhammadiyah 1 (SD Muri) Kebomas, Gresik, Jawa Timur, saat menjajal wahana flying fox, salah satu bagian paling seru dari kegiatan Outdoor Education 2025. Kegiatan ini berlangsung di kawasan wisata edukatif Telaga Sewu, Pandaan, Kabupaten Pasuruan, Kamis (30/10/25).
Dari atas menara setinggi beberapa meter, anak-anak bersiap dengan sabuk pengaman, menatap lintasan tali yang membentang di atas kolam. Sebagian terlihat gugup, sebagian lain berteriak riang. Namun begitu satu per satu meluncur menyeberangi kolam, rasa takut seketika berubah menjadi tawa dan kebanggaan.
“Awalnya deg-degan banget, tapi begitu meluncur rasanya luar biasa. Aku pengin ngulang lagi!” ujar Al Ghozali, siswa kelas V, yang langsung disambut sorakan teman-temannya.
Baca juga: Belajar Seru di Alam Terbuka, Siswa SD Muri Nikmati Science Camp di Telaga Sewu
Wahana flying fox menjadi simbol keberanian bagi anak-anak. Tak hanya menguji nyali, kegiatan ini juga melatih mereka untuk percaya pada diri sendiri dan mematuhi instruksi keselamatan dari pemandu.
Guru pendamping, Ustazah Nurul Istiqomah, mengatakan bahwa momen seperti ini penting bagi perkembangan mental anak-anak.
“Banyak yang awalnya takut, tapi setelah mencoba mereka sadar bahwa keberanian datang ketika kita berani melangkah. Inilah bentuk pembelajaran karakter yang sesungguhnya,” ujarnya.
Beberapa guru tampak mengabadikan momen itu dengan ponsel mereka. Setiap kali ada siswa yang berhasil meluncur hingga ke ujung lintasan, tepuk tangan dan sorak sorai langsung menggema. Tak jarang tawa pecah ketika ada yang meluncur sambil menutup mata rapat-rapat karena tegang bercampur senang.
Di sela kegiatan, pemandu dari Ardiansyah Tour and Travel memberikan penjelasan tentang pentingnya keselamatan dan keberanian yang bertanggung jawab. Anak-anak diajarkan cara mengenakan sabuk pengaman, posisi tubuh yang benar saat meluncur, hingga bagaimana mengendalikan rasa takut sebelum mulai.
“Kami tidak hanya ingin anak-anak senang, tapi juga belajar disiplin dan menghargai aturan. Semua itu bagian dari karakter yang dibentuk lewat permainan,” tutur Mas Andi, salah satu pemandu kegiatan.
Suasana di sekitar area flying fox tampak penuh warna. Beberapa siswa menunggu giliran sambil bersorak memberi semangat, yang lain sibuk menyiapkan kamera untuk merekam aksi teman mereka. Di tengah riuhnya, tampak pula guru-guru yang setia mendampingi, memastikan keamanan sekaligus ikut menikmati keceriaan.
Belajar Kontekstual
Bagi pihak sekolah, pengalaman seperti ini bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari metode belajar kontekstual yang menekankan keseimbangan antara kecerdasan akademik dan emosional.
“Anak-anak SD Muri dikenal aktif dan kreatif. Melalui kegiatan seperti ini, mereka belajar langsung tentang arti keberanian, kerja sama, dan empati,” ujar Bellah Iasyah Meilindah, Wakil Kepala Urusan Kesiswaan SD Muhammadiyah 1 Kebomas.
Ia menambahkan bahwa Outdoor Education merupakan agenda tahunan sekolah yang dirancang agar siswa dapat belajar di luar tembok kelas.
“Anak-anak harus mengenal alam, berinteraksi dengan lingkungan, dan memahami bahwa belajar bisa di mana saja. Itulah semangat pendidikan yang ingin kami tumbuhkan,” jelasnya.
Menjelang sore, giliran terakhir meluncur, namun semangat belum juga surut. Beberapa anak masih meminta “bonus” putaran tambahan sebelum kegiatan beralih ke sesi berikutnya. Senyum, tawa, dan wajah puas terlihat jelas di setiap langkah kecil yang kembali ke titik kumpul.
Saat rombongan berjalan meninggalkan area flying fox, langit Pasuruan tampak cerah. Di mata anak-anak itu, keberanian bukan lagi sekadar kata — melainkan pengalaman nyata yang akan mereka kenang sepanjang hidup. (#)
Jurnalis Abdul Rokhim Ashari Penyunting Mohammad Nurfatoni












