
Di tengah semarak Mumtas Ke-1 di MI Muhammadiyah 6 Sekapuk, para siswa belajar bahwa persaingan bukan soal menang dan kalah, melainkan cara beribadah—berjuang, berproses, dan berbuat terbaik di jalan kebaikan.
Tagar.co – Tak ada kemajuan tanpa persaingan, dan tak ada persaingan yang berarti tanpa kejujuran.
Itulah pesan yang menggema di tengah semarak Muhammadiyah Talents of Pantura (Mumtas) Ke-1 di MI Muhammadiyah 6 Sekapuk, Ujungangkah, Gresik, Selasa (21/10/2025). Di sana, ratusan siswa madrasah belajar satu hal penting: bahwa menang bukan segalanya, tapi berproses dengan nilai adalah segalanya.
Baca juga: Mumtas 2025 Dibuka: Panggung Bakat Siswa Madrasah Muhammadiyah di Pantura Gresik
Ajang ini mempertemukan siswa-siswi madrasah ibtidaiyah Muhammadiyah dari berbagai kecamatan di pantai utara alias pantura—Sidayu, Dukun, Ujungpangkah, hingga Panceng. Suasana penuh semangat dan keceriaan terasa sejak pagi, ketika para peserta memasuki halaman sekolah yang akrab disapa Mimsix.
Persaingan yang Melahirkan Ketangguhan
Dalam sambutannya, Muafiq, M.Pd., Ketua Majelis Dikdasmen Pimpinan Cabang Muhammadiyah Ujungpangkah menyampaikan pesan mendalam bahwa hidup adalah ajang persaingan atau kompetisi yang sehat.
“Dalam hidup ini kita harus siap bersaing dengan yang lain. Contoh paling sederhana bisa kita lihat di dalam satu kelas: setiap anak tentu ingin menjadi yang terbaik, meraih peringkat tertinggi,” ujarnya penuh penekanan.
Menurutnya, semangat bersaing bukanlah soal menaklukkan orang lain, melainkan menaklukkan diri sendiri—belajar tekun, bekerja keras, dan tidak mudah menyerah.
“Siapa yang tidak siap bersaing akan tertinggal. Dunia terus bergerak maju, dan hanya mereka yang mau berusaha yang akan mampu bertahan dan berprestasi,” tegasnya.
Ajang Menggali Potensi, Menumbuhkan Iman
Muafiq menjelaskan salah satu tujuan utama Muntas adalah menggali dan menemukan bakat anak-anak yang mungkin selama ini belum tampak. Melalui ajang seperti inilah potensi mereka dapat dikenali, dikembangkan, dan diarahkan menuju masa depan yang lebih baik.
Ia juga menyampaikan apresiasi tinggi kepada panitia dan Forum Komunikasi Madrasah (Foskam) SD/MI di daerah Pantura yang telah menggagas kegiatan ini.
“Muntas merupakan kegiatan yang sangat baik. Saya sangat mengapresiasi panitia dan Foskam Pantura yang sudah membuat ide progresif ini. Karena melalui kegiatan semacam ini, kita sedang berkiprah di bumi untuk mempersiapkan Indonesia yang lebih baik di masa depan,” tuturnya.
Di akhir sambutannya, Muafiq mengingatkan bahwa segala aktivitas yang dilakukan harus diniatkan sebagai ibadah.
“Karena pada dasarnya, hidup ini adalah ibadah. Kita sebagai khalifah di bumi memiliki tugas untuk berdakwah dan berbuat kebaikan dalam setiap langkah. Maka marilah kita terus berjuang, berprestasi, dan beribadah melalui setiap karya yang kita lakukan.”
Ia pun mengaitkan semangat ini dengan tagline Mumtas Ke-1: “Gali Potensi, Raih Prestasi Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah.” Menurutnya, tagline tersebut bukan sekadar slogan, tetapi panggilan bagi seluruh warga madrasah untuk menumbuhkan potensi terbaik anak-anak.
“Dengan menggali potensi, kita menyiapkan generasi penerus yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga tangguh secara moral dan spiritual. Dan dengan meraih prestasi, kita wujudkan cita-cita Madrasah Muhammadiyah dalam membangun peradaban Islam yang berkemajuan,” ujarnya.

Hangatnya Pantun dan Semangat Peserta
Usai sambutan, Muafiq membuka secara resmi kegiatan Mumtas Ke-1 dengan bacaan, “Bismillāhirraḥmānirraḥīm,” yang disambut tepuk tangan meriah dari peserta dan guru pendamping.
Menutup sesi pembukaan, Nur Lailatul Habibah, Kepala MI Muhammadiyah 5 Banyutengah yang bertugas sebagai pembawa acara, melantunkan pantun yang sukses membakar semangat:
Pergi ke pasar membeli sutra,
pulangnya singgah di tepi pantai.
Selamat datang di Muntas of Pantura,
ajang talenta siswa madrasah Muhammadiyah yang penuh inspirasi!
Sontak para peserta menjawab serempak, “Cakep!” Disusul tawa dan tepuk tangan riuh yang menghangatkan suasana.
Hari itu, dari Sekapuk yang tenang, ratusan anak belajar bahwa persaingan bukanlah permusuhan, melainkan jalan menuju kemajuan. Sebab hidup—seperti pesan Muafiq—adalah ajang persaingan yang sehat, tempat di mana kejujuran dan kerja keras menjadi kunci kemenangan sejati. (#)
Jurnalis Nurkhan Penyunitng Mohammad Nurfatoni












