
Rabiulawal bukan hanya bulan kelahiran dan wafat Rasulullah Saw., tetapi juga momentum untuk menata ulang kecintaan kita kepadanya. Cinta itu nyata bila terwujud dalam amal: memperbanyak selawat, meneladan akhlak, serta menghidupkan perjuangan Nabi dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh: Hogi Caesar Budianto, S.Pd.; Guru Al-Qur’an SMA Muhammadiyah 10 GKB Gresik; Imam Masjid At-Taqwa PPS; dan mubaligh muda Muhammadiyah Jawa Timur
Tagar.co – Tanggal 12 Rabiulawal telah kita lewati. Namun, gema peristiwa besar yang terjadi di bulan itu—kelahiran dan wafatnya Nabi Muhammad Saw.—tetap menjadi bahan renungan yang tak lekang oleh waktu.
Bagi kaum Muslimin, dua peristiwa ini bukan sekadar catatan sejarah, melainkan pengingat untuk terus meneladan cinta dan perjuangan Rasulullah Saw. dalam kehidupan sehari-hari.
Di berbagai belahan dunia, Rabiulawal biasanya diisi dengan perayaan Maulid Nabi, disertai tradisi lokal yang mengiringinya.
Baca juga: Empat Jalan Menuju Hati Bersih ala Ahli Surga
Akan tetapi, yang lebih penting adalah bagaimana momentum tersebut membawa kita pada penghayatan yang lebih dalam: bagaimana seharusnya kita mengekspresikan cinta kepada Rasulullah Saw. dan meneladan perjuangan beliau di tengah tantangan zaman.
1. Perbedaan Pendapat tentang Tanggal Lahir Rasulullah Saw.
Para ulama berbeda pendapat mengenai tanggal kelahiran Nabi Muhammad Saw. Pendapat yang paling populer di kalangan Muslim adalah 12 Rabiulawal. Namun, sebagian ulama tidak sependapat dengan tanggal ini.
Al-Hafiz Ibnu Katsir dalam Al-Bidāyah wa an-Nihāyah menjelaskan bahwa riwayat yang menyebut kelahiran, pengutusan, dan Isra’ Mi’raj Nabi pada 12 Rabiulawal sanadnya terputus (munqathi’). Menurutnya, riwayat yang lebih kuat adalah hari Senin, 8 Rabiulawal.
Terlepas dari perbedaan tanggal, yang pasti Rasulullah Saw. lahir pada Tahun Gajah dari garis keturunan mulia hingga sampai kepada Nabi Ismail As. dan Abul Anbiya, Nabi Ibrahim As. Kaum Muslimin tetap sepantasnya bergembira atas lahirnya manusia terbaik dan makhluk paling utama di sisi Allah.
2. Wafatnya Rasulullah Saw.
Rabiulawal bukan hanya bulan kelahiran, tetapi juga menjadi bulan duka mendalam. Pada bulan inilah Rasulullah Saw. wafat.
Tidak ada perbedaan pendapat bahwa beliau wafat pada hari Senin, 12 Rabiulawal tahun ke-11 hijriah, dalam usia 63 tahun. Sejak pulang dari Haji Wada, kesehatan beliau menurun. Ketika sakitnya semakin parah, beliau menunjuk Abu Bakar as-Siddiq untuk menggantikan mengimami salat.
Akhirnya, pada hari wafatnya, Rasulullah Saw. berpulang ke rahmatullah di pangkuan istri tercinta, Aisyah Ra. Peristiwa ini menjadi kehilangan terbesar dalam sejarah umat Islam sekaligus pengingat bahwa setiap kehidupan pasti berakhir.
3. Hakikat Perayaan Maulid Nabi
Perayaan Maulid Nabi seharusnya dipahami sebagai upaya menghidupkan syiar Islam dan sunah Rasulullah Saw., bukan sekadar seremonial.
Sayangnya, di beberapa tempat perayaan Maulid diwarnai hal-hal yang tidak bermanfaat, bahkan mendekati kemungkaran: berebut makanan, hiburan yang melalaikan, atau acara jauh dari nilai pendidikan Islam.
Padahal Rasulullah Saw. telah bersabda:
“Aku wasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat kepada pemimpin sekalipun ia seorang budak dari Habasyah. Sesungguhnya siapa yang hidup sepeninggalku, ia akan melihat perselisihan yang banyak.
Maka wajib atas kalian berpegang pada sunahku dan sunah Khulafaurasyidin yang mendapat petunjuk. Peganglah erat-erat dengan gigi geraham. Jauhilah perkara-perkara baru (dalam agama), karena setiap bidah adalah sesat.” (H.R. Abu Dawud No. 4607, At-Tirmizi no. 2676, Ibnu Majah No. 42 – hadis hasan sahih)
4. Rasulullah Saw. Sebagai Teladan Kehidupan
Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Ahzab: 21
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap rahmat Allah, (kedatangan) hari Kiamat, dan banyak mengingat Allah.”
Ayat ini turun dalam konteks Perang Khandaq. Rasulullah Saw. tidak hanya memerintah, tetapi juga turun langsung menggali parit bersama sahabat. Ketika sahabat mengikat satu batu di perut karena lapar, beliau justru memperlihatkan dua batu yang terikat di perutnya, tanda bahwa beliau lebih lapar daripada mereka.
Teladan ini menunjukkan bagaimana seorang pemimpin sejati berjuang bersama umatnya, menanggung lapar, dan berkorban bersama-sama.
5. Wujud Cinta Kepada Rasulullah Saw.
Cinta kepada Rasulullah Saw. bukan hanya diucapkan atau dirayakan, melainkan diwujudkan dalam tindakan nyata: mengikuti sunahnya, memperbanyak selawat, dan meneladan akhlaknya.
Salah satu wujud cinta adalah memuliakan anak yatim. Rasulullah Saw. bersabda:
“Aku dan orang yang mengasuh anak yatim akan (berada) di surga seperti ini.”
Beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengah, lalu merenggangkan keduanya. (H.R. Al-Bukhari No. 5304)
Penutup
Bulan Rabiulawal mengingatkan kita pada dua peristiwa besar: lahirnya cahaya petunjuk, Nabi Muhammad Saw., dan wafatnya sang pembawa risalah.
Momentum ini hendaknya menjadi pengingat untuk meneguhkan cinta kepada Rasulullah Saw. Bukan hanya lewat perayaan, melainkan dengan meneladan akhlaknya, menghidupkan sunahnya, dan istiqamah menjalankan syariat Islam.
Semoga kita kelak dibangkitkan bersama beliau di surga Allah Swt. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












