
Demonstrasi besar Agustus lalu menunjukkan krisis kepercayaan rakyat. Dalam kegelisahan ini, muncul kerinduan akan sosok pemimpin rendah hati seperti Umar bin Khattab yang rela memanggul gandum demi rakyat kecil.
Oleh Dr. Afan Alfian, S.IP., M.I.Kom.; Sekretaris Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Lamongan
Tagar.co – Gelombang demonstrasi besar pada akhir Agustus 2025 lalu menjadi penanda jelas bahwa kekecewaan rakyat telah mencapai puncaknya. Peristiwa tragis yang merenggut sepuluh nyawa bukan sekadar angka di media, melainkan luka mendalam bagi bangsa ini.
Masyarakat merasa suara mereka tidak didengar, kebijakan yang diambil semakin jauh dari kebutuhan rakyat, dan lembaga-lembaga negara seakan kehilangan arah.
Baca juga: Narapidana Terorisme Antarkan Afan Alfian Jadi Doktor
Tuntutan untuk mereformasi DPR, partai politik, hingga institusi kepolisian muncul sebagai cermin betapa publik tidak lagi percaya pada wajah demokrasi yang mereka saksikan sehari-hari.
Dalam kondisi seperti ini, rakyat merindukan pemimpin yang tidak hanya kuat di atas podium, tetapi juga hadir nyata di tengah penderitaan. Kerinduan itu seolah menemukan jawabannya dalam sejarah, pada sosok Umar bin Khattab.
Kisah Umar bin Khattab
Dikisahkan, suatu malam Umar berjalan di sudut kota Madinah. Ia mendengar tangisan anak-anak yang kelaparan. Sang ibu hanya merebus air untuk menenangkan mereka, karena tidak ada makanan yang bisa disajikan.
Mendengar hal itu, Umar tidak berlindung di balik kekuasaan. Ia segera menuju baitul mal, memanggul sendiri karung gandum di punggungnya. Pelayan yang menemaninya pun merasa malu karena khalifah justru menolak dibantu.
Umar kemudian memasak gandum itu dengan tangannya, dan baru pulang setelah memastikan anak-anak tadi tertidur dalam keadaan kenyang.
Kisah ini bukan sekadar romantisme sejarah, melainkan teladan kerendahan hati seorang pemimpin. Umar tidak menunggu laporan resmi, tidak berlama-lama dengan rapat yang bertele-tele, dan tidak menyerahkan semuanya pada aparat. Ia hadir, mendengar, dan ikut memikul beban rakyatnya secara nyata.
Konteks Indonesia
Konteks Indonesia hari ini justru memperlihatkan kontras. Pemimpin sering tampak jauh, sibuk dengan pencitraan, sementara rakyat harus menanggung mahalnya kebutuhan pokok, lemahnya perlindungan hukum, dan kerasnya tindakan aparat. Akibatnya, demonstrasi menjadi jalan terakhir rakyat untuk menyuarakan isi hati mereka.
Bangsa ini sesungguhnya tidak menuntut pemimpin yang sempurna. Yang diharapkan hanyalah kerendahan hati: keberanian untuk turun langsung, mendengar jeritan rakyat kecil, dan menjadikan kekuasaan sebagai amanah, bukan sekadar alat mempertahankan diri.
Seperti Umar bin Khattab yang rela memanggul gandum, Indonesia butuh pemimpin yang berani memanggul penderitaan rakyatnya. Sebab tanpa kerendahan hati, kekuasaan hanya akan semakin menjauh dari keadilan. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












