
Ratusan jemaah Muhammadiyah dan Aisyiyah memenuhi halaman Masjid Baitul Mukminin, Kedungsukodani. Ceramah interaktif Ustaz H. Ridwan Manan menghadirkan empat kunci membangun keluarga sakinah.
Tagar.co – Matahari pagi menembus sela-sela pepohonan di halaman Masjid Baitul Mukminin, Kedungsukodani, Balongbendo. Ratusan warga Muhammadiyah dan Aisyiyah duduk bersila di atas tikar hijau, menyimak dengan khidmat.
Dari barisan laki-laki di depan hingga deretan ibu-ibu di serambi masjid, suasana tampak penuh kekeluargaan. Begitulah semarak Pengajian Keluarga Sakinah yang digelar PCM dan PCA Balongbendo, Sidoarjo, Jawa Timur, Ahad (31/8/2025).
Baca juga: Peci Tinggi Ustaz Mistari Jadi Sorotan Safari Ahad Subuh di Jabon
Sejak pukul 05.30 WIB, jemaah berdatangan. Tak hanya dari ranting-ranting Muhammadiyah di Balongbendo, sebagian juga hadir dari Krian, Tarik, hingga Prambon. Antusiasme itu membuat pengajian terasa lebih meriah, bahkan ketika masyarakat masih disibukkan dengan keriuhan peringatan HUT Ke-80 Republik Indonesia.
Pengajian yang digelar rutin setiap Ahad kelima ini menghadirkan penceramah H. Ridwan Manan, Kepala SMA Pondok Pesantren Al-Fattah Buduran, Sidoarjo.
Acara semakin hangat ketika Kepala Desa Kedungsukodani, Ahmad Jumahadi, memberi sambutan sekaligus kuis berhadiah bagi jemaah.

Tip Membangun Keluarga Sakinah
Ceramah Ustaz Ridwan berlangsung interaktif dan penuh humor segar, sehingga jemaah betah menyimak. Ia mengawali tausiah dengan membaca Surah Ar-Ra’d 23 tentang surga ‘Adn, tempat orang-orang beriman bersama keluarga mereka. Dari ayat itu, ia menguraikan empat tip membangun keluarga sakinah.
Pertama, sayangi keluarga. Ia mencontohkan Rasulullah Saw. yang mencium cucunya, Hasan. Di samping beliau, Aqra bin Habis yang memiliki sepuluh anak berkata bahwa ia tidak pernah mencium satu pun anaknya. Rasulullah pun bersabda, “Siapa yang tidak menyayangi, tidak akan disayangi.”
Kedua, bangun komunikasi. “Dalam Al-Qur’an ada 14 ayat yang menggambarkan komunikasi orang tua dengan anak: 12 antara ayah dengan anak, dan 2 antara ibu dengan anak. Bangunlah komunikasi yang baik agar anak betah di rumah,” jelasnya.
Ketiga, berikan keteladanan. “Tidak cukup hanya menyuruh anak salat, tetapi orang tua perlu mengajak mereka ke masjid,” tuturnya.
Keempat, kenali bakat dan kemampuan anak, serta jangan membandingkan dengan orang lain. Menurutnya, Allah menganugerahkan potensi dan bakat yang berbeda pada tiap manusia. Membandingkan justru menghilangkan rasa syukur dan bisa meretakkan keharmonisan keluarga.

Pulang dengan Ilmu dan Senyum
Pengajian keluarga sakinah diakhiri dengan suasana hangat. Para jemaah pulang bukan hanya membawa ilmu, tetapi juga sayur segar gratis yang disiapkan panitia. Semarak acara kian lengkap dengan bazar ibu-ibu Aisyiyah Balongbendo, yang turut menggerakkan roda ekonomi lokal.
Dengan gaya ceramah yang interaktif dan penuh humor, pengajian ini tidak hanya menambah wawasan tentang pentingnya keluarga sakinah, tetapi juga meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh jemaah yang hadir. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












