
Di hadapan ribuan guru TK, Bupati Gresik Gus Yani menegaskan beratnya tugas pendidik anak usia dini. Sebagai bentuk apresiasi, Pemkab Gresik mengalokasikan insentif Rp7 miliar untuk guru non-sertifikasi tahun ini.
Tagar.co – Peringatan HUT Ke-75 IGTKI-PGRI Kabupaten Gresik, Rabu (20/8/2025), berlangsung meriah. Ribuan guru taman kanak-kanak memadati gedung olahraga di pusat Kota Gresik, Jawa Timur.
Hadir di tengah keramaian itu, Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani bersama Bunda PAUD Gresik, Nurul Haromaini Ali Fandi Akhmad Yani, serta Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik, S. Hariyanto.
Baca juga: Ketua IGTKI Kabupaten Gresik Dukung Wajib Belajar 13 Tahun Dimulai dari TK
Dengan mengenakan kemeja putih sederhana dan celana blue jeans, Fandi Akhmad Yani—akrab disapa Gus Yani—tampak percaya diri berdiri di podium berhias lambang Garuda. Di belakangnya terpampang logo besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), menegaskan suasana resmi dan penuh khidmat.
Sesekali ia menyapa hadirin dengan gaya khasnya yang hangat, membuat ribuan guru yang hadir merasa dekat dengan sosok bupati muda tersebut. Gus Yani menyampaikan pandangan yang cukup menyentuh: beban guru TK justru lebih berat dibanding guru di jenjang SD, SMP, bahkan SMA.
“Murid SD, SMP, atau SMA bisa diajak berkomunikasi dengan mudah. Sementara guru TK benar-benar harus mampu menyesuaikan diri dan mengendalikan anak-anak usia dini,” ujarnya.
Menurutnya, seorang guru TK tidak hanya dituntut mengajar, tetapi juga menjaga suasana hati agar tetap ceria. “Gak boleh merengut ae (tidak boleh cemberut saja),” ucapnya sambil tersenyum.
Ia berpesan, anak-anak TK yang gemar melukis bisa jadi akan menggambar sosok gurunya. Karena itu, jangan sampai yang terekam di benak mereka adalah wajah guru yang suka mecucu (cemberut) atau ngamukan (marah-marah).

Tegas soal Bullying dan Kekerasan di Sekolah
Di hadapan ribuan guru, Gus Yani mengingatkan pentingnya menciptakan dunia pendidikan yang bebas dari perundungan. “Kita harus sepakat, tidak ada lagi korban bullying di sekolah,” tegasnya.
Ia mencontohkan, hal-hal yang sering dianggap sepele—seperti memanggil anak dengan nama orang tuanya, menyebut asal suku, atau bertanya wis sunat apa belum—justru bisa melukai perasaan anak. Karena itu, kebiasaan seperti itu harus dihentikan.
Lebih jauh, ia menekankan larangan keras terhadap kekerasan seksual di sekolah. “Mengajar itu harus dengan gembira. Ciptakan suasana aman dan nyaman, supaya sekolah menjadi tempat yang menyenangkan,” katanya.
Dengan nada serius namun bersahabat, Gus Yani juga menyinggung praktik kekerasan fisik di sekolah. “Adakah yang masih suka mencubit murid? Wis gak usum (sudah bukan zamannya),” ujarnya disambut gelak tawa peserta.
Ia berharap sekolah-sekolah PAUD dan TK di Gresik benar-benar menjadi tempat aman dan menyenangkan, sehingga anak usia dini bisa tumbuh sehat, kuat, dan penuh percaya diri.

Gelontorkan Rp7 Miliar untuk Insentif Guru
Selain pesan moral, Gus Yani juga membawa kabar gembira. Di hadapan para guru, ia mengumumkan adanya alokasi anggaran insentif senilai Rp7 miliar khusus bagi guru non-sertifikasi.
“Tadi Pak Hariyanto (Kepala Dinas Pendidikan) menyampaikan, tahun ini kita anggarkan Rp7 miliar untuk insentif guru IGTKI non-sertifikasi. Rencananya akan dinaikkan setiap dua tahun sekali, tentu dengan menyesuaikan kemampuan keuangan daerah,” ungkapnya.
Pengumuman ini langsung disambut tepuk tangan riuh dari ribuan guru yang hadir, menjadi bukti betapa kebijakan tersebut dinanti-nantikan.
Bupati Gresik periode 2025–2030 itu menutup sambutannya dengan semangat, mengajak seluruh pendidik anak usia dini untuk terus menebar senyum dan kasih sayang. “Mari kita jadikan sekolah sebagai rumah kedua yang penuh bahagia bagi anak-anak,” ujarnya. (#)
Jurnalis Nadhirotul Mawaddah Penyunting Mohammad Nurfatoni












