
Upacara kemerdekaan ke-80 RI di Pondok Pesantren Al Fattah Sidoarjo menjadi momentum menyalakan semangat perjuangan. Drs. K.H. Ainun Rofik menegaskan, tugas santri hari ini adalah menjaga kemerdekaan dari penjajahan ekonomi dan psikis dengan spirit Panca Jiwa Pondok.
Tagar.co – Pagi cerah menyambut halaman Pondok Pesantren Al-Fattah Sidoarjo yang dipadati barisan rapi para santri, asatiz, dan tenaga pendidik. Tepat pukul 07.00 WIB, upacara bendera digelar dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia. Nuansa khidmat dan semangat kebangsaan membalut setiap gerak langkah peserta.
Tampil sebagai pembina upacara, Drs. K.H. Ainun Rofik, M.Pd., Pimpinan Pondok Pesantren Al-Fattah, menyampaikan amanat yang menyentuh dan membakar semangat. Dia menegaskan bahwa kemerdekaan yang kita nikmati hari ini bukanlah hadiah, melainkan buah dari perjuangan panjang seluruh elemen bangsa, termasuk umat lintas agama.

“Contohlah Bung Tomo dari Surabaya,” tutur Kiai Ainun, sapannya, “dengan kalimat takbirnya yang membakar semangat para mujahid untuk melawan penjajah. Perjuangan mereka harus menjadi inspirasi kita hari ini.”
Namun, Kiai Ainun mengingatkan bahwa perjuangan belum usai. Meskipun penjajahan fisik telah berlalu, bangsa ini masih menghadapi penjajahan dalam bentuk lain—ekonomi dan psikis. Untuk itu, dia mengajak seluruh peserta menjaga kemerdekaan dengan mengamalkan nilai-nilai luhur Pancajiwa Pondok: ikhlas, mandiri, sederhana, ukhuwah islamiah, dan kebebasan.
“Dengan semangat ini, kita akan mampu membentuk generasi yang bertanggung jawab atas masa depan bangsa dan agama,” tambahnya.

Kiai Ainun juga mengajak semua pihak mempersiapkan diri menyongsong satu abad Indonesia merdeka. Visi besar untuk menjadikan Indonesia sebagai negara bersatu, berdaulat, rakyat sejahtera, dan maju, menurutnya, harus menjadi cita-cita bersama yang sejalan dengan arah pembangunan nasional dan daerah.
Sebelum doa menutup rangkaian upacara, suasana semakin menggelora ketika paduan suara Al-Fattah melantunkan lagu “Hari Merdeka”. Irama perjuangan yang menggema dari santri untuk negeri seolah mempertegas komitmen generasi muda pesantren: siap menjaga dan melanjutkan semangat kemerdekaan dengan ketangguhan dan integritas. (#)
Jurnalis Nur Djamilah Penyunting Mohammad Nurfatoni












