Feature

Egoisme: Penghalang Kearifan Hati

33
×

Egoisme: Penghalang Kearifan Hati

Sebarkan artikel ini
Ridwan Ma’ruf

Ego merupakan bagian diri, namun egoisme bisa menjerumuskan. Dari kisah Iblis hingga Kabil dan Habil, Islam mengajarkan tiga kunci kearifan hati.

Oleh Ridwan Ma’ruf; Anggota Majelis Pemberdayaan Wakaf Pimpinan Daerah Muhammadiya  (PDM) Kabupaten Sidoarjo, Pendiri Tahfiz Quran Islamic School Al-Fatih Sidoarjo, dan Praktisi Spiritual Parenting Sidoarjo.

Tagar.co – Ego adalah keyakinan yang berkaitan erat dengan prinsip, bakat, dan kemampuan seseorang. Ego juga bisa dikaitkan dengan harga diri atau rasa percaya diri.

Sedangkan egoisme adalah sifat berlebihan ketika seseorang hanya memikirkan diri sendiri, mengabaikan orang lain, dan hanya ingin menang sendiri. Bukankah egoisme inilah yang membuat Iblis terusir dari surga Allah Taala, sebagaimana firman-Nya dalam Al-A’raf 13:

قَالَ فَٱهۡبِطۡ مِنۡهَا فَمَا يَكُونُ لَكَ أَن تَتَكَبَّرَ فِيهَا فَٱخۡرُجۡ إِنَّكَ مِنَ ٱلصَّٰغِرِينَ

“Allah berfirman: ‘Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya; maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina.’”

Baca juga: Algoritma Ilahiah: Logika Balasan Allah atas Amal Manusia

Baca Juga:  Rindu Ramadan Terbalaskan dengan Puasa Syawal

Dan bukankah egoisme juga yang menjadikan Qabil membunuh Habil, adik kandungnya? Kisah ini diabadikan dalam Al-Maidah 28:

لَئِنۢ بَسَطتَ إِلَىَّ يَدَكَ لِتَقْتُلَنِى مَآ أَنَا۠ بِبَاسِطٍ يَدِىَ إِلَيْكَ لِأَقْتُلَكَ ۖ إِنِّىٓ أَخَافُ ٱللَّهَ رَبَّ ٱلْعَٰلَمِينَ

“Sungguh, kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seluruh alam.”

Dalam ayat tersebut terkandung makna bahwa Qabil adalah sosok pribadi yang lemah dan diliputi perasaan dendam. Sedangkan Habil, saat kejadian itu, telah mencapai puncak kearifan hati (irfani). Hal itu dibuktikan dengan ucapannya yang begitu bijak: “Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seluruh alam.”

Dari kisah di atas, setidaknya ada tiga ciri orang yang mencapai kearifan hati, yaitu:

1. Mudah Menerima Nasihat Kebaikan

Nabi Saw. bersabda:

اِسْتَفْتِ قَلْبَكَ، الِبِرُّ مَا اطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ، وَاطْمَأَنَّ إِلَيْهِ القَلْبُ، وَالإِثْمُ مَا حَاكَ فِي النَّفْسِ، وَتَرَدَّدَ فِي الصَّدْرِ، وَإِنْ أَفْتَاكَ النَّاسُ وَأَفْتَوْكَ

“Mintalah fatwa kepada hatimu. Kebajikan adalah sesuatu yang membuat jiwa merasa tenang dan hati tenteram kepadanya. Sedangkan dosa adalah sesuatu yang mengganjal di hatimu dan menimbulkan keraguan, meskipun manusia memberi fatwa kepadamu.” (Hadis hasan, diriwayatkan dalam Musnad Imam Ahmad dan Ad-Darimi)

Baca Juga:  NKRI Harga Mati, Teringat Fikih Dakwah dan Mosi Integral Natsir

Meskipun hadis ini menekankan pentingnya meminta nasihat dari hati, bukan berarti kita tidak boleh meminta pendapat orang lain. Namun, keputusan akhir dan pertanggungjawaban tetap berada pada diri sendiri.

2. Jujur dalam Berpikir dan Bertindak

Nabi Saw. bersabda:

دَعْ مَا يُرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يُرِيبُكَ

“Tinggalkan apa yang meragukanmu dan beralihlah kepada apa yang tidak meragukanmu.” (H.R. at-Tirmizi dan An-Nasai. At-Tirmizi berkata: “Hadis hasan sahih)

Hadis ini menganjurkan untuk tidak terjebak dalam keraguan atau kebimbangan. Jika ada suatu hal yang membuat ragu, sebaiknya ditinggalkan dan memilih hal yang pasti.

3. Mudah Memberikan dan Meminta Maaf
Islam menekankan pentingnya sifat pemaaf. Memaafkan kesalahan orang lain adalah perbuatan mulia, sementara meminta maaf adalah tanda kerendahan hati dan kesadaran diri. Firman Allah dalam Al-A’raf 199:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

Artinya: “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.”

Ayat di atas juga mengandung makna bahwa meminta maaf adalah akhlak yang amat mulia dan harus dimiliki setiap muslim. Wallahualambisawab. (#)

Baca Juga:  Wali Allah atau Wali Setan?

Pemyunting Mohammad Nurfatoni