
Takziah virtual mengenang Abdul Rosyad Sholeh mengungkap sosoknya yang sederhana, berani, dan jujur. Amien Rais menyebutnya sebagai konstitusi berjalan yang mewariskan semangat IMM dalam bingkai keikhlasan.
Tagar.co — Duka mendalam menyelimuti keluarga besar Forum Keluarga Alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (Fokal IMM) atas wafatnya Abdul Rosyad Sholeh, Ketua Umum DPP IMM periode 1975–1978. Sebagai bentuk penghormatan, takziah virtual digelar pada Ahad (3/8/2025), menghadirkan tokoh-tokoh sentral Muhammadiyah yang mengenang sosoknya.
Salah satunya, Prof. Dr. H. M. Amien Rais, M.A., yang hadir memberikan testimoni tentang kedekatannya dengan almarhum. Ia mengenang masa-masa awal menginisiasi pembentukan IMM, di mana Abdul Rosyad Sholeh menjadi figur sentral yang menonjol dalam kesederhanaan, keberanian, dan kejujuran.
“Beliau itu tokoh yang sangat ikhlas dan sederhana, sekaligus lapang dada,” ujar Amien Rais. Ia mengisahkan bahwa dalam setiap perbedaan pandangan, Abdul Rosyad selalu bersikap terbuka. “Kalau merasa keliru kemudian dibenarkan, dia akan berterima kasih. Tapi kalau misalnya saya atau Mas Yahya Muhaimin keliru, ditegur pun kami juga berterima kasih,” kenangnya.
Baca juga: Mengenang Abdul Rosyad Sholeh, Din Syamsuddin: Konstitusi Berjalan Muhammadiyah
Amien Rais, bersama Abdul Rosyad Sholeh, Sudibyo Markus, Djazman Al-Kindi, dan Yahya Muhaimin, adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah berdirinya IMM sebagai organisasi otonom Muhammadiyah. Salah satu kisah menarik yang dibagikannya adalah tentang pemilihan warna jaket kebanggaan IMM.
“Muhammadiyah simbolnya hijau, Aisyiyah hijau, Hizbul Wathan juga hijau. Lalu saya bilang, mengapa tidak ada merah? Supaya adil, karena semua warna itu dari Allah. Jangan sampai warna merah hanya didominasi golongan tertentu,” tutur Amien Rais, mengenang diskusi tersebut.
Keputusan memilih jaket merah untuk IMM saat itu, lanjutnya, memang terkesan aneh di tengah dominasi warna hijau di lingkungan Muhammadiyah. Namun, hal itulah yang kemudian menjadi ciri khas IMM hingga sekarang.
Amien Rais pun menceritakan pertemuan terakhirnya dengan Abdul Rosyad Sholeh. “Saya betul-betul terharu, karena waktu jenguk beliau memang agak lemah, tapi wajahnya masih bersinar. Mudah-mudahan di alam barzakh, Allah mengampuni, memberikan rahmat, memaafkan, dan memuliakan beliau dari dunia yang fana ini menuju alam baka,” ucapnya penuh haru.
Dalam tausiyahnya, Amien Rais mengingatkan bahwa setiap yang bernyawa pasti akan menemui maut. Ia mengutip pesan Al-Qur’an yang mengajarkan pentingnya mengingat kematian sebagai cara menahan syahwat dan hawa nafsu. “Semakin sering ingat bahwa kita akan mati, maka kita akan bisa mengerem syahwat kita sebagai manusia,” pesannya.
Ia juga mengajak untuk memelihara kebiasaan bangun sebelum subuh guna melaksanakan qiyamul lail, lalu menunggu subuh dengan berdoa agar senantiasa diberi hidayah dan rahmat dari Allah. “Nashrun minallah adalah hal yang perlu kita mohonkan kepada Allah,” tuturnya.
Takziyah virtual tersebut menjadi momen penuh hikmah, mengenang sosok yang bukan hanya pemimpin, tetapi juga sahabat sejati dalam perjuangan. Abdul Rosyad Sholeh, bagi mereka yang mengenalnya dekat, adalah “konstitusi berjalan” Muhammadiyah—teguh dalam prinsip, sederhana dalam sikap, dan jujur dalam tindakan. (#)
Jurnalis Nadhirotul Mawaddah Penyunting Mohammad Nurfatoni












