
Ketika dua pria bernama serupa, Mohammad Fathoni dan Mohammad Nurfatoni, bertemu di laboratorium komputer SD Muhammadiyah 1 GKB Gresik, ilmu coding dan semangat pun berpadu.
Tagar.co — Guru Coding SD Muhammadiyah 1 GKB Gresik (Mugeb Primary School), Mohammad Fathoni, S.Pd, atau akrab disapa Toni, sedang mengajar di laboratorium komputer, Selasa (29/7/2025). Toni memberikan contoh dari komputer guru dan menyorotkannya ke layar proyektor. Seketika, 31 siswa kelas V Cut Nyak Din pun fokus menatap layar komputer masing-masing.
Di tengah proses belajar mengajar yang intens tersebut, dua juri Lomba Lingkungan Sekolah Muhammadiyah Sehat (LLSMS), Mohammad Nurfatoni dan Tatik Erawati, masuk ke ruangan. Fatoni dan Tatik, sapaan akrab mereka, langsung tertarik melihat proses pembelajaran di laboratorium canggih yang bersih itu.
Siapa sangka, momen penjurian ini mempertemukan dua pria yang memiliki nama serupa. Melihat anak-anak menyusun algoritma coding di layar masing-masing, Fatoni tertarik mendekat. Toni menjelaskan bahwa saat itu ia mengampu mata pelajaran coding.
“Kita membuat gim. Ada rintangan, karakter lompat melewati rintangan. Kalau berhasil, skor bertambah. Kalau terkena rintangan, gagal, berhenti. Tiap level rintangannya berbeda,” terang Toni.
Sejak 2023, Toni mengabdi di Mugeb sebagai asisten. Lulusan PGSD UMG ini kini menjabat Koordinator OST sekaligus guru Coding kelas 3-5. Pengalaman ini sejalan dengan latar belakang pendidikannya, yakni lulusan SMK Negeri 5 Samarinda jurusan teknik komputer dan jaringan.
Baca Juga: Inovasi Pamarsasi dan Kotak Insaf Jadi Sorotan di LLSMS

Logika Runtut Melahirkan Kreativitas
Pria asal Balongpanggang, Gresik, itu menambahkan, proses membuat permainan coding ini tergolong panjang. Proyek ini membutuhkan 3-4 pertemuan. “Satu pertemuan terdiri dari 2 jam pelajaran, jadi total 70 menit,” ujarnya.
Fatoni yang penasaran bertanya lebih lanjut tentang cara membangun logika siswa dalam pelajaran ini. Toni menjelaskan bahwa pelajaran ini melatih komputasional.
“Artinya, siswa harus berpikir sesuai ilmu komputer, runtut. Biasanya saya mengawali dengan mengajak mereka mengingat kembali, bagaimana agar tidak terlambat ke sekolah, menjelaskan langkah-langkah secara rinci mulai dari bangun pagi sampai ke sekolah. Nah, sama seperti gim ini. Cara membuatnya harus runtut,” jelas Toni.
Fatoni mengangguk-angguk, fokus menyimak penjelasan Toni. Ia mengaitkan cara membangun logika siswa dengan keseharian yang kontekstual. Meskipun menggunakan aplikasi Scratch gratis, Toni meyakinkan semua fitur di aplikasi tersebut dapat mereka gunakan.
“Ini muatan lokal, termasuk intrakurikuler. Kami terapkan sejak 5 tahun yang lalu untuk kelas III-VI. Kalau kelas VI pakai Thinker,” ungkap Toni. Sementara itu, Tatik memperhatikan bagaimana sebagian siswa memasang bahasa codingnya secara runtut.
Fatoni pun bertanya lebih dalam terkait materi pelajaran coding. “Bisa mengajari saya?” tanya Fatoni sambil tersenyum hangat.
“Pakai bahasa coding dasar. Ada menu gerakan dan tampilan, tinggal ditarik lalu dipasangkan di sini. Kalau tidak urut sesuai perintah, tidak berhasil,” terang Toni sambil mempraktikkan dari komputernya.
Fatoni juga tertarik dengan layar komputer salah satu siswa yang tampak berbeda karena sedang menambahkan musik. Fatoni langsung berminat mencoba mendengarkan dengan memakai headphone.
Baca Juga: Tinjau Mugeb, Juri LLSMS Nostalgia Mengajar Biologi
Perbedaan Kurikulum
Adapun perbedaan kurikulum yang lama dengan yang baru tak luput dari pertanyaan Fatoni. Toni menjelaskan, “Sebelumnya, langsung praktik. Yang baru, kami arahkan pola pikir anak terlebih dahulu supaya berpikir kritis.”
Fatoni berkomentar, “Sebelumnya sudah bagus, ya, langsung praktik. Lanjutkan saja!”
Lebih lanjut, Toni mengungkapkan bahwa di laboratorium itu tersedia 36 komputer yang dapat siswa gunakan dalam proses belajar. Jumlah ini melebihi jumlah siswa pada setiap kelas. Melihat jajaran komputer lengkap dengan perangkatnya, Fatoni menyarankan agar sekolah menyumbangkan komputer lama ke sekolah lain yang membutuhkan.
“Rencananya komputer lama mau ditaruh di ruang lain atau di kelas. Untuk admin kelas,” ujarnya.
Untuk tugas akhir semester, siswa membuat sendiri gim tanpa melihat petunjuk tahap demi tahap di modul. Terkait luaran dari pembelajaran ini, Toni menjelaskan, “Hasil yang bagus juga kami pamerkan saat gelar karya di Iconmall.”
“Saya dikirimi, ya, tautannya,” pinta Fatoni. Ia penasaran bagaimana memainkan gim hasil karya siswa SD. Fatoni juga mengapresiasi Toni yang memakai kopiah dari sekolah dengan logo Muhammadiyah di sisi kanan. “Ini kopiah persatuan!” ungkapnya.

Membangun Lingkungan dan Karakter
Di akhir kunjungan, tim juri memberikan motivasi kepada pimpinan Mugeb Primary School. “LLSMS adalah bagian dari upaya menjadikan sekolah Muhammadiyah nyaman, bersih, dan rindang,” ujar Fatoni.
“Kantin sehat itu manfaatnya jangka panjang. Kesehatan anak itu proses. Lingkungan memengaruhi dalam proses panjang. Itu juga bagian dari kontribusi kita pada alam yang secara tidak langsung bisa berpengaruh,” imbuh alumnus FMIPA IKIP Surabaya itu.
“GKB sebagai sekolah favorit yang besar, dari PWM Jatim sudah Outstanding, dari PP sudah Unggul Utama. Jadi harus didukung semua sebagai bagian dari sistem yang harus dibudayakan. Mudah-mudahan semakin baik,” lanjut anggota Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Gresik ini.
“Memang muridnya banyak, gedungnya luas. Itu amanah yang harus kita syukuri dengan merawat dan membuat semakin bagus,” tutupnya. (#)
Jurnalis Sayyidah Nuriyah Penyunting Mohammad Nurfatoni












