Rileks

Menganyam Ketupat Tulak Bala di Rooftop Kelotok, Cara Asyik Menikmati Senja

51
×

Menganyam Ketupat Tulak Bala di Rooftop Kelotok, Cara Asyik Menikmati Senja

Sebarkan artikel ini
Menikmati senja di Sungai Sekonyer, wisatawan ikut belajar menganyam ketupat tulak bala dari Acil Masnih di rooftop kelotok. Akhirnya terpecahkan perbedaan cara menganyam ketupat laki-laki dan perempuan.
Tiga peserta rombongan open trip berguru pada Acil Masnih cara menganyam ketupat tulak bala di atas kelotok, Sabtu (28/6/2025) sore. (Tagar.co/Rusmin)

Menikmati senja di Sungai Sekonyer, wisatawan ikut belajar menganyam ketupat tulak bala dari Acil Masnih di rooftop kelotok. Akhirnya terpecahkan perbedaan cara menganyam ketupat laki-laki dan perempuan.

Tagar.co – Di tengah perjalanan sore hari kedua, kelotok kami melaju perlahan. Perahu kayu berukuran sedang yang dilengkapi mesin ini membelah arus Sungai Sekonyer di Taman Nasional Tanjung Puting, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, yang meliuk-liuk. Sebut saja Amazonnya Indonesia.

Langit yang semula terang perlahan memudar, Sabtu (28/6/2025). Cahaya mentari menipis, menyelinap pamit malu-malu di balik awan dan rimbunnya pepohonan. Tepi sungai kanan dan kiri menjadi lebih gelap, tapi justru di sanalah keajaiban terjadi.

Siluet-siluet pohon mulai terlihat tegas, seolah Allah melukisnya dengan tinta arang di atas kanvas jingga bercampur biru muda. Adapun di depan kelotok kami, terhampar cermin alam: permukaan sungai yang tenang, memantulkan kanvas langit dan pucuk pepohonan.

Ujung sungai berkelok seperti ular yang menggeliat lembut. Permukaaan airnya seolah sempit, sebab diapit tanaman invasif yang tumbuh liar—tidak dirancang, tapi sempurna menghiasi sebagian permukaan sungai.

Kebetulan yang tergabung di kelotok open trip ini ada sebelas wisatawan, termasuk saya. Mayoritas kami masih kerasan duduk di rooftop kelotok. Embusan angin sore menyapu wajah pelan namun konsisten. Sungguh kesegaran yang jarang saya temui di kota industri tempat saya tinggal: Gresik, Jawa Timur.

Baca Juga:  Membaca Al-Qur’an Isyarat: Ramadan Inklusif di Baitul Insan Nur

Sore itu, meski kian gelap, sungai sepanjang 45 kilometer tersebut masih panjang untuk kelotok kami susuri. Pepohonan tinggi menjulang menemani perjalanan.

Masyaallah, Allahuakbar. Tiap mendongak di atas sana, flora dan fauna tampak harmonis saling berbagi rumah. Ada anggrek, pakis, burung-burung kecil dengan suara melengking nyaring… bak melodi hutan yang memesona.

Menikmati senja di Sungai Sekonyer, wisatawan ikut belajar menganyam ketupat tulak bala dari Acil Masnih di rooftop kelotok. Akhirnya terpecahkan perbedaan cara menganyam ketupat laki-laki dan perempuan.
drg. Anissa Wiranti berguru pada Acil Masnih cara menganyam ketupat tulak bala di atas kelotok, Sabtu (28/6/2025) sore. (Tagar.co/Sayyidah Nuriyah)

Kelas Menganyam Dadakan

Tiba-tiba, Acil (Bahasa Banjar untuk tante) Masnih datang ke rooftop, lantai 3. Beliau duduk lesehan. Jemarinya terampil mengiris daun Nipah. Ia berencana membuat ketupat tulak bala.

Kami langsung mengelilinginya. Rasanya haus ilmu. Ingin belajar langsung dari wanita berpengalaman menganyam itu. Rooftop kelotok seketika berubah menjadi kelas privat menganyam.

Awalnya, Acil Masnih menerangkan maksud nama ketupat tersebut yang unik. Harapan besar mengiringi pembuatannya. “Semoga kita jalan ke mana pun tidak ada halangan,” katanya. Ini bagian dari tradisi memperingati tahun baru Islam 1 Muharram.

Lebih lanjut ia menjelaskan, isian ketupat itu terbuat dari beras ketan yang direbus pakai santan. Saya langsung bersorak, “Wah, kayaknya saya tahu menu makan malam kita nanti!”

Baca Juga:  Ujian Sabar di Balik Cantiknya Tumpeng Meriah Penuh Garnish

Acil Masnih pun meluruskan, waktunya tak cukup jika sore itu juga memasak ketupat. Perlu waktu berjam-jam mengukusnya.

Nenek tiga cucu yang awet muda itu lantas bercerita, ada dua jenis ketupat. Yakni laki-laki dan perempuan. “Saat ada hajatan, ketupat wajib diberikan sepasang, laki-laki dan perempuan,” terangnya.

Dari buah nipah, sambung Acil Masnih, bisa juga membuat makanan seperti kolang-kaling.

Eksperimen Ketupat Laki dan Perempuan

Acil Masnih memandu empat peserta yang berminat ikut kelas menganyam gratis itu. Mulai dari melipat daun hingga membentuk angka delapan, menumpuknya, lalu memasukkan ujungnya hingga saling bersilangan.

Erika Setiono, salah satu peserta open trip, menjadi murid yang tercepat dalam belajar menganyam. “Cepat sekali bisa,” puji Acil Masnih sambil membenarkan anyaman ketupat lainnya.

“Saya pernah bantu Mbak bikin ketupat di rumah,” ungkap Erika Setiono ramah.

Ia pun penasaran menganalisis perbedaan ketupat laki-laki dan perempuan dengan beberapa kali uji coba. Dari beberapa percobaan, akhirnya Erika berhasil menyimpulkan, Ketupat Perempuan dibuat dengan cara menumpuk daunnya searah. Sedangkan Ketupat Laki-laki, dibalik arah daun nipahnya saat ditumpuk.

Menikmati senja di Sungai Sekonyer, wisatawan ikut belajar menganyam ketupat tulak bala dari Acil Masnih di rooftop kelotok. Akhirnya terpecahkan perbedaan cara menganyam ketupat laki-laki dan perempuan.
Senja di Sungai Sekonyer, Sabtu (28/6/2025).

Dari Alam untuk Alam

Acil Masnih perempuan tangguh. Belajar menganyam dari sang ibu sejak kecil, ibu lima anak itu kalau sedang tak ada wisatawan, tetap memilih bekerja halal. “Ya mencuci, mengepel, membantu orang lain, menjaga warung di pelabuhan,” urainya sambil terus mengiris tipis daun Nipah kering sebagai bahan dasar ketupat.

Baca Juga:  Ramadan, Saatnya Reset Hubungan dengan Al-Qur'an

Suatu waktu, katanya, ia menganyam tas dari daun nipah untuk oleh-oleh tamu bule di trip sebelumnya. Niatnya hanya memberi, tapi seorang wisatawan asing bersikukuh,

“Kami bayar saja!”

“Saya baru tahu kalau sudah dapat nipahnya. Kalau tahu dari kemarin, sudah saya buatkan anyaman juga,” imbuhnya.

Satu-satunya kru kapal wanita yang bertugas memasak itu juga pernah menerima pesanan membuat seribu bakul nipah untuk suvenir pernikahan. Hebat, ya!

Acil asli Dayak. Lahir dan besar di Kampung Tanjung Harapan. Ia hidup dari alam. Tapi juga hidup untuk alam. Pengalamannya menjadi guru bagi kami rombongan open trip, terutama saya yang baru belajar menganyam ketupat tulak bala.

Masih teringat jelas pesannya usai kami berhasil mengikuti arahannya yang kesekian kali. “Nanti kalau sudah di rumah, coba buat lagi ketupat ya,” pesannya sambil tersenyum ramah.

Untuk kesekian kalinya, syukur saya panjatkan. Sebab banyak bonus edukasi dalam healing kali ini. (#)

Jurnalis Sayyidah Nuriyah Penyunting Mohammad Nurfatoni